{"id":256,"date":"2022-03-28T13:37:55","date_gmt":"2022-03-28T06:37:55","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/?p=256"},"modified":"2022-05-30T14:04:54","modified_gmt":"2022-05-30T07:04:54","slug":"the-honeycomb-model-social-media","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/2022\/03\/28\/the-honeycomb-model-social-media\/","title":{"rendered":"The Honeycomb Model Social Media"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">The Honeycomb Model Social Media atau Model Sarang Lebah Media Sosial dikembangkan oleh Jan H Kietzmann (2011) untuk menjelaskan bangunan dan dari media sosial yang terdiri dari beberapa blok yaitu: identity (identitas), conversation (percakapan), sharing (berbagi), presence (keberadaan), relationship (hubungan), reputation (reputasi), group (kelompok).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Banyak manajer pemasaran menyadari tentang peluang di media sosial, tetapi belum memahami media sosial seutuhnya, bagaimana bentuknya dan bagaimana cara memanfaatkannya. Model ini dapat digunakan untuk membantu para manajer pemasaran untuk mengembangkan kampanye pemasaran mereka di media sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Berikut adalah blok-blok dari The Honeycomb Model Social Media:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Identity<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Identitas menampilkan tingkat di mana pengguna mengungkapkan identitas mereka dalam pengaturan media sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Conversation<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Percakapan membahas sejauh mana pengguna berkomunikasi dengan orang lain dalam pengaturan media sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Sharing<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Berbagi mewakili sejauh mana pengguna media sosial bertukar, mendistribusikan, dan menerima konten<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Presence<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sejauh mana pengguna dapat mengetahui aksesibilitas pengguna lain, ini melibatkan mengetahui di mana orang lain berada, di dunia maya atau nyata, dan apakah mereka tersedia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Relationship<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ini melibatkan sejauh mana pengguna dapat berhubungan dengan pengguna lain<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Reputation<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Reputasi adalah sejauh mana pengguna dapat mengidentifikasi kedudukan orang lain, termasuk diri mereka sendiri, dalam pengaturan media sosial<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Group<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Blok fungsional terakhir ini mewakili sejauh mana pengguna dapat membentuk komunitas dan sub-komunitas<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Contoh seperti media sosial Linkedin, jika diidentifikasi melalui The Honeycomb Model Social Media, terdiri dari blok identity, relationship, dan competition. Sedangkan media sosial TikTok dapat terdiri dari identity, sharing, dan conversation. Setiap sosial media bisa memiliki bangunan atau blok-blok yang berbeda, yang lebih dominan dan ini bisa membantu manajer pemasaran dalam menentukan media sosial mana yang ingin digunakan untuk kampanye pemasaran mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Oleh:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Adhi Murti Citra Amalia S.Ant., M.Med.Kom.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sumber:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Punet Singh Bhatia. (2020). Social media and Mobile Marketing Strategy. Wiley. New Delhi. ISBN: B07RB9TNNY.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>The Honeycomb Model Social Media atau Model Sarang Lebah Media Sosial dikembangkan oleh Jan H Kietzmann (2011) untuk menjelaskan bangunan dan dari media sosial yang terdiri dari beberapa blok yaitu: identity (identitas), conversation (percakapan), sharing (berbagi), presence (keberadaan), relationship (hubungan), reputation (reputasi), group (kelompok). Banyak manajer pemasaran menyadari tentang peluang di media sosial, tetapi belum [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":39,"featured_media":330,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-256","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/256","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/users\/39"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=256"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/256\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":553,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/256\/revisions\/553"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/media\/330"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=256"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=256"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=256"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}