Di perusahaan besar, satu kesalahan rekrutmen mungkin masih dapat diserap oleh sistem. Di startup dengan tim yang masih kecil, satu orang dapat memberikan pengaruh yang jauh lebih besar. Karena itu, recruitment pada tahap awal seharusnya diperlakukan sebagai keputusan strategis.

Russo menjelaskan bahwa mission-driven companies perlu melihat lebih dari kemampuan profesional kandidat. Mereka juga perlu mempertimbangkan apakah nilai kandidat cukup selaras dengan nilai perusahaan.

Dilema kemudian muncul. Apakah perusahaan harus memilih kandidat dengan kemampuan yang sangat tinggi tetapi kurang peduli terhadap mission, atau kandidat dengan kemampuan yang sedikit lebih rendah tetapi memiliki komitmen yang kuat terhadap tujuan perusahaan?

Tidak ada jawaban yang selalu sama. Namun Russo menunjukkan bahwa investasi dalam pengembangan kemampuan seseorang dapat menjadi bagian dari pembangunan budaya organisasi. Perusahaan perlu menilai bukan hanya apa yang kandidat mampu lakukan hari ini, tetapi juga bagaimana kandidat tersebut akan memengaruhi perusahaan dalam jangka panjang.

Hal ini tidak berarti founder harus merekrut orang dengan pemikiran yang sama. Startup justru membutuhkan perspektif yang berbeda. Yang perlu disepakati adalah standar perilaku, prinsip kerja, dan tujuan yang ingin dicapai bersama.

Karena itu, hiring sebaiknya tidak hanya menjawab pertanyaan, “Apakah orang ini mampu melakukan pekerjaannya?” tetapi juga, “Apakah kehadiran orang ini membantu kita membangun perusahaan seperti yang kita inginkan?”

Sumber: Russo, M. V. (2010). Companies on a mission: Entrepreneurial strategies for growing sustainably, responsibly, and profitably. Stanford University Press. Rujukan utama: Chapter 5, Crafting the Mission-Driven Organization: The Human Dimension.