Digitalisasi Bukan Selalu Kabar Baik bagi Startup
Digitalisasi sering dibicarakan seolah-olah selalu membawa keuntungan: bisnis lebih cepat, pasar lebih luas, biaya lebih rendah, dan inovasi lebih mudah dilakukan. Namun, Berger et al. (2021) mengingatkan bahwa teknologi digital bukan sekadar perubahan alat. Digitalisasi dapat mengubah cara bisnis menciptakan value, berkompetisi, berinovasi, bahkan mengubah struktur sebuah industri. Teknologi digital memiliki kemampuan untuk terus berkembang, menghasilkan kemungkinan baru, dan mengubah perilaku yang sebelumnya sudah mapan. Bagi founder, artinya teknologi tidak cukup hanya “dipakai”; dampaknya terhadap model bisnis perlu benar-benar dipahami.

Masalahnya, banyak startup terjebak dalam asumsi bahwa semakin digital sebuah bisnis, semakin baik pula bisnis tersebut. Padahal, studi-studi yang dirangkum Berger et al. (2021) menunjukkan adanya dark side of digitization. Penggunaan teknologi yang semakin intensif tidak otomatis meningkatkan pendapatan entrepreneur, dan keterlibatan dalam digital platform ecosystem bahkan dapat menimbulkan konflik peran serta tekanan bagi founder. Dengan kata lain, teknologi bukan tujuan akhir dari sebuah bisnis.
Digitalisasi juga dapat mengubah siapa yang sebenarnya mengendalikan penciptaan dan pengambilan value. Platform, crowdsourcing, AI, blockchain, hingga berbagai bentuk digital infrastructure memungkinkan kontribusi dan aktivitas bisnis tersebar kepada lebih banyak aktor. Dalam kondisi tertentu hal ini membuka peluang, tetapi di sisi lain dapat mengurangi kontrol entrepreneur terhadap value chain. Berger et al. (2021) bahkan menunjukkan bahwa teknologi digital berpotensi mengubah secara fundamental dinamika value creation dan value capture dalam suatu industri.
Karena itu, keputusan teknologi startup sebaiknya tidak dimulai dari pertanyaan, “Teknologi apa yang sedang tren?” tetapi dari pertanyaan, “Bagaimana teknologi ini mengubah cara kita menciptakan dan menangkap value?” AI, automation, blockchain, atau platform baru mungkin meningkatkan efisiensi, tetapi founder juga perlu menghitung ketergantungan terhadap platform, perubahan perilaku pelanggan, kompetitor baru, biaya adaptasi, dan risiko hilangnya kontrol terhadap bagian penting dari bisnis.
Pelajaran pentingnya sederhana: digital-first tidak selalu berarti business-first. Teknologi dapat menjadi sumber keunggulan ketika memperkuat value proposition dan model bisnis, tetapi dapat menjadi distraksi ketika digunakan hanya karena sedang populer. Berger et al. (2021) justru mendorong pemahaman yang lebih seimbang mengenai manfaat sekaligus sisi negatif digitalisasi. Bagi founder, keputusan terbaik bukan menjadi startup yang paling digital, tetapi menjadi bisnis yang paling tepat menggunakan digitalisasi untuk menghasilkan value.
Referensi
Berger, E. S. C., von Briel, F., Davidsson, P., & Kuckertz, A. (2021). Digital or not—The future of entrepreneurship and innovation: Introduction to the special issue. Journal of Business Research, 125, 436–442. https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2019.12.020
Comments :