Perang di Teluk Persia, Pusing di Asia:
China, India, dan Jepang Terancam Krisis Energi Terbesar Dekade Ini

55 kapal berbendera China terapung tak bergerak di dalam Teluk Persia. 38 kapal India terjebak di kawasan yang sama. Di Seoul, harga bensin melonjak 20% hanya dalam tujuh hari. Di Tokyo, Nikkei ambruk lebih dari 7%. Di Jakarta, harga solar industri mulai merangkak naik. Tidak satu pun dari negara-negara ini yang ikut berperang tapi semuanya merasakan pukulannya secara langsung, keras, dan nyata.

Satu Selat untuk Semua

Ada kelemahan besar yang selama ini tersembunyi di balik gemerlap pertumbuhan ekonomi Asia: lebih dari 80% minyak dan LNG yang melintas di Selat Hormuz berakhir di pasar Asia. China mengimpor hampir 6 juta barel per hari dari kawasan Teluk. India mendapat 60% kebutuhan minyaknya dari sana. Jepang? Hampir 95% dari seluruh konsumsi minyaknya adalah impor dan sebagian besar melewati Selat Hormuz.

Ketika Iran secara resmi menutup Selat Hormuz pada 28 Februari 2026 sebagai balasan atas serangan militer AS dan Israel ke Teheran, lalu lintas kapal di selat itu langsung turun hampir ke nol. Lebih dari 200 kapal terjebak di dalam Teluk, 150 lainnya mengantre di luar dan tidak berani masuk. Harga asuransi pengiriman melonjak drastis. Tanpa asuransi, tidak ada kapal komersial yang secara hukum bisa memasuki kawasan itu. Satu selat ditutup, dan seluruh Asia mulai kehabisan napas.

China: Raksasa yang Lebih Siap, tapi Tidak Kebal

Di antara semua negara, China paling lantang menuntut selat segera dibuka namun ironinya, kapal-kapalnya sendiri pun tidak berani masuk. Sebagai importir minyak terbesar di dunia, sekitar 40% impor minyak China melewati Hormuz. China merespons cepat: pemerintah memerintahkan kilang-kilang terbesarnya menghentikan ekspor solar dan bensin demi mengamankan pasokan dalam negeri.

Namun China punya penyangga yang tidak dimiliki negara lain: cadangan strategis besar, jalur pipa minyak darat dari Rusia, dan puluhan juta barel minyak Iran yang sedang “parkir” di kapal-kapal tanker lepas pantai Malaysia menunggu pengiriman. Analis menyebut China “terekspos besar, tapi punya fleksibilitas yang cukup untuk bertahan beberapa bulan.”

India dan Korea: Dua Kejutan Sekaligus

India berada dalam tekanan paling kompleks. Para analis menyebutnya dual shock: harga minyak naik karena gangguan fisik pasokan, sekaligus harga LNG ikut terkerek karena kontraknya mengikuti harga Brent. Dua pukulan datang bersamaan. India sudah berpaling kembali ke minyak murah Rusia sebagai langkah darurat, sebuah pilihan pragmatis yang mencerminkan betapa tertekannya New Delhi. Defisit neraca berjalan India diprediksi makin melebar tajam.

Korea Selatan justru berada di posisi paling genting. Cadangan LNG Korea hanya cukup untuk dua hingga empat minggu ke depan. Impor minyak bersih Korea setara 2,7% dari PDB-nya, salah satu rasio tertinggi di dunia. Tidak seperti China yang bisa berpaling ke Rusia, Korea tidak punya jalur alternatif yang kuat. Harga bensin di Seoul naik 20% dalam seminggu, dan pemerintah sudah mulai menerapkan pembatasan konsumsi energi di sektor industri.

Asia Tenggara: Kena Getah Tanpa Ikut Berperang

Dampak terdiam-diam justru dirasakan di Asia Tenggara. Qatar – penyuplai 45% LNG Singapura dan 28% LNG Thailand – sudah mendeklarasikan force majeure dan menghentikan semua pengiriman sejak fasilitasnya diserang drone Iran. Thailand langsung melarang ekspor bahan bakar untuk mengamankan pasokan domestik. Filipina dan Bangladesh menghadapi ancaman pemadaman listrik karena pembangkit gas mereka mulai kehabisan bahan bakar.

Kapal-kapal kontainer yang biasa melintas Selat Hormuz kini terpaksa memutar lewat Tanjung Harapan di ujung Afrika, menambah 10 hingga 14 hari waktu pengiriman dan biaya ratusan ribu dolar per perjalanan. Biaya itu pada akhirnya berakhir di harga barang-barang yang kita beli di pasar.