{"id":2780,"date":"2025-12-29T14:48:46","date_gmt":"2025-12-29T07:48:46","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/?p=2780"},"modified":"2025-12-29T14:48:46","modified_gmt":"2025-12-29T07:48:46","slug":"desain-interior-retail-aesop-dialog-antara-material-ruang-dan-pengalaman-pengguna","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/2025\/12\/29\/desain-interior-retail-aesop-dialog-antara-material-ruang-dan-pengalaman-pengguna\/","title":{"rendered":"Desain Interior Retail Aesop: Dialog antara Material, Ruang, dan Pengalaman Pengguna"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2781\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-29-at-14.48.01.jpeg\" alt=\"\" width=\"787\" height=\"263\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-29-at-14.48.01.jpeg 787w, https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-29-at-14.48.01-300x100.jpeg 300w, https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-29-at-14.48.01-768x257.jpeg 768w, https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-29-at-14.48.01-480x160.jpeg 480w\" sizes=\"auto, (max-width: 787px) 100vw, 787px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Aesop bukan sekadar toko retail biasa. Setiap ruang di tokonya dirancang untuk<br \/>\nmenjadi pengalaman unik di mana material, konteks lokal, pola ruang, dan pengalaman<br \/>\npelanggan berkolaborasi dengan baik. Setiap toko Aesop didesain dengan<br \/>\nmempertimbangkan budaya lokal dan lingkungan sekitarnya, sehingga menciptakan<br \/>\nsuasana yang memiliki nilai identitas, bermakna, dan tetap relevan sepanjang waktu.<br \/>\nPendekatan ini terlihat jelas pada desain retail Aesop di seluruh dunia, termasuk di<br \/>\nMelbourne\u2019s Flinders Lane, di mana Studio MLKK membawa karakter lokal Melbourne<br \/>\nmelalui eksplorasi material yang terbilang unik dan tak terduga. Desain interior retail<br \/>\nAesop menjadi contoh penting bagaimana arsitektur dan desain interior dapat<br \/>\nmencerminkan pengalaman, cerita, dan konteks setempat secara mendalam.<br \/>\nPola Ruang<br \/>\nBerbeda dengan ruang retail konvensional yang sering memaksakan jalur sirkulasi<br \/>\nmemutar atau pemasangan signage tebal untuk mengarahkan konsumen, pola ruang<br \/>\nAesop justru bersifat tenang, fokus, dan intuitif.<br \/>\nDi toko Aesop Flinders Lane, pola ruang interior mengikuti konsep \u201cgua<br \/>\nberombak\u201d yang dibuat oleh Studio MLKK. Struktur ini bukan hanya elemen estetis,<br \/>\ntetapi juga menjadi mesin ritme visual dan sirkulasi. Ruang tidak dipaksa berputar atau<br \/>\nberbelok tajam, melainkan tampak mengalir seperti sungai, membimbing pengunjung<br \/>\ndari satu zona ke zona lain secara halus tanpa disadari. Permukaan bertekstur karton yang<br \/>\nmelengkung menciptakan sekat-sekat ruang secara obertonal, membentuk area fokus<br \/>\nuntuk display produk, area konsultasi, dan bahkan area sirkulasi itu sendiri.<br \/>\nPendekatan ini memperlambat langkah pengunjung. Interaksi dengan ruang<br \/>\nmenjadi bagian penting dari pengalaman saat masuk kedalam toko atau bahkan sebelum<br \/>\nsampai ke display produk.<br \/>\nSirkulasi<br \/>\nSirkulasi dalam desain Aesop dirancang agar pengunjung merasa berada dalam<br \/>\n\u201csuatu perjalanan\u201d, bukan sekadar pergerakan dari titik A ke B dalam konteks komersial.<br \/>\nArea sirkulasi dibuat cukup jernih, tanpa hambatan visual yang mengganggu, sebagai<br \/>\nmanifestasi dari pemikiran desain yang lebih mengutamakan kualitas pengalaman<br \/>\ndibandingkan efisiensi murni.<br \/>\nDalam proyek Melbourne ini, permukaan dinding yang bergelombang yang dibuat<br \/>\ndari 1,550 lembar karton berkontribusi terhadap cara pengunjung bergerak melintasi<br \/>\nruang, memberi arah secara halus tanpa adanya tanda panah atau petunjuk paksa. Setiap<br \/>\nlengkungan dinding mendorong, melambatkan, atau membuka area berbeda yang bisa<br \/>\nditemukan pengunjung.<br \/>\nMaterial dan Sustainability<br \/>\nSalah satu hal yang paling mencolok dari interior Aesop Flinders Lane adalah<br \/>\npenggunaan karton sebagai material utama interior, yang diolah menjadi permukaan<br \/>\nbergelombang menyerupai gua organik. Secara eksplisit, Studio MLKK menggunakan<br \/>\n1,550 lembar karton untuk membentuk struktur tersebut sebuah pendekatan yang sangat<br \/>\ntidak biasa dalam desain retail.