{"id":432,"date":"2022-07-18T20:38:28","date_gmt":"2022-07-18T13:38:28","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/?p=432"},"modified":"2022-07-18T20:38:28","modified_gmt":"2022-07-18T13:38:28","slug":"brand-evangelist-apakah-itu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/2022\/07\/18\/brand-evangelist-apakah-itu\/","title":{"rendered":"Brand Evangelist, Apakah Itu?"},"content":{"rendered":"<p>Istilah <em>brand evangelist<\/em> bukan merupakan hal yang asing dalam dunia <em>brand<\/em> dan <em>marketing<\/em>. <em>Evangelist<\/em> dalam konteks marketing berkaitan dengan strategi <em>word-of-mouth<\/em> untuk sebuah <em>brand<\/em>. Seperti yang kita pahami, <em>word-of-mouth<\/em> merupakan strategi pemasaran yang mengandalkan perkataan atau tulisan dari pelanggan suatu produk atau jasa yang disebarluaskan melalui media.<\/p>\n<p>Di era media sosial saat ini, konsep <em>word-of-mouth<\/em> juga berlaku di internet yang biasa disebut e-wom. Konsumen dapat dengan mudah menulis informasi dan pesan terhadap suatu <em>brand<\/em> atau produk dan jasa yang mereka gunakan di berbagai platform media sosial maupun <em>website<\/em>. Informasi tersebut dapat berupa hal positif maupun negatif. Jika informasi atau <em>review<\/em> yang disampaikan positif, maka <em>brand<\/em> akan mendapat keuntungan, namun jika <em>review<\/em>-nya negatif, maka sebaliknya, citra <em>brand<\/em> dapat tercoreng jika tidak ditangani.<\/p>\n<p><em>Evangelism<\/em> dalam strategi marketing dapat dideskripsikan sebagai teknik dari suatu perusahaan untuk memotivasi pelanggan mereka untuk menyebarkan \u2018<em>good message\u2019<\/em> dari <em>brand<\/em> (Sajoy, 2018). Dengan kata lain, <em>evangelism<\/em> merujuk ke aktivitas penyebarluasan pesan positif dari suatu <em>brand<\/em> yang dilakukan oleh <em>existing customers<\/em> atau pelanggan yang sudah mengonsumsi suatu produk atau jasa dari suatu <em>brand<\/em>. Jika pada <em>e-wom<\/em> terbagi menjadi sentiment positif dan negatif, evangelism berpusat pada pesan positif. Oleh karena itu, <em>brand evangelist<\/em> merupakan para konsumen atau pelanggan yang aktif mendistribusikan informasi positif dari suatu <em>brand<\/em>.<\/p>\n<p>Melalui <em>brand evangelist<\/em>, <em>brand<\/em> juga dapat menjaring pelanggan baru melalui pesan baik yang disebarkan yang harapannya dapat mempengaruhi calon konsumen dalam keputusan pembelian. <em>Brand evangelist<\/em> bermuara dari pelanggan yang telah membeli produk atau jasa dan merekomendasikannya ke orang lain melalui berbagai platform media. Oleh karena itu, perusahaan atau <em>brand<\/em> dapat mengoptimalkan strategi <em>evangelist<\/em> marketing ini jika mereka mampu memahami konsumen, dapat memberikan kepuasan pelanggan, serta berhasil menciptakan pengalaman positif akan <em>brand<\/em>-nya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n<p>Sajoy, P. B. (2018). EVANGELIST MARKETING:-CONCEPTS AND EMERGING TRENDS<em>. International Journal of Research and Analytical Reviews, <\/em>5(3)<\/p>\n<p><strong>Penulis<br \/>\n<\/strong>Anindya Widita<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Istilah brand evangelist bukan merupakan hal yang asing dalam dunia brand dan marketing. Evangelist dalam konteks marketing berkaitan dengan strategi word-of-mouth untuk sebuah brand. Seperti yang kita pahami, word-of-mouth merupakan strategi pemasaran yang mengandalkan perkataan atau tulisan dari pelanggan suatu produk atau jasa yang disebarluaskan melalui media. Di era media sosial saat ini, konsep word-of-mouth [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":39,"featured_media":433,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-432","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/432","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/users\/39"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=432"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/432\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":434,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/432\/revisions\/434"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/media\/433"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=432"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=432"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=432"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}