Tidak Semua Ide Menarik Adalah Peluang Bisnis
Founder sering menggunakan kata “peluang” untuk hampir semua hal yang terlihat menjanjikan: tren baru, teknologi baru, kebutuhan pelanggan, hingga ide produk. Padahal, Davidsson (2015) menunjukkan bahwa istilah entrepreneurial opportunity sendiri terlalu luas dan sering mencampurkan beberapa hal yang sebenarnya berbeda. Bahkan entrepreneur yang sama dapat mengalami kegagalan, menghentikan sebuah usaha, lalu sukses besar pada usaha lainnya. Artinya, kualitas founder saja tidak cukup untuk menjelaskan mengapa sebuah bisnis berhasil atau gagal.

Davidsson mengusulkan agar founder melihat “peluang” melalui tiga hal berbeda: External Enablers, New Venture Ideas, dan Opportunity Confidence. External Enablers adalah perubahan eksternal seperti teknologi baru, regulasi, atau perubahan demografi. New Venture Ideas adalah gambaran tentang bisnis yang ingin dibangun—kombinasi produk, target pasar, dan cara mewujudkannya. Sementara Opportunity Confidence adalah seberapa yakin founder bahwa kondisi atau ide tersebut memang layak dikejar.
Pemisahan ini penting karena sebuah perubahan besar di pasar belum tentu otomatis menjadi bisnis yang bagus. Munculnya AI, misalnya, dapat menjadi external enabler, tetapi bukan berarti setiap produk berbasis AI adalah peluang yang menarik. Founder tetap harus merancang new venture idea yang masuk akal, kemudian menilai seberapa kuat alasan untuk percaya bahwa ide tersebut memiliki prospek. Bahkan New Venture Ideas sendiri dapat memiliki kualitas apa pun dan tidak membawa jaminan tentang bagaimana hasil akhirnya.
Cara berpikir ini juga membantu founder menghindari jebakan confirmation bias. Sering kali kita sudah menyukai sebuah ide, lalu mencari data untuk membuktikan bahwa “pasarnya besar”. Padahal, Davidsson membedakan antara isi sebuah ide dengan persepsi founder mengenai daya tariknya. Dengan pemisahan tersebut, founder dapat bertanya lebih objektif: perubahan eksternal apa yang sedang terjadi, bisnis apa yang sebenarnya bisa dibangun dari perubahan tersebut, dan mengapa kita yakin bisnis itu layak dikejar?
Jadi, kemampuan founder bukan sekadar “melihat peluang”, tetapi membedakan kondisi yang memungkinkan bisnis muncul, ide bisnis yang ingin dibangun, dan keyakinan terhadap ide tersebut. Tiga hal ini saling berhubungan, tetapi bukan hal yang sama. Ketika dipisahkan dengan jelas, keputusan untuk melanjutkan, mengubah, atau bahkan meninggalkan sebuah ide dapat dilakukan dengan alasan yang jauh lebih rasional.
Referensi
Davidsson, P. (2015). Entrepreneurial opportunities and the entrepreneurship nexus: A re-conceptualization. Journal of Business Venturing, 30(5), 674–695. https://doi.org/10.1016/j.jbusvent.2015.01.002
Comments :