Sanksi, Serangan, dan Chaos:
Bagaimana Perang AS-Iran Mengguncang Ekonomi Global yang Sudah Rapuh

Dunia belum selesai bernapas dari tekanan tarif Trump, belum sembuh dari luka pandemi, dan belum lepas dari bayang-bayang resesi, lalu tiba-tiba, pada 28 Februari 2026, bom-bom AS dan Israel menghantam Teheran. Dalam hitungan jam, ekonomi global yang sudah berjalan di atas fondasi retak itu kini benar-benar mulai retak.

Bukan Tiba-Tiba: Ini Hasil dari Tahun-Tahun Sanksi

Perang ini tidak muncul dari langit. Ini adalah puncak dari strategi yang sudah dijalankan bertahun-tahun. Amerika Serikat, di bawah Presiden Trump, memberlakukan kembali kebijakan “maximum pressure” terhadap Iran memotong ekspor minyak, membekukan akses ke sistem perbankan global SWIFT, dan mengisolasi Iran dari pasar dunia. Hasilnya? Menteri Keuangan AS Scott Bessent dengan lantang membanggakan: “Ekonomi mereka kolaps. Kami berhasil membuat Iran bangkrut lagi.”

Dan memang benar: sebelum peluru pertama ditembakkan, Iran sudah dalam kondisi kritis. Inflasi tahunan mendekati 60%, nilai rial anjlok dari 42.000 menjadi lebih dari 1,1 juta per dolar AS, dan 57% warga Iran dilaporkan mengalami kekurangan gizi. Ketika protes besar meletus di 31 provinsi pada Desember 2025, pemerintah Iran merespons dengan kekerasan yang menewaskan hingga 36.500 orang menurut beberapa perkiraan. Itu semua terjadi sebelum serangan militer dimulai.

Serangan Dimulai: Pasar Langsung Panik

Pagi 28 Februari 2026, jet-jet tempur AS dan Israel melancarkan operasi yang diberi nama “Operation Epic Fury” menghantam infrastruktur militer Iran, termasuk serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Iran membalas seketika: rudal dan drone ditembakkan ke Qatar, UEA, Kuwait, Bahrain, dan Arab Saudi. Bandara Dubai Internasional -salah satu tersibuk di dunia -lumpuh akibat serangan drone.

Reaksi pasar global tidak butuh waktu lama. Dow Jones Industrial Average langsung jatuh lebih dari 400 poin pada 2 Maret. Indeks Nikkei 225 Jepang ambruk lebih dari 7%. Harga minyak Brent yang semula sekitar $70 per barel melonjak menembus $80, lalu $100, lalu $114, dan pada 8 Maret 2026, harga minyak mentah sudah menyentuh $115 per barel. Belum ada yang tahu kapan ini berhenti.

Ekonomi Global yang Sudah Lelah, Dipukul Lagi

Yang membuat situasi ini berbahaya bukan hanya perangnya, tetapi juga kondisi ekonomi dunia sebelum perang ini meletus. AS sudah bergulat dengan inflasi yang belum sepenuhnya jinak, perang tarif dengan China yang menekan rantai pasok global, dan kekhawatiran resesi yang terus membayangi. Eropa juga tidak lebih baik, dengan pertumbuhan stagnan dan krisis energi yang berulang.

Ketika Qatar, produsen LNG terbesar di dunia, menghentikan produksi setelah fasilitas Ras Laffan-nya diserang, harga gas alam ikut melonjak. Perusahaan pelayaran menghindari Selat Hormuz dan Laut Merah, memaksa kapal-kapal memutar lewat Tanjung Harapan di Afrika yang menambah waktu pengiriman berminggu-minggu dan biaya ratusan ribu dolar per perjalanan. Efek dominonya sampai ke harga barang di supermarket kita.

Siapa yang menang, siapa yang kalah?

Oxford Economics menyimpulkan dengan dingin: Iran tidak bisa menang secara militer. Tapi Iran bisa menginfliksi kerusakan ekonomi yang sangat nyata ke dunia dengan satu cara: mempertahankan gangguan pada aliran minyak Teluk Persia selama mungkin. Dan itulah yang sedang dilakukannya.

Pemenang sementara dari situasi ini justru negara-negara produsen minyak di luar Teluk Persia-Rusia, Amerika Serikat, Norwegia, dan negara OPEC+ di Afrika karena harga minyak tinggi menguntungkan mereka. Sektor pertahanan dan dirgantara juga ikut menikmati lonjakan saham. Tapi bagi miliaran orang biasa di Asia, Afrika, dan Eropa? Tagihan energi naik, harga pangan merangkak, dan ketidakpastian ekonomi semakin tebal.