Corporate Social Responsibility sering diasosiasikan dengan perusahaan besar yang telah mapan secara finansial. Namun dalam ekosistem startup, muncul pertanyaan menarik: apakah tanggung jawab sosial harus menunggu sampai perusahaan profitable, atau justru menjadi bagian dari fondasi sejak awal? Banyak startup menggunakan narasi dampak sosial sebagai diferensiasi merek. Di sinilah muncul dilema etis antara CSR sebagai strategi branding dan CSR sebagai komitmen moral.

Dalam teori tanggung jawab sosial perusahaan, ada perdebatan klasik mengenai peran bisnis dalam masyarakat. Sebagian berpendapat bahwa tujuan utama perusahaan adalah menghasilkan keuntungan bagi pemiliknya. Selama hukum dipatuhi, kewajiban telah terpenuhi. Namun pandangan lain menekankan bahwa perusahaan beroperasi dalam jaringan sosial yang lebih luas dan karenanya memiliki tanggung jawab terhadap komunitas, lingkungan, dan pemangku kepentingan lainnya. Startup yang mengabaikan dimensi ini mungkin terlihat efisien, tetapi berisiko kehilangan legitimasi publik.

Ketika CSR dijadikan alat pemasaran tanpa komitmen nyata, praktik tersebut mendekati greenwashing atau impact washing. Dalam jangka pendek, strategi ini mungkin efektif menarik perhatian investor dan pengguna. Namun dalam jangka panjang, inkonsistensi antara klaim dan tindakan dapat merusak kepercayaan. Etika bisnis menuntut konsistensi antara nilai yang dikomunikasikan dan praktik yang dijalankan.

Pada akhirnya, CSR bukan sekadar program tambahan, melainkan refleksi dari bagaimana startup memahami perannya dalam masyarakat. Startup yang sejak awal menyelaraskan model bisnis dengan dampak sosial akan membangun reputasi yang lebih kuat dan berkelanjutan. Pertanyaannya bukan apakah CSR menguntungkan, tetapi apakah perusahaan bersedia memandang dirinya sebagai bagian dari ekosistem sosial yang lebih besar.

Referensi: Brusseau, J. (2012). Business Ethics (v.1.0). Chapter 13: The Responsible Office: Corporations and Social Responsibility; Chapter 14: The Green Office: Economics and the Environment; Chapter 1: What Is Business Ethics?