Di tengah pasar yang dipenuhi berbagai produk serupa, kualitas saja belum cukup untuk membuat sebuah merek dipilih. Konsumen perlu mengenali merek dengan cepat sekaligus merasakan alasan emosional untuk mempercayainya. Karena itu, entrepreneur dan pelaku UMKM perlu menggabungkan dua kekuatan utama dalam strategi branding, yaitu identitas visual yang konsisten dan cerita merek yang relevan dengan budaya konsumennya.

Konsistensi visual membantu otak konsumen menghubungkan berbagai produk sebagai bagian dari satu keluarga merek. Ward et al. (2025) menemukan bahwa produk dari portofolio dengan tingkat kohesi visual tinggi memiliki brand recall 17 poin persentase lebih tinggi dibandingkan portofolio yang kurang konsisten. Produk tersebut juga dapat dihubungkan kembali dengan mereknya oleh 79% responden, dibandingkan hanya 35% pada portofolio dengan kohesi rendah. Temuan ini memperlihatkan bahwa logo, warna, bentuk kemasan, tipografi, karakter, gambar, dan slogan bukan hanya elemen estetika, tetapi aset yang memperkuat ingatan konsumen.

Namun, konsistensi tidak berarti seluruh produk harus terlihat sama. Produk baru tetap membutuhkan pembeda agar mudah dikenali dan tidak tertukar dengan varian lain. Menurut Ward et al. (2025), merek perlu menyeimbangkan kebutuhan untuk terlihat sebagai bagian dari portofolio yang sama dengan kebutuhan untuk tetap menonjol. Strateginya adalah mempertahankan elemen utama seperti logo, warna dominan, struktur kemasan, atau gaya ilustrasi, kemudian menggunakan nama varian, gambar produk, rasa, dan warna pendukung sebagai pembeda.

Identitas visual membuat merek dikenali, sedangkan storytelling budaya membuat merek memiliki makna. Anute et al. (2025) menemukan hubungan positif antara narasi berbasis mitologi atau budaya dengan persepsi autentisitas merek. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa arketipe emosional, seperti Hero, Sage, Creator, Caregiver, dan Explorer, berpengaruh secara signifikan terhadap loyalitas konsumen. Bahkan, arketipe emosional dapat menjelaskan sekitar 28,7% variasi loyalitas merek.

Bagi entrepreneur, kombinasi kedua pendekatan tersebut dapat diterapkan dengan menentukan aset visual yang selalu hadir pada setiap produk, memilih nilai budaya yang sesuai dengan karakter merek, dan menerjemahkannya secara konsisten ke dalam kemasan, konten digital, pelayanan, serta inovasi produk. Cerita tentang keberanian, kepedulian, kebersamaan, tradisi, atau transformasi dapat memperkuat hubungan emosional selama cerita tersebut autentik dan relevan. Penggunaan simbol budaya juga harus dilakukan secara etis agar tidak berubah menjadi eksploitasi atau sekadar ornamen pemasaran (Anute et al., 2025).

Pada akhirnya, merek yang kuat bukanlah merek yang terus mengubah identitasnya untuk mengejar perhatian. Merek yang kuat memiliki tampilan yang konsisten agar mudah dikenali dan cerita yang relevan agar layak dipercaya. Kombinasi kohesi visual dan storytelling budaya dapat membantu bisnis membangun pengenalan merek, autentisitas, serta loyalitas konsumen. Dengan kata lain, konsistensi membuat merek diingat, sedangkan makna membuat merek dipilih.

Referensi

Anute, N., Tripathi, M., Chawla, N., Havale, D. S., Kalshetti, P., Pathak, G., & Tripathi, S. (2025). Myth, memory, and market: Exploring cultural mythology in consumer brand perceptions. International Journal of Accounting and Economics Studies, 12(6), 100–109. https://doi.org/10.14419/b1kvja84

Ward, E., Trinh, G., Beal, V., Dawes, J., & Romaniuk, J. (2025). Standing out while fitting in: An objective measure of visual branding cohesion across a product portfolio. International Journal of Market Research, 67(1), 53–76. https://doi.org/10.1177/14707853241291443