<br \/>\nKarton sebagai material interior bukan hanya simbol kesadaran terhadap<br \/>\nlingkungan; ia juga membawa kualitas sensual\u2014tekstur, bentuk, dan detail yang<br \/>\nmengundang pengunjung untuk menyentuh dan mengamati lebih dekat. Ketika cahaya<br \/>\nbermain di atas permukaan yang berlapis-lapis, ruang tampil sebagai fenomena visual<br \/>\nyang berubah-ubah, bukan permukaan datar biasa.<br \/>\nAspek Kontekstual<br \/>\nApa yang membedakan Aesop dengan banyak brand lain adalah kesadaran kuat<br \/>\nterhadap konteks lingkungan lokal. Desain interior Aesop di Flinders Lane tidak<br \/>\nditempatkan secara arbitrer. Ia adalah respons terhadap sejarah jalanan Melbourne yang<br \/>\ndikenal dengan arsitektur industrial, kreativitas seni jalanan, dan skala urban yang intim.<br \/>\nElemen desain karton yang bergelombang bagaikan \u201ctopografi visual\u201d yang<br \/>\nmerangkul konteks sekitar sebuah interpretasi ulang dari material industri sehari-hari.<br \/>\nDalam banyak foto dokumentasi proyeknya, perancang mengklaim bahwa ruang ini<br \/>\nmengundang pengunjung untuk berhenti, melihat, merasakan, dan akhirnya membentuk<br \/>\nhubungan dengan tempat itu sendiri.<br \/>\nPendekatan seperti ini membuat toko tidak kehilangan identitas lokalnya,<br \/>\nsekaligus memperkaya pengalaman pengguna dengan kesadaran akan ruang dan budaya<br \/>\ndi mana toko itu berada.<br \/>\nKesimpulan<br \/>\nDesain interior retail Aesop, khususnya pada proyek di Flinders Lane, Melbourne,<br \/>\nmenunjukkan bagaimana kualitas ruang dapat dibentuk dengan:<br \/>\n\u2022 Pola ruang yang mengalir dan intuitif<br \/>\n\u2022 Sirkulasi yang tenang dan mengundang eksplorasi<br \/>\n\u2022 Material yang bermakna baik secara visual maupun sustainable<br \/>\n\u2022 Desain yang sensitif terhadap konteks lokal<br \/>\nDalam konteks dunia desain interior, Aesop memberi contoh penting bahwa retail<br \/>\ntidak harus monoton. Dengan design creativity thinking dapat menjadi tempat naratif<br \/>\nbukan sekadar wadah produk tapi setiap elemen ruang berpotensi menjadi pesan, bukan<br \/>\nhanya fungsi.<br \/>\nReferensi<br \/>\n\u2022 Australian Design Review \u2013 Aesop\u2019s design team: Q&amp;A with Kian Yam and Tim Mather<br \/>\nhttps:\/\/www.australiandesignreview.com\/architecture\/aesops-design-team-qa-with-kianyam-and-tim-mather\/<br \/>\n\u2022 Aesop Official Website \u2013 Store Design Philosophy<br \/>\nhttps:\/\/www.aesop.com<br \/>\n\u2022 Dezeen \u2013 Aesop stores architecture and interiors<br \/>\nhttps:\/\/www.dezeen.com\/tag\/aesop\/<br \/>\n\u2022 Options The Edge \u2013 Aesop store design speaks sensitively to local surroundings,<br \/>\nhonouring neighbourhoods and contexts<br \/>\nhttps:\/\/www.optionstheedge.com\/topic\/haven\/aesop-store-design-speaks-sensitivelylocal-surroundings-honouring-neighbourhoods-and<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aesop bukan sekadar toko retail biasa. Setiap ruang di tokonya dirancang untuk menjadi pengalaman unik di mana material, konteks lokal, pola ruang, dan pengalaman pelanggan berkolaborasi dengan baik. Setiap toko Aesop didesain dengan mempertimbangkan budaya lokal dan lingkungan sekitarnya, sehingga menciptakan suasana yang memiliki nilai identitas, bermakna, dan tetap relevan sepanjang waktu. Pendekatan ini terlihat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":41,"featured_media":2752,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-2780","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2780","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/users\/41"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2780"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2780\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2782,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2780\/revisions\/2782"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2752"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2780"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2780"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/interior\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2780"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}