{"id":1470,"date":"2026-08-11T10:44:44","date_gmt":"2026-08-11T03:44:44","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/?p=1470"},"modified":"2026-08-11T10:52:24","modified_gmt":"2026-08-11T03:52:24","slug":"sains-yang-ramai-di-kampus-sunyi-di-ruang-publik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/2026\/08\/11\/sains-yang-ramai-di-kampus-sunyi-di-ruang-publik\/","title":{"rendered":"Sains yang Ramai di Kampus, Sunyi di Ruang Publik"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Dalam dunia akademik, riset dan publikasi bukanlah barang baru yang sulit dijangkau oleh para akademisi dan mahasiswa yang bergelut dalam sistem Pendidikan di mana pun. Mayoritas Lembaga perguruan tinggi di Indonesia mulai berlomba meningkatkan kuantitas publikasi ilmiah dalam bentuk jurnal terindeks dan prosiding internasional sebagai ukuran bahwa lembaga Pendidikan tinggi mampu berdaya saing global, dan tentunya adalah demi legitimasi dalam dunia Pendidikan. Hal tersebut nampak dari upaya lembaga memberikan stimulus berupa hibah riset unggulan, insentif publikasi yang terindeks Scopus, ditambah dengan tuntutan lembaga akreditasi yang menjadikan capaian kuantitas publikasi ilmiah sebagai indikator utama reputasi dari level program studi hingga per-rangking-an universitas. Sedikit pengutip dari artikel dalam ASEAN Journal of Science and Engineering menunjukan ada peningkatkan yang signifikan tentang jumlah dokumen riset d<\/span><span data-contrast=\"auto\">ari\u00a031.174\u00a0dokumen\u00a0di 2022\u00a0menjadi\u00a041.846 di 2024\u00a0<\/span><span aria-label=\"Rich text content control\"><span data-contrast=\"none\">\u200b<\/span><span data-contrast=\"none\">(Prasojo\u00a0et al., 2025)<\/span><span data-contrast=\"none\">\u200b<\/span><\/span><span data-contrast=\"auto\">.\u00a0BRIN juga\u00a0merilis\u00a0data 10\u00a0institusi\u00a0Pendidikan\u00a0dengan\u00a0capaian\u00a0publikasi\u00a0tertinggi\u00a0di Indonesia, dan\u00a0memang\u00a0betul\u00a0bahwa\u00a0terjadi\u00a0pelonjakan\u00a0yang\u00a0signifikan\u00a0terkait\u00a0jumlah\u00a0publikasi\u00a0ilmiah\u00a0di level\u00a0internasional\u00a0<\/span><span aria-label=\"Rich text content control\"><span data-contrast=\"none\">\u200b<\/span><span data-contrast=\"none\">(Aisyah, 2024)<\/span><span data-contrast=\"none\">\u200b<\/span><\/span><span data-contrast=\"auto\">. Agenda\u00a0berbau\u00a0akademik\u00a0seperti\u00a0seminar,\u00a0konferensi\u00a0ilmiah, dan\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">call for papers<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0selalu\u00a0ramai\u00a0dengan\u00a0antusias\u00a0pada\u00a0akademisi\u00a0yang\u00a0bisa\u00a0kita\u00a0sebut\u00a0sebagai\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">conference hunter. <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">Jurnal-jurnal baru terus bermunculan dan bisa dengan mudah bisa mendapatkan klaim sebagai indeks publikasi internasional tentu menjadi angin segar bagi para \u2018pengabdi publikasi\u2019. Dampaknya ya tentu akan menghasilkan angka-angka sitasi dan indeksasi menjadi poin rekognisi baik secara kolektif institusi, maupun individu. <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:567,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Di tengah geliat dan spirit mengejar publikasi produksi pengetahuan yang masif melalui peningkatan kuantitas publikasi, ada pertanyaan besar yang cukup mengusik yaitu dari se-begitu besarnya angka capaian publikasi kawan-kawan\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">sciencetist\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">dan akademisi, apakah semua hanya berakhir menjadi link DOI atau Orchid saja? Lalu apa gunanya jika upaya yang luar biasa melelahkan melakukan riset jika hanya berakhir pada link repository? Itu masih dari satu sisi, kemudian sejauh mana segudang publikasi hasil riset tersebut benar-benar hadir sampai level masyarakat luas? Inilah paradoks yang menjadi fakta ramainya sains di dunia kampus, namun terasa sunyi di ruang publik.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:567,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Harus diakui bahwa Pendidikan Tinggi di Indonesia hanya melihat publikasi sebagai simbol dan persyaratan administratif, bukan sebagai proses dialogis antara institusi Pendidikan, pembuat kebijakan, dan tentu publik atau masyarakat. Asas \u2018gugur kewajiban\u2019 menjadi motivasi utama pada publikasi <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">hunter\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">memperbanyak kuantitas hasil riset yang harus dipublikasikan dalam berbagai outlet jurnal maupun prosiding. Pengetahuan akhirnya hanya diproduksi dalam bahasa yang \u2018elitis\u2019, diedarkan dalam ruang yang terbatas, berbayar pula. Tentunya hanya diakses oleh rekan sejawat dari dunia akademisi. Lalu apa fungsi dari memproduksi pengetahuan jika hanya menjadi link publikasi yang belum tentu dimanfaatkan oleh kepentingan khalayak. Posisi sains saat ini dalam dunia Pendidikan tinggi hanyalah kapital yang akademik yang hanya mengisi \u2018kekosongan\u2019 pengetahuan dalam dunia akademis, belum tentu bertransformasi menjadi kapital sosial yang dapat mengisi pengetahuan sampai level masyarakat.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Dalam buku <em>Misunderstanding Science<\/em>, kegagalan pengetahuan sains menjangkau publik atau masyarakat karena publik dianggap kurang pengetahuan sehingga publik hanya \u2018tampah\u2019 yang menampung informasi. Wynne dan Irwin menegaskan bahwa publik bukan sekedar objek yang pasif, namun harus sebagai subjek yang memiliki konteks sosial, pengalaman, dan rasionalitas sendiri <\/span><span aria-label=\"Rich text content control\"><span data-contrast=\"none\">\u200b<\/span><span data-contrast=\"none\">(Irwin &amp; Wynne, 1996)<\/span><span data-contrast=\"none\">\u200b<\/span><\/span><span data-contrast=\"auto\">. Dari gagasan Irwin dan Wynne, posisi publik dalam ilmu pengetahuan tidak lagi dapat dipahami sebagai \u2018tampah informasi\u2019 yang dijejali informasi berbalut kata \u2018ilmiah\u2019. Publik harus dilihat dan diposisikan sebagai aktor sosial yang membawa pengalaman, nilai, dan pengetahuan kontekstualnya sendiri. Keriuhan yang terjadi di ruang akademis dengan melesatnya capaian-capaian riset yang terpublikasikan, belum sebanding dengan popularitas sains yang benar-benar bisa menyentuh publik. Kesahihan sains akhirnya bukan perkara validitas metodologis dan verifikasi teori, tetapi juga oleh kemampuannya beresonansi dengan pengalaman publik.