Inovasi Tidak Selalu Berarti Menciptakan Sesuatu dari Nol
Ketika berbicara tentang inovasi, founder sering langsung membayangkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Padahal, Hevner dan Gregor (2022) menunjukkan bahwa digital innovation dapat muncul melalui beberapa jalur berbeda. Melalui Knowledge Innovation Matrix, mereka membedakan empat strategi entrepreneurial innovation: invention, exaptation, advancement, dan exploitation. Bagi startup, kerangka ini penting karena tidak semua bisnis harus mengejar inovasi yang benar-benar new-to-the-world.

Invention adalah wilayah ketika problem maupun solusinya membutuhkan pengetahuan baru sehingga eksperimen, kreativitas, dan eksplorasi sangat dominan. Sebaliknya, exaptation terjadi ketika teknologi atau pengetahuan yang sebenarnya sudah ada digunakan untuk kebutuhan yang berbeda dari tujuan awalnya. E-book dan Google Maps menjadi contoh bagaimana konsep yang sudah dikenal dapat memperoleh fungsi baru ketika dipindahkan ke konteks digital. Untuk startup dengan resource terbatas, exaptation sering menarik karena founder tidak harus menciptakan teknologi baru—yang diperlukan adalah menemukan penggunaan baru yang bernilai.
Advancement berangkat dari problem yang sudah jelas, tetapi solusi yang tersedia belum cukup baik. Founder perlu memperbaiki solusi melalui expertise, eksperimen, dan R&D. Sementara exploitation jauh lebih pragmatis: masalahnya sudah diketahui dan teknologinya sudah tersedia, sehingga inovasi muncul dari mengadopsi, menyesuaikan, dan mengoptimalkan teknologi tersebut untuk konteks baru. Jadi, mengadaptasi teknologi yang sudah terbukti juga dapat menjadi inovasi jika menghasilkan value bagi pasar yang berbeda.
Insight pentingnya adalah startup tidak harus memilih satu strategi selamanya. Sebuah proyek dapat bergerak dari invention menuju advancement, kemudian dieksploitasi dalam skala lebih besar atau menemukan penggunaan baru melalui exaptation. Penulis bahkan menekankan bahwa proyek digital innovation dapat berpindah di antara strategi-strategi tersebut melalui berbagai siklus pengembangan. Ini membuat inovasi lebih tepat dipahami sebagai portfolio dan proses, bukan satu momen menemukan “ide besar”.
Bagi founder, pertanyaannya menjadi lebih tajam: apakah startup benar-benar perlu menemukan teknologi baru, memperbaiki solusi lama, menemukan penggunaan baru dari teknologi yang ada, atau cukup mengadopsi solusi yang sudah terbukti dengan lebih baik? Mengetahui posisi ini dapat menghemat waktu, modal, dan ekspektasi tim. Tidak semua startup harus menjadi inventor. Kadang keunggulan terbesar justru datang dari menggunakan sesuatu yang sudah ada dengan cara yang belum terpikirkan orang lain.
Referensi
Hevner, A., & Gregor, S. (2022). Envisioning entrepreneurship and digital innovation through a design science research lens: A matrix approach. Information & Management, 59(3), 103350. https://doi.org/10.1016/j.im.2020.103350
Comments :