{"id":762,"date":"2022-07-03T14:36:03","date_gmt":"2022-07-03T07:36:03","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/?p=762"},"modified":"2023-08-10T16:40:51","modified_gmt":"2023-08-10T09:40:51","slug":"business-model-design-storytelling","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/business-model-design-storytelling\/","title":{"rendered":"BUSINESS MODEL DESIGN: STORYTELLING"},"content":{"rendered":"<p><em>Storytelling<\/em> atau yang disebut sebagai mendongeng adalah sebuah teknik bercerita yang dibawakan oleh seseorang untuk menghibur <em>audience<\/em>. <em>Storytelling<\/em> menekankan kemampuan penyajian dalam bentuk cerita dengan gaya, intonasi, serta alat peraga untuk membuat <em>audience <\/em>tertarik. <em>Storytelling<\/em> termasuk dalam pelatihan kemampuan berbicara dan mendengarkan atau <em>listening<\/em> untuk kita sebagai pemilik perusahaan dan para <em>audience\/client<\/em>. Cerita yang dibawakan dalam <em>storytelling<\/em> biasanya adalah cerita yang menarik dan memikat sehingga dapat meyakinkan pendengar untuk membeli produk yang kita tawarkan. Seperti yang ada dalam <em>Business Model Canvas<\/em>,<em> storytelling <\/em>juga masuk ke dalam salah satu tahapan dalam BMC yang dimana kita harus bisa mempresentasikan, membawakan, dan meyakinkan <em>consumer<\/em> untuk memilih produk\/jasa kita. Baik halnya dalam BMC yang membantu kita dalam penyusunan business model seperti <em>sketching<\/em> dan analisa, <em>storytelling<\/em> juga bisa membantu kita dalam berkomunikasi. Hal ini dikarenakan sebuah cerita yang bagus mampu mengikutsertakan para pendengar sehingga cerita tersebut dapat menjadi alat yang ideal untuk menyiapkan diskusi yang lebih mendalam tentang business model yang ingin disampaikan. <em>Storytelling<\/em> mendapat keuntungan yang kuat dalam penjelasannya dengan meyakinkan ketidakpercayaan pada orang-orang atau konsumer-konsumer yang baru atau tidak dikenal.<\/p>\n<p><em>Storytelling<\/em> sendiri memiliki beberapa tujuan dalam penyampaiannya, yaitu:<\/p>\n<ul>\n<li>Memberikan pengalaman baru serta menambah wawasan <em>audience<\/em><\/li>\n<li>Membuka wawasan dan pemahaman mengenai suatu konsep bisnis yang disampaikan<\/li>\n<li>Melatih <em>public speaking<\/em>,<em> pitching technique<\/em> dan <em>word picking<\/em> bagi penyaji dalam menyampaikan ide bisnisnya.<\/li>\n<li>Memberikan dan menyajikan rasa puas, senang, dan pengertian untuk para <em>audience<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>Mengapa <em>Storytelling<\/em>?<\/strong><\/p>\n<p>Banyak ide bisnis yang bisa tiba-tiba muncul di dalam sebuah organisasi, dan ide tersebut terkadang baik dan berguna namun terkadang sama sekali tidak berguna. Oleh karena itu, <em>pitching<\/em> atau pengenalan sebuah ide sangatlah penting dengan menyaring semua elemen-elemen yang ada dan merubahnya menjadi sebuah cerita yang unik, mudah dipahami, dan memikat. Disinilah peran <em>storytelling<\/em> sangat membantu, karena baik <em>client<\/em>, manager maupun orang-orang yang ingin berperan dalam ide tersebut tertarik dengan fakta dan angka-angka yang jelas. Menceritakan sebuah cerita yang unik dapat lebih memenangkan perhatian mereka. Hal ini dikarenakan sebuah cerita yang unik dapat dengan cepat menggarisbawahi sebuah ide sebelum masuk ke dalam detail-detail dari ide tersebut. Kita sebagai seorang <em>entrepreneur<\/em> memiliki kemungkinan yang besar untuk melakukan <em>pitching<\/em> terhadap ide bisnis kita kepada para investor atau orang-orang yang memiliki potensi untuk bekerja sama. Disini para investor dan <em>shareholder<\/em> pastinya akan menanyakan <em>value<\/em> apa yang bisa kita berikan kepada customer serta bagaimana cara kita mendapatkan uang dari ide yang kita sampaikan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi ide cerita yang sempurna untuk kita susun dan menjadi cara yang ideal untuk memperkenalkan usaha dan ide bisnis kita sebelum masuk ke dalam rencana bisnis yang sesungguhnya.