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:567,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Sunyi nya ruang publik dari terpaan sains tentu langsung mengarah pada platform digital, yang semestinya bukan hanya saluran distribusi informasi, melainkan ruang diskursif dan produksi makna. Algoritma platform bagai <em>black box<\/em> yang bekerja berdasarkan interaksi, <\/span><span data-contrast=\"auto\">sehingga\u00a0popularisasi\u00a0sains\u00a0menghadapi\u00a0tantangan\u00a0bagaimana\u00a0bisa\u00a0\u2018<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">visible<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u2019 di <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">platform.\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">Akhirnya mengkomunikasikan sains ternyata tidak hanya persoalan bahasa yang elitis saja, namun keterlibatan publik dan adanya storytelling yang lebih kontekstual akan membuka perlahan ruang diskusi di ruang-ruang digital. Ketika publik memiliki ruang untuk bertanya, menafsirkan, bahkan mengkritik, sains bertransformasi dari kumpulan link <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">repository\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">menjadi\u00a0percakapan\u00a0sosial.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:567,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Semoga\u00a0ruang\u00a0publik\u00a0setelahnya\u00a0akan\u00a0ramai\u00a0dengan\u00a0perdebatan,\u00a0diskusi\u00a0dan\u00a0interaksi\u00a0bahkan\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">follow up\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">dari\u00a0membludaknya\u00a0hasil-hasil\u00a0riset\u00a0perguruan\u00a0tinggi.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360,&quot;335572079&quot;:6,&quot;335572080&quot;:1,&quot;335572081&quot;:4278190080,&quot;469789806&quot;:&quot;single&quot;}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b><span data-contrast=\"auto\">Referensi<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"none\">\u200b<\/span><span aria-label=\"Rich text content control paragraph\"><span data-contrast=\"none\">\u200b<\/span><span data-contrast=\"none\">Aisyah, N. (2024).\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">BRIN\u00a0Rilis\u00a0Capaian\u00a0Riset, Ini 10\u00a0Institusi\u00a0dengan\u00a0Publikasi\u00a0Ilmiah\u00a0Terbanyak\u00a0di\u00a0RI\u202f\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">.\u00a0Detik\u00a0Edu.<\/span><\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559991&quot;:480}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span aria-label=\"Rich text content control paragraph\"><span data-contrast=\"none\">\u200b<\/span><span data-contrast=\"none\">Irwin, Alan., &amp; Wynne, Brian. (1996).\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">Misunderstanding Science?\u202f:\u00a0the Public Reconstruction of Science and Technology<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">. Cambridge University Press.<\/span><\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559991&quot;:480}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span aria-label=\"Rich text content control paragraph\"><span data-contrast=\"none\">\u200b<\/span><span data-contrast=\"none\">Prasojo, L. D., Yuliana, L., &amp;\u00a0Prihandoko, L. A. (2025). Research Performance in Higher Education: A PLS-SEM Analysis of Research Atmosphere, Collaboration, Funding, Competence, and Output, Especially for Science and Engineering Facilities in Indonesian Universities.\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">ASEAN Journal of Science and Engineering<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">,\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">5<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">(1), 123\u2013144. https:\/\/doi.org\/10.17509\/ajse.v5i1.81224<\/span><\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559991&quot;:480}\"> \u00a0<\/span><\/p>\n<p>https:\/\/www.istockphoto.com\/id\/foto-foto\/science-paper<\/p>\n<p><strong>Penulis: <\/strong><\/p>\n<p>Gabriella Sagita Putri<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam dunia akademik, riset dan publikasi bukanlah barang baru yang sulit dijangkau oleh para akademisi dan mahasiswa yang bergelut dalam sistem Pendidikan di mana pun. Mayoritas Lembaga perguruan tinggi di Indonesia mulai berlomba meningkatkan kuantitas publikasi ilmiah dalam bentuk jurnal terindeks dan prosiding internasional sebagai ukuran bahwa lembaga Pendidikan tinggi mampu berdaya saing global, dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":39,"featured_media":1471,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-1470","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1470","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/users\/39"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1470"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1470\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1473,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1470\/revisions\/1473"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1471"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1470"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1470"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/public-relations\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1470"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}