Foto: Dokumentasi pribadi

Warna merupakan salah satu elemen dasar yang sangat mempengaruhi kehidupan umat manusia. Dalam dunia desain dan seni, pengaruh warna sangat besar dalam menentukan arah pesan visual baik dari segi emosional dari keputusan bidang seni murni tanpa latar belakang alasan keilmuan, sampai ke ranah politik sekalipun.

Secara alamiah umat manusia terlahir dengan dibekali lima panca indera yang mendasar dan sempurna, salah satunya adalah panca indera kita yang memiliki kemampuan menangkap visual secara nyata dan keseluruhan, yakni mata. Indera melihat kita satu ini dapat menangkap pengaruh-pengaruh yang hadir dalam lingkungan kehidupan kita.

Apabila terekam dalam bentuk bidang yang terhenti, dapat diproyeksikan dan dikaryakan dalam bentuk misalnya foto, film, dan karya-karya seni ataupun desain, hingga desain terapan yang semakin berkembang hingga saat ini, dapat dilihat begitu besarnya pengaruh sebuah karya dengan warna ataupun tanpa warna. Apalagi dibentuk lebih detail dengan komposisi warna yang lebih rumit.

Warna merah adalah salah satu warna tertua yang digunakan manusia dan memiliki sejarah panjang dalam berbagai budaya dan peradaban.

  1. Merah dalam Zaman Prasejarah

Merah adalah salah satu warna pertama yang digunakan manusia dalam seni gua. Pigmen merah dari oker telah ditemukan dalam lukisan gua yang berusia lebih dari 40.000 tahun, seperti yang ditemukan di Lascaux, Prancis.

  1. Merah dalam Peradaban Kuno
  • Mesir Kuno: Merah melambangkan kehidupan, kematian, dan perlindungan. Warna ini digunakan dalam ritual keagamaan dan juga dalam hieroglif.
  • Romawi Kuno: Merah dikaitkan dengan kekuatan, keberanian, dan status sosial. Kaisar Romawi sering mengenakan jubah merah sebagai tanda kekuasaan.
  • Tiongkok Kuno: Warna merah dianggap membawa keberuntungan dan kebahagiaan. Sampai sekarang, merah tetap menjadi warna utama dalam perayaan Tahun Baru Imlek dan pernikahan Tionghoa.
  1. Merah dalam Abad Pertengahan dan Renaisans

Pada Abad Pertengahan, merah sering digunakan dalam jubah bangsawan dan gerejawi. Pigmen merah yang mahal, seperti kermes dan vermilion, digunakan oleh pelukis untuk menciptakan warna yang mencolok dalam seni religius dan potret kerajaan.

  1. Merah dalam Dunia Modern
  • Politik: Merah telah menjadi warna revolusi dan perjuangan, seperti dalam komunisme dan sosialisme.
  • Mode dan Budaya Populer: Warna merah sering diasosiasikan dengan keberanian, cinta, dan gairah. Dalam mode, gaun merah dianggap sebagai simbol kepercayaan diri dan daya tarik.

Dari zaman kuno hingga modern, warna merah tetap memiliki makna yang kuat dalam berbagai aspek kehidupan manusia, baik dalam seni, budaya, politik, maupun psikologi.

Lebih jauh lagi jika kita menghubungkan jenis warna dan konteksnya ke dalam ranah psikologi, tentunya dapat kita gali juga dengan semiotika. Karena Warna memiliki makna yang kaya dalam psikologi dan semiotika, dan jika kita pilih warnanya yakni warna merah, tentunya akan sangat erat kaitannya pada perayaan bulan kasih sayang seperti Hari Valentine.

Secara semiotika, merah berfungsi sebagai tanda yang membawa makna tertentu dalam berbagai konteks budaya. Dalam perayaan Hari Valentine, merah tidak hanya mewakili cinta dan gairah, tetapi juga berfungsi sebagai penanda visual yang kuat untuk menarik perhatian dan mengekspresikan emosi yang mendalam. Penggunaan warna ini dalam dekorasi, hadiah, dan pakaian membantu memperkuat pesan kasih sayang yang ingin disampaikan.

Dengan demikian, warna merah memainkan peran penting dalam mengkomunikasikan perasaan dan makna, baik melalui aspek psikologis maupun simbolisnya, terutama dalam konteks perayaan kasih sayang seperti Hari Valentine.

Oleh: Citra Fadillah – Prodi DKV BINUS @Medan