Banyak startup menganggap coaching hanya sebagai sesi motivasi atau mentoring biasa. Studi Fingas, Busch, Dreyer, dan Lehmann-Willenbrock menunjukkan bahwa dalam coaching copreneur, dinamika verbal sangat memengaruhi munculnya self-regulation statement, yaitu pernyataan yang menunjukkan komitmen, keputusan, dan rencana tindakan dari coachee. Menariknya, working alliance verbalization tidak secara langsung memicu self-regulation, sementara dukungan, pertanyaan terbuka, dan keterlibatan aktif coachee lebih berperan.

Bagi startup leader, ini penting terutama dalam hubungan co-founder. Banyak masalah founder tidak selesai karena terlalu banyak nasihat dan terlalu sedikit pertanyaan yang membuat orang berpikir. Coaching yang baik bukan memaksa jawaban, tetapi membantu founder menyatakan sendiri apa masalahnya, apa pilihannya, dan tindakan apa yang akan diambil.

Dalam praktiknya, leader perlu membangun budaya percakapan yang mendorong self-disclosure, problem-focused statement, dan action commitment. Jangan hanya bertanya “sudah selesai atau belum?”, tetapi tanyakan “hambatan utamanya apa?”, “opsi mana yang paling realistis?”, dan “langkah apa yang akan dilakukan besok?”. Percakapan yang tepat bisa mengubah kebingungan menjadi eksekusi.

Reference: Fingas, S. M., Busch, C., Dreyer, R., & Lehmann-Willenbrock, N. (2025). Zooming in: Identifying fine-grained verbal dynamics that influence coachees’ self-regulation statements during copreneur coaching sessions. Journal of Occupational and Organizational Psychology, 98, e70021. DOI: 10.1111/joop.70021.