Menjadi founder berarti terus berhadapan dengan hal yang sebelumnya tidak kita kuasai. Hari ini harus memahami pelanggan, besok membaca data, lalu belajar soal keuangan, pemasaran, teknologi, hingga mengelola tim. Karena itu, kemampuan belajar sebenarnya merupakan salah satu founder skill yang sering diremehkan. Riset Hongsuchon et al. (2022) terhadap 469 peserta pembelajaran daring menunjukkan bahwa efektivitas belajar bukan hanya ditentukan oleh akses terhadap teknologi, tetapi juga oleh motivasi, strategi belajar, kepercayaan diri menggunakan teknologi, monitoring, sikap, dan self-efficacy.

Salah satu temuan yang menarik adalah besarnya peran motivasi. Dalam penelitian tersebut, motivasi memiliki hubungan positif yang kuat terhadap strategi belajar dan efektivitas belajar. Artinya, menyediakan akses ke banyak kursus, webinar, podcast, atau buku belum tentu membuat seseorang berkembang. Yang jauh lebih penting adalah adanya alasan yang jelas untuk belajar dan kemampuan menghubungkan materi tersebut dengan masalah yang sedang dihadapi. Bagi founder, pertanyaannya bukan lagi “Apa yang ingin saya pelajari?”, tetapi “Masalah bisnis apa yang harus bisa saya selesaikan setelah mempelajari ini?”

Strategi belajar juga tidak kalah penting. Hongsuchon et al. (2022) menemukan bahwa strategi belajar berpengaruh positif terhadap efektivitas belajar. Penelitian tersebut menekankan pentingnya menetapkan tujuan, membuat rencana belajar, mengevaluasi materi, berkomunikasi dengan orang lain, dan menyesuaikan strategi ketika rencana awal tidak berjalan. Prinsip ini sangat relevan untuk founder: belajar sebaiknya tidak berhenti pada konsumsi informasi, tetapi menghasilkan perubahan keputusan, eksperimen, atau tindakan dalam bisnis.

Ada faktor lain yang juga penting: kepercayaan diri dalam menggunakan teknologi. Penelitian menunjukkan bahwa confidence in technology berpengaruh terhadap strategi dan motivasi belajar serta secara tidak langsung meningkatkan efektivitas pembelajaran. Dalam konteks startup, ini menjadi semakin penting ketika founder harus bekerja dengan analytics, automation, AI, platform digital, atau berbagai tools baru. Founder tidak harus menjadi orang paling teknis di tim, tetapi tidak boleh kehilangan kemampuan untuk memahami teknologi yang dapat mengubah cara bisnisnya bekerja.

Perlu dicatat bahwa penelitian ini dilakukan pada mahasiswa, bukan startup founder, sehingga hasilnya tidak dapat langsung dianggap sebagai bukti tentang kinerja founder. Namun, mekanisme yang ditemukan memberikan pelajaran yang berguna: belajar efektif membutuhkan kombinasi motivasi, strategi, monitoring, dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi. Di lingkungan startup yang terus berubah, keunggulan seorang founder mungkin bukan karena ia sudah mengetahui semuanya, melainkan karena ia mampu mempelajari hal yang tepat lebih cepat—dan segera mengubah pengetahuan tersebut menjadi keputusan.

Referensi

Hongsuchon, T., El Emary, I. M. M., Hariguna, T., & Qhal, E. M. A. (2022). Assessing the impact of online-learning effectiveness and benefits in knowledge management, the antecedent of online-learning strategies and motivations: An empirical study. Sustainability, 14(5), 2570. https://doi.org/10.3390/su14052570