Mulai dari Pilot, Bukan dari Kesempurnaan
Banyak startup menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menyempurnakan produk sebelum benar-benar diuji oleh pengguna. Website harus sempurna, aplikasi harus memiliki banyak fitur, desain harus terlihat profesional, dan seluruh proses harus otomatis. Padahal, semua itu belum tentu menjadi hal yang paling penting di tahap awal.
Revolution Foods memilih pendekatan yang berbeda. Mereka menemukan sekolah yang bersedia mencoba program mereka terlebih dahulu. Dari pilot tersebut, perusahaan dapat melihat bagaimana produk mereka diterima dan bagaimana proses operasional berjalan di kondisi nyata.
Pendekatan pilot membuat perusahaan dapat belajar dengan risiko yang lebih kecil. Jika ada masalah, mereka dapat memperbaikinya sebelum memperluas skala. Jika ternyata pelanggan tidak tertarik, mereka juga belum mengeluarkan investasi terlalu besar.
Dalam konteks startup modern, pilot tidak harus berupa produk yang sempurna. Sebuah layanan baru dapat diuji secara manual. Sistem yang nantinya menggunakan teknologi dapat dijalankan terlebih dahulu dengan spreadsheet. Marketplace bahkan bisa dimulai dengan mempertemukan penjual dan pembeli melalui WhatsApp.
Hal terpenting bukan seberapa canggih prototype tersebut, tetapi seberapa banyak pembelajaran yang dapat diperoleh. Founder perlu mengetahui apakah masalahnya benar, apakah solusi digunakan, apakah pelanggan melihat value, dan apakah mereka bersedia kembali menggunakan atau membayar produk tersebut.
Prototype bukan alat untuk membuktikan bahwa ide founder sudah benar. Prototype adalah alat untuk menemukan bagian mana dari asumsi founder yang ternyata salah sebelum kesalahan tersebut menjadi mahal.
Sumber: Russo, M. V. (2010). Companies on a mission: Entrepreneurial strategies for growing sustainably, responsibly, and profitably. Stanford University Press. Rujukan utama: Chapter 1, Capitalizing on an Underground Consumer Movement.
Comments :