<\/p>\n<p>Saat kita melakukan perpindahan ranah dari bisnis yang sudah ada ke bisnis model baru, maka perlu adanya perubahan dalam struktur organisasi dengan meyakinkan <em>collaborator<\/em> untuk mengikuti ide bisnis kita. Sebuah perusahaan yang melakukan perubahan atau pegantian membutuhkan pergerakan dan keterlibatan untuk para karyawan mereka. Hal ini dikarenakan merekalah yang mencakup sebagian besar kinerja dan kegiatan yang berjalan di dalam sebuah perusahaan.<\/p>\n<p>Bentuk presentasi yang didasari oleh <em>text based presentation<\/em> seringkali mengalami kegagalan karena penyampaian mereka yang membosankan dengan hanya memberikan text sehingga para <em>audience<\/em> cepat merasa lelah dan bosan, maka dari itu pengenalan ide bisnis yang dilakukan dengan <em>storytelling<\/em> dapat lebih menarik perhatian para <em>audience<\/em> dengan bantuan <em>powerpoint<\/em>, gambar, grafik, dan ilustrasi yang jauh lebih menarik dan mudah dipahami bagi para <em>audience<\/em>. Memikat perhatian dan meyakinkan orang adalah tujuan utama dari <em>storytelling<\/em>, baik dengan presentasi maupun diskusi, bagaimanapun model<em>\/platform<\/em> pembawaan kita, jika kita bisa memiliki teknik dan cara pembawaan yang unik, maka orang pun akan memberikan poin plus dan apresiasi untuk presentasi kita, itulah keuntungan jika kita dapat menguasai <em>storytelling<\/em> dengan baik.<\/p>\n<p><strong>Pembuatan business model menjadi nyata dengan <em>storytelling<\/em><\/strong><\/p>\n<p><em>Goal<\/em> atau target dari <em>storytelling<\/em> itu sendiri adalah untuk memperkenalkan ide bisnis dengan cara yang unik dan memikat, seperti contoh iklan-iklan yang menggunakan kalimat-kalimat unik, promosi yang berkedok cerita <em>clickbait<\/em>, pembawaan cerita dengan nada yang tidak membosankan, dan masih banyak lagi. Cara-cara itulah yang dapat memenuhi target dari <em>storytelling<\/em>, namun jangan lupa untuk membuat cerita yang kita sampaikan tetap <em>simple<\/em> dan mudah dicerna karena cerita ide bisnis yang ribet, akan sulit dipahami oleh para <em>client<\/em> yang akan membuat mereka hilang <em>interest<\/em> terhadap ajakan kita. Pembawaan <em>storytelling<\/em> juga harus dilihat dari <em>audience<\/em> yang akan kita hadapi. Hal ini dikarenakan setiap kalangan atau jangka usia pasti memiliki <em>taste<\/em> mereka sendiri. Jadi jangan samakan pembawaan kita kepada semua orang baik tua maupun muda, karena tanggapan dan pemikiran mereka pasti berbeda-beda.<\/p>\n<p><strong>Berikut adalah <em>starting point<\/em> yang bisa kita gunakan untuk melakukan <em>storytelling<\/em><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Employee Persepective:<\/em><\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Menjelaskan bisnis model yang kita ingin berikan dengan bentuk <em>story told<\/em> dari pandangan seorang karyawan.<\/li>\n<li>Memakai karyawan sebagai tokoh utama yang mendemonstrasikan mengapa bisnis model yang baru lebih masuk akal.<