Dalam entrepreneurship tradisional, peluang bisnis sering dipahami sebagai kombinasi produk, pasar, dan teknologi yang relatif terdefinisi dengan jelas. Batas peluang ini membantu entrepreneur menyusun proposisi nilai, target pasar, dan strategi kompetitif. Namun, digital artifacts seperti aplikasi, software, dan komponen digital tertanam memiliki karakteristik yang sangat berbeda dari produk fisik konvensional.

Digital artifacts bersifat dapat diprogram ulang, dikombinasikan kembali, dan diperluas tanpa batas yang kaku. Ketika artifacts ini beroperasi dalam ekosistem digital platforms, seperti marketplace atau sistem operasi, peluang bisnis menjadi semakin terbuka dan generatif. Satu inovasi kecil dapat memicu peluang baru yang tidak direncanakan sebelumnya, baik oleh entrepreneur awal maupun oleh aktor lain dalam ekosistem.

Contoh konkret dapat dilihat pada platform aplikasi mobile, di mana pengembang pihak ketiga dapat menciptakan layanan baru dengan memanfaatkan API, data, dan infrastruktur yang sudah tersedia. Dalam konteks ini, peluang bisnis tidak lagi dimiliki secara eksklusif oleh satu aktor, melainkan muncul dari kombinasi kontribusi banyak pihak. Batas antara “produk inti” dan “pelengkap” menjadi semakin kabur.

Implikasinya, studi kewirausahaan perlu memandang peluang sebagai entitas yang terus berkembang, bukan objek statis. Konsep generativity menjadi kunci untuk memahami bagaimana teknologi digital memungkinkan munculnya peluang baru secara berantai. Pendekatan ini membantu menjelaskan mengapa inovasi digital sering menghasilkan dampak yang melampaui niat awal penciptanya.

Referensi utama:
Nambisan (2017); Yoo et al. (2010); Zittrain (2006)