Di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi digital, inovasi sering dinilai dari kecanggihan fitur atau kecepatan menghasilkan produk. Padahal, entrepreneur juga membutuhkan empati, kolaborasi, kemampuan mengelola kegagalan, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Kombinasi pembelajaran STEM, social and emotional learning atau SEL, serta design thinking menunjukkan bahwa inovasi terbaik tidak hanya menyelesaikan persoalan teknis, tetapi juga memahami manusia dan dampak sosialnya.

Perjalanan desain Finlandia memperlihatkan perubahan tersebut. Pada 1950-an, desain menjadi kekuatan modernisasi melalui kualitas estetika dan pengakuan internasional. Memasuki 1960-an, muncul kritik bahwa desain terlalu elitis sehingga fokusnya bergeser menuju kebutuhan masyarakat. Perkembangannya kemudian meluas ke desain industri, strategi organisasi, user-centered design, hingga pemikiran yang berorientasi pada keberlanjutan planet (Sotamaa, 2026). Ini menunjukkan bahwa desain bukan sekadar cara memperindah produk, tetapi alat strategis untuk menciptakan perubahan ekonomi dan sosial.

Prinsip serupa terlihat dalam pendidikan STEM. Penelitian terhadap 114 guru sekolah negeri di Yordania menunjukkan tingkat kesadaran yang tinggi mengenai hubungan pembelajaran STEM dengan lima kompetensi SEL, yaitu kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan membangun hubungan, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Nilai rata-rata kesadaran guru mencapai 4,96 dari skala 6. Namun, Bawaneh et al. (2026) menegaskan bahwa hasil tersebut menggambarkan persepsi guru, bukan bukti langsung bahwa penerapannya telah meningkatkan kemampuan sosial dan emosional siswa.

Kekuatan STEM terletak pada proses belajarnya. Kegiatan investigasi membantu siswa bertanya, menguji asumsi, membaca bukti, dan menerima sudut pandang yang berbeda. Sementara itu, design thinking menempatkan empati sebagai dasar dalam memahami masalah. Melalui kerja kelompok, eksperimen, komunikasi, dan pembuatan prototipe, siswa tidak hanya belajar menemukan solusi, tetapi juga mempertimbangkan konsekuensi serta dampaknya terhadap orang lain (Bawaneh et al., 2026). Kompetensi seperti ini sangat relevan bagi calon entrepreneur yang harus bekerja dalam ketidakpastian dan menghadapi kebutuhan pelanggan yang terus berubah.

Bagi pendidikan entrepreneurship dan inkubator bisnis, temuan tersebut berarti pembelajaran tidak boleh berhenti pada penyusunan model bisnis dan kemampuan presentasi. Peserta perlu dilatih melakukan observasi pelanggan, bekerja dalam tim multidisiplin, menguji prototipe, menerima kegagalan sebagai umpan balik, dan mengevaluasi dampak sosial maupun lingkungan dari solusi yang dibuat. Pengalaman Finlandia menunjukkan bahwa inovasi berkembang ketika metode desain menjadi pengetahuan bersama yang menghubungkan desainer, pelaku bisnis, akademisi, dan ahli teknologi. Kolaborasi tersebut kemudian diperkuat melalui riset bersama, kebijakan nasional, dan jaringan universitas–industri (Sotamaa, 2026).

Pada akhirnya, entrepreneur masa depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknologi dan kreativitas. Mereka perlu memahami emosi, membangun relasi, berkomunikasi, serta mengambil keputusan yang etis. Orientasi inovasi pun perlu bergerak dari sekadar berpusat pada pengguna menuju pendekatan yang juga memperhitungkan masyarakat dan keberlanjutan planet (Sotamaa, 2026). Dengan demikian, inovasi yang kuat bukan hanya menghasilkan produk yang berfungsi, tetapi juga menciptakan kehidupan yang lebih baik dan masa depan yang lebih bertanggung jawab.

Referensi

Bawaneh, A. K., Al-Hattami, A., Alghazo, Y. M., Al-Salman, S. M., & Abusini, B. S. (2026). Understanding the role of STEM in promoting social and emotional learning: A study of teacher awareness in Jordan. Qubahan Academic Journal, 6(1), 662–675. https://doi.org/10.48161/qaj.v6n1a2296

Sotamaa, Y. (2026). The impact of design on the modernization of Finland. She Ji: The Journal of Design, Economics, and Innovation, 12(1), 107–126. https://doi.org/10.1016/j.sheji.2026.02.005