{"id":857,"date":"2026-08-24T16:18:35","date_gmt":"2026-08-24T09:18:35","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/minor-program\/?p=857"},"modified":"2026-08-24T16:18:35","modified_gmt":"2026-08-24T09:18:35","slug":"tidak-semua-ide-menarik-adalah-peluang-bisnis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/minor-program\/2026\/08\/24\/tidak-semua-ide-menarik-adalah-peluang-bisnis\/","title":{"rendered":"Tidak Semua Ide Menarik Adalah Peluang Bisnis"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"218\" data-end=\"805\">Founder sering menggunakan kata \u201cpeluang\u201d untuk hampir semua hal yang terlihat menjanjikan: tren baru, teknologi baru, kebutuhan pelanggan, hingga ide produk. Padahal, Davidsson (2015) menunjukkan bahwa istilah <em data-start=\"429\" data-end=\"458\">entrepreneurial opportunity<\/em> sendiri terlalu luas dan sering mencampurkan beberapa hal yang sebenarnya berbeda. Bahkan entrepreneur yang sama dapat mengalami kegagalan, menghentikan sebuah usaha, lalu sukses besar pada usaha lainnya. Artinya, kualitas founder saja tidak cukup untuk menjelaskan mengapa sebuah bisnis berhasil atau gagal.<\/p>\n<p data-start=\"218\" data-end=\"805\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-858\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/malang\/minor-program\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2026\/08\/Screenshot-2026-08-24-at-4.18.10-PM.png\" alt=\"\" width=\"630\" height=\"586\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/minor-program\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2026\/08\/Screenshot-2026-08-24-at-4.18.10-PM.png 630w, https:\/\/binus.ac.id\/malang\/minor-program\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2026\/08\/Screenshot-2026-08-24-at-4.18.10-PM-300x279.png 300w, https:\/\/binus.ac.id\/malang\/minor-program\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2026\/08\/Screenshot-2026-08-24-at-4.18.10-PM-480x446.png 480w\" sizes=\"auto, (max-width: 630px) 100vw, 630px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"807\" data-end=\"1340\">Davidsson mengusulkan agar founder melihat \u201cpeluang\u201d melalui tiga hal berbeda: <strong data-start=\"886\" data-end=\"954\">External Enablers, New Venture Ideas, dan Opportunity Confidence<\/strong>. External Enablers adalah perubahan eksternal seperti teknologi baru, regulasi, atau perubahan demografi. New Venture Ideas adalah gambaran tentang bisnis yang ingin dibangun\u2014kombinasi produk, target pasar, dan cara mewujudkannya. Sementara Opportunity Confidence adalah seberapa yakin founder bahwa kondisi atau ide tersebut memang layak dikejar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"1342\" data-end=\"1902\">Pemisahan ini penting karena sebuah perubahan besar di pasar belum tentu otomatis menjadi bisnis yang bagus. Munculnya AI, misalnya, dapat menjadi <em data-start=\"1489\" data-end=\"1507\">external enabler<\/em>, tetapi bukan berarti setiap produk berbasis AI adalah peluang yang menarik. Founder tetap harus merancang <em data-start=\"1615\" data-end=\"1633\">new venture idea<\/em> yang masuk akal, kemudian menilai seberapa kuat alasan untuk percaya bahwa ide tersebut memiliki prospek. Bahkan New Venture Ideas sendiri dapat memiliki kualitas apa pun dan tidak membawa jaminan tentang bagaimana hasil akhirnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"1904\" data-end=\"2452\">Cara berpikir ini juga membantu founder menghindari jebakan <em data-start=\"1964\" data-end=\"1983\">confirmation bias<\/em>. Sering kali kita sudah menyukai sebuah ide, lalu mencari data untuk membuktikan bahwa \u201cpasarnya besar\u201d. Padahal, Davidsson membedakan antara isi sebuah ide dengan persepsi founder mengenai daya tariknya. Dengan pemisahan tersebut, founder dapat bertanya lebih objektif: perubahan eksternal apa yang sedang terjadi, bisnis apa yang sebenarnya bisa dibangun dari perubahan tersebut, dan mengapa kita yakin bisnis itu layak dikejar?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"2454\" data-end=\"2866\">Jadi, kemampuan founder bukan sekadar \u201cmelihat peluang\u201d, tetapi <strong data-start=\"2518\" data-end=\"2641\">membedakan kondisi yang memungkinkan bisnis muncul, ide bisnis yang ingin dibangun, dan keyakinan terhadap ide tersebut<\/strong>. Tiga hal ini saling berhubungan, tetapi bukan hal yang sama. Ketika dipisahkan dengan jelas, keputusan untuk melanjutkan, mengubah, atau bahkan meninggalkan sebuah ide dapat dilakukan dengan alasan yang jauh lebih rasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"2868\" data-end=\"3125\"><strong data-start=\"2868\" data-end=\"2881\">Referensi<\/strong><br data-start=\"2881\" data-end=\"2884\" \/>Davidsson, P. (2015). Entrepreneurial opportunities and the entrepreneurship nexus: A re-conceptualization. <em data-start=\"2992\" data-end=\"3027\">Journal of Business Venturing, 30<\/em>(5), 674\u2013695. <a class=\"decorated-link\" href=\"https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.jbusvent.2015.01.002\" target=\"_new\" rel=\"noopener\" data-start=\"3041\" data-end=\"3087\">https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.jbusvent.2015.01.002<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"3127\" data-end=\"3290\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Founder sering menggunakan kata \u201cpeluang\u201d untuk hampir semua hal yang terlihat menjanjikan: tren baru, teknologi baru, kebutuhan pelanggan, hingga ide produk. Padahal, Davidsson (2015) menunjukkan bahwa istilah entrepreneurial opportunity sendiri terlalu luas dan sering mencampurkan beberapa hal yang sebenarnya berbeda. Bahkan entrepreneur yang sama dapat mengalami kegagalan, menghentikan sebuah usaha, lalu sukses besar pada usaha [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":46,"featured_media":858,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[439,438,8,442,440,441,181],"class_list":["post-857","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-digital-technopreneur-article","tag-business-opportunity","tag-entrepreneurial-opportunity","tag-entrepreneurship","tag-founder-decision-making","tag-new-venture-idea","tag-opportunity-validation","tag-startup-founder"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/minor-program\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/857","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/minor-program\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/minor-program\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/minor-program\/wp-json\/wp\/v2\/users\/46"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/minor-program\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=857"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/minor-program\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/857\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":859,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/minor-program\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/857\/revisions\/859"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/minor-program\/wp-json\/wp\/v2\/media\/858"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/minor-program\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=857"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/minor-program\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=857"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/minor-program\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=857"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}