Digital Infrastructure dan Fluiditas Proses Kewirausahaan
Digital infrastructure, seperti cloud computing, media sosial, dan platform crowdfunding, telah mengubah cara proses kewirausahaan dijalankan. Infrastruktur ini memungkinkan entrepreneur mengakses sumber daya, pasar, dan jejaring sosial tanpa batas geografis yang ketat. Akibatnya, proses kewirausahaan menjadi lebih fleksibel dan terdistribusi.

Penggunaan digital infrastructure tidak hanya berdampak pada efisiensi, tetapi juga pada struktur sosial dan kognitif kewirausahaan. Interaksi dengan pengguna, investor, dan komunitas online memengaruhi cara entrepreneur menilai kelayakan dan daya tarik suatu peluang. Ketidakpastian menjadi lebih dinamis karena dipengaruhi oleh respons kolektif yang terus berubah.
Dalam praktik, fenomena ini terlihat pada kampanye crowdfunding, di mana ide bisnis diuji secara publik sebelum produk benar-benar dikembangkan. Proses ini mengaburkan batas antara eksplorasi peluang dan eksploitasi peluang, karena keduanya terjadi secara simultan.
Oleh karena itu, studi digital entrepreneurship perlu mempertimbangkan digital infrastructure sebagai proses sosioteknis, bukan sekadar alat. Pendekatan ini membantu menjelaskan bagaimana teknologi, interaksi sosial, dan institusi saling membentuk dalam menentukan arah dan hasil proses kewirausahaan.
Referensi utama:
Nambisan (2017); Tilson et al. (2010); Mollick (2014)
Comments :