Teknologi Membuat Memulai Bisnis Lebih Mudah, Tapi Itu Belum Cukup
Teknologi telah membuat banyak hambatan untuk memulai bisnis semakin rendah. Internet, smartphone, e-commerce, dan berbagai aplikasi digital memungkinkan entrepreneur menjangkau pelanggan, menjual produk lintas wilayah, serta menjalankan aktivitas bisnis dengan biaya yang sebelumnya sulit dibayangkan. Ben Youssef et al. (2021) menjelaskan bahwa digital technologies dapat menurunkan biaya berbisnis, memperluas pasar, mempermudah pembentukan usaha, dan mengurangi pekerjaan administratif yang memakan waktu. Namun, tersedianya teknologi ternyata tidak otomatis membuat seseorang siap menjadi entrepreneur.

Penelitian terhadap 310 mahasiswa dari dua universitas di Kosovo menemukan bahwa faktor yang paling kuat menjelaskan entrepreneurial intention justru adalah personal attitude dan perceived behavioral control. Keduanya menjelaskan sekitar 72% variasi entrepreneurial intention dalam model penelitian, dengan personal attitude memiliki pengaruh lebih besar dibandingkan behavioral control. Secara sederhana, seseorang lebih mungkin berniat menjadi entrepreneur ketika ia memandang entrepreneurship secara positif dan merasa memiliki kemampuan untuk melakukannya.
Temuan tersebut penting karena sering kali kita terlalu fokus pada resources. Founder merasa perlu menunggu modal lebih besar, teknologi lebih sempurna, tim lebih lengkap, atau kondisi pasar lebih ideal. Padahal, kemampuan untuk melihat diri sendiri sebagai seseorang yang mampu mengambil tindakan juga mempunyai peran besar. Dalam penelitian ini, dukungan pendidikan berpengaruh signifikan terhadap personal attitude dan terutama perceived behavioral control, sementara relational support memiliki pengaruh kuat terhadap personal attitude. Lingkungan, network, mentor, dan pengalaman belajar dengan demikian dapat memengaruhi keberanian seseorang untuk benar-benar mengambil langkah.
Digitalisasi memperkuat kondisi tersebut karena teknologi tidak hanya menyediakan tools, tetapi juga mengubah lingkungan tempat entrepreneurship terjadi. E-commerce, mobile internet, e-administration, hingga berbagai digital services dapat mengurangi birokrasi dan menurunkan barriers to entry. Bagi founder, ini berarti competitive advantage semakin sulit dibangun hanya dari akses terhadap teknologi. Ketika tools yang sama tersedia bagi banyak orang, pembeda semakin bergeser ke kemampuan menemukan peluang, mengambil keputusan, belajar, dan mengeksekusi.
Perlu dicatat bahwa penelitian ini mengukur entrepreneurial intention pada mahasiswa di Kosovo, bukan keberhasilan startup founder yang sudah menjalankan bisnis. Karena itu, hasilnya tidak membuktikan bahwa mindset saja akan menghasilkan startup yang sukses. Tetapi pesannya tetap relevan: digitalisasi memang menurunkan banyak hambatan eksternal, sementara hambatan internal cara melihat peluang dan keyakinan bahwa kita mampu bertindak tetap penting. Teknologi dapat membuat pintu masuk entrepreneurship semakin lebar, tetapi founder tetap harus memutuskan untuk berjalan melewatinya.
Referensi
Ben Youssef, A., Boubaker, S., Dedaj, B., & Carabregu-Vokshi, M. (2021). Digitalization of the economy and entrepreneurship intention. Technological Forecasting and Social Change, 164, 120043. https://doi.org/10.1016/j.techfore.2020.120043
Comments :