Growth at All Costs? Utilitarianisme vs. Sustainable Scaling dalam Startup Digital
Di dunia startup digital, pertumbuhan sering diperlakukan sebagai dewa: user acquisition harus naik, valuasi harus melonjak, dan burn rate dianggap wajar selama grafik terus menanjak. Pola pikir ini sangat dekat dengan teori konsekuensialis, khususnya utilitarianisme, yang menilai tindakan berdasarkan dampaknya terhadap “kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbanyak”. Jika sebuah platform memperluas akses layanan, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan efisiensi pasar, maka strategi agresif sering dianggap sah. Namun pertanyaannya bukan hanya berapa banyak yang diuntungkan, tetapi juga siapa yang dirugikan dan dalam jangka waktu berapa lama.

Utilitarianisme dalam konteks startup dapat mendorong keputusan ekstrem: eksploitasi data demi personalisasi, tekanan kerja berlebihan demi milestone pendanaan, atau strategi predatory pricing untuk mematikan kompetitor kecil. Secara jangka pendek, hasilnya mungkin menguntungkan mayoritas pengguna atau investor. Namun konsekuensi jangka panjang, kehilangan kepercayaan publik, burnout tim, atau distorsi ekosistem industri, sering diabaikan. Ketika dampak negatif mulai muncul, barulah perusahaan menyadari bahwa kalkulasi “total benefit” sebelumnya terlalu sempit.
Sustainable scaling menawarkan pendekatan yang lebih matang terhadap pertumbuhan. Alih-alih hanya mengukur keberhasilan dari angka pengguna dan revenue, startup perlu memperluas horizon evaluasi dampak: kesejahteraan tim, keamanan data, stabilitas ekosistem mitra, serta keberlanjutan sosial dan lingkungan. Ini bukan anti-pertumbuhan, tetapi redefinisi pertumbuhan. Growth tidak lagi sekadar cepat, melainkan bertanggung jawab dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, pertanyaan etisnya bukan apakah startup boleh tumbuh agresif, melainkan bagaimana cara tumbuh tanpa mengorbankanfondasi moralnya sendiri. Utilitarianisme tetap relevan sebagai alat analisis dampak, tetapi harus dipadukan dengan kesadaran akan batas dan tanggung jawab. Startup yang mampu menyeimbangkan growth dan integritas akan lebih siap menghadapi krisis, regulasi, dan dinamika pasar yang terus berubah.
Referensi: Brusseau, J. (2012). Business Ethics (v.1.0). Chapter 3: Theories of Consequence Ethics; Chapter 13: The Responsible Office: Corporations and Social Responsibility; Chapter 14: The Green Office: Economics and the Environment.
Comments :