{"id":694,"date":"2022-09-01T10:48:59","date_gmt":"2022-09-01T03:48:59","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/?p=694"},"modified":"2022-09-01T10:48:59","modified_gmt":"2022-09-01T03:48:59","slug":"perkembangan-furniture-western-classic","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/2022\/09\/01\/perkembangan-furniture-western-classic\/","title":{"rendered":"Perkembangan Furniture Western Classic"},"content":{"rendered":"<p>Mebel digunakan sebagai sarana untuk menghadirkan citra pemakainya untuk menampilkan kekuasaan dan kemewahan bagi penguasa pada zamannya. Hal ini terbukti dari kelahiran beberapa gaya desain mebel klasik yang cenderung mencerminkan eksistensi dari penguasa, termasuk para bangsawan dan raja pada saat mereka berkuasa.<\/p>\n<p>Desain-desain mebel klasik banyak dipengaruhi oleh gaya arsitektur gereja yang bersifat religius dan sakral, sehingga karakteristik yang ditampilkan dalam desain mebel pada umumnya senada dengan gaya arsitekturnya pada zamannya. Kelas-kelas penguasa sudah menggunakan kursi dalam ruang dengan desain yang proporsi, geometris, simetris untuk menampilkan kekuatan dan kelestarian. Mebel-mebel untuk menduduki orang dijadikan titik awal bagi perkembangan gaya mebel Eropa.<\/p>\n<p>Pada zaman itu, kursi hanya dapat digunakan bagi orang-orang tingkat tinggi sebagai simbol yang memperlihatkan kehormatan. Ukiran-ukiran yang menyerupai kaki binatang seperti sapi atau singa diterapkan pada bagian kaki kursi. Hiasan-hiasan yang rumit, bergulung-gulung, dan bergelora, serta sarat dengan unsur dekoratif pada zaman Mesir, Yunani dan Roma menjadi ciri khasnya perkembangan desain mebel klasik Eropa.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Secara ringkas desain\u00a0 mebel\u00a0 klasik\u00a0 dan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 klasik\u00a0 Eropa\u00a0 memiliki karakteritik sebagai berikut,<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Desain yang dibuat bertujuan untuk memperoleh kebanggaan, kemewahan atau bensi sosial, serta untuk melegitimasi kekeuasaan raja<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Produk tidak dibuat secara masal<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Desain dikerjakan oleh seniman<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Desain cenderung eksklusif<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Desain yang mayoritas penuh dengan hiasan dan produk dikerjakan oleh tukang kayu<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Bersifat kerajinan tangan dan dibuat secara manual<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Desain dibuat berdasarkan raja atau bangsawan<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Kemampuan atau keterampilan yang digunakan berlandaskan pada tradisi alamiah secara turun-temurun.<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Esensi gaya desain mebel klasik berpijak pada konsep fungsi harus mengikuti makna bentuk dan ornamen<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Perkembangan furniture western classic dibagi dalam 3 waktu yaitu: Ancient Furniture, Medieval Furniture, dan Modern Furniture<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>-Ancient Furniture<\/p>\n<p>Ancient furniture adalah furniture tertua, umur dari furniture ini bisa dari 5 abad sebelum masehi. furniture ini terbuat dari kayu sehingga mudah sekali membusuk seiring waktu, namun ada beberapa yang bertahan karena cuaca iklim yang extrem sehingga menunda waktu pembusukan tersebut, contoh saja seperti di Mesir.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>-Medieval Furniture<\/p>\n<p>Medieval Furniture berasal dari jatuhnya Kaisar Romawi terakhir pada 476 M, hingga jatuhnya Konstantinopel pada 1453, adalah era dimana furniture mulai menampakkan pengembangan karakteristik modernnya, Furnitur abad pertengahan terutama terbuat dari kayu ek, karena mudah diperoleh, kuat dan tahan lama. Karena pada abad ini kerajaan masih terbentuk ,Furniture pada abad ini biasanya menggunakan desain yang rumit juga warna yang terlihat agak kuning, kadang bahan yang digunakan adalah kulit dan kayu.Furniture penting yang ada pada era ini adalah peti, Jenis peti yang dikenal sebagai kandang dapat digunakan untuk mengemas barang-barang rumah tangga saat bepergian, tetapi juga digunakan sebagai tempat duduk, meja, dan sofa. Saat tidak bepergian, kadang digunakan untuk penyimpanan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>-Modern Furniture<\/p>\n<p>Pada abad ke 19 desain furniture kian berubah, desain furnitur sering kali rumit mulai berubah kearah simple dan fungsional. Pada abad ini manusia mulai menggunakan bahan lain untuk membuat furniture yaitu besi, plastik, maupun keramik, yang pada dahulu orang orang hanya bisa membuat furniture hanya menggunakan kayu. Desain mulai berbeda setiap furniturenya, dimana ada diantaranya mudah dipasang dan dilepas, sehingga memudahkan dalam pemindahan furniture.<\/p>\n<p>Furniture di masa modern juga mudah dipasang dimana saja, sehingga mudah untuk menghemat tempat di lahan yang sempit tapi tetap berguna untuk fungsi furniture tersebut<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Untuk lebih lengkapnya<\/p>\n<p>1.Ancient Furniture: Ancient Egypt Furniture\u2192 Assyria Furniture\u2192Ancient Greek Furniture\u2192Ancient Roman Furniture<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Medieval Furniture: Byzantine Furniture\u2192 Imitation Roman furniture\u2192Gothic furniture<\/li>\n<li>Modern furniture: Renaissance furniture\u2192Baroque furniture\u2192 Rococo furniture\u2192Neoclassical furniture<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mebel digunakan sebagai sarana untuk menghadirkan citra pemakainya untuk menampilkan kekuasaan dan kemewahan bagi penguasa pada zamannya. Hal ini terbukti dari kelahiran beberapa gaya desain mebel klasik yang cenderung mencerminkan eksistensi dari penguasa, termasuk para bangsawan dan raja pada saat mereka berkuasa. Desain-desain mebel klasik banyak dipengaruhi oleh gaya arsitektur gereja yang bersifat religius dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":41,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-694","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/694","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/users\/41"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=694"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/694\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":695,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/694\/revisions\/695"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=694"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=694"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=694"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}