Perubahan iklim tidak hanya menghadirkan ancaman, tetapi juga menciptakan kebutuhan pasar baru dalam bidang energi, pangan, pengelolaan limbah, transportasi, dan adaptasi bencana. Namun, peluang tersebut tidak otomatis berubah menjadi bisnis. Di negara berkembang, entrepreneur harus mampu membaca perubahan, percaya pada kemampuannya, dan memperoleh dukungan jaringan. Pada saat yang sama, partisipasi perempuan dalam ekonomi dan pengambilan keputusan dapat memperkuat kesiapan masyarakat menghadapi perubahan iklim.

Penelitian terhadap 299 entrepreneur yang tergabung dalam inkubator publik dan swasta di Pakistan menunjukkan bahwa pengenalan peluang menjadi jembatan penting antara kemampuan personal dan tindakan bisnis. Entrepreneurial alertness, keyakinan terhadap kemampuan diri, dan pemahaman atas kekuatan pribadi membantu entrepreneur menemukan kebutuhan pasar. Akan tetapi, peluang baru dapat dieksploitasi secara lebih efektif ketika entrepreneur juga memiliki kecerdasan sosial dan modal sosial yang kuat (Azam et al., 2026).

Temuan tersebut relevan bagi pengembangan green entrepreneurship. Entrepreneur perlu mengamati perubahan perilaku konsumen, risiko lingkungan, regulasi, dan masalah masyarakat sebagai sinyal peluang. Namun, kemampuan melihat masalah saja belum cukup. Jaringan dengan komunitas, pemerintah, akademisi, investor, dan pelaku industri membantu entrepreneur mendapatkan informasi, kepercayaan, pendanaan, serta mitra yang diperlukan untuk mengubah ide menjadi solusi yang dapat dijalankan. Karena itu, inkubator dan pendidikan entrepreneurship seharusnya tidak hanya mengajarkan penyusunan model bisnis, tetapi juga kemampuan membangun relasi dan kolaborasi (Azam et al., 2026).

Di sisi lain, SenGupta dan Atal (2026) menemukan bahwa pemberdayaan perempuan berkaitan dengan penurunan kerentanan iklim dan peningkatan kesiapan negara. Analisis terhadap 185 negara selama 1995–2022 menunjukkan bahwa peningkatan partisipasi perempuan dalam tenaga kerja, penguatan hak perempuan dalam bisnis dan hukum, serta keterwakilan politik menghasilkan dampak positif terhadap ketahanan iklim. Pemberdayaan politik perempuan menunjukkan pengaruh paling kuat, dengan peningkatan kesiapan iklim mencapai 41% pada beberapa model penelitian.

Jika kedua penelitian dibaca bersama, terlihat bahwa pemberdayaan perempuan bukan hanya isu kesetaraan, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan entrepreneurship yang berkelanjutan. Akses terhadap pekerjaan, hak berusaha, jaringan, pendidikan, pendanaan, dan ruang pengambilan keputusan memungkinkan lebih banyak perempuan mengenali serta mengembangkan peluang bisnis berbasis lingkungan. Pemberdayaan tersebut dapat memperkuat kebebasan ekonomi, tata kelola, alokasi sumber daya, dan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat (SenGupta & Atal, 2026).

Bagi pemerintah, kampus, dan inkubator bisnis, program entrepreneurship perempuan perlu bergerak melampaui pelatihan teknis jangka pendek. Prioritasnya adalah membangun kepercayaan diri, kepekaan membaca peluang, kecerdasan sosial, akses jaringan, perlindungan hukum, dan keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan. Kombinasi kemampuan individu dan lingkungan yang inklusif akan meningkatkan peluang lahirnya bisnis yang tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga membantu masyarakat beradaptasi terhadap perubahan iklim. Dengan demikian, perempuan yang diberdayakan dapat menjadi penggerak peluang bisnis sekaligus ketahanan iklim.

Referensi

Azam, S., Hussain, S., Muhamad, N., & Azam, H. (2026). Entrepreneurial opportunity recognition and exploitation in emerging economies. Journal of Innovation and Entrepreneurship, 15, Article 28. https://doi.org/10.1186/s13731-026-00643-8

SenGupta, S., & Atal, A. (2026). Women’s empowerment and climate resilience: Global evidence. Humanities and Social Sciences Communications, 13, Article 665. https://doi.org/10.1057/s41599-026-07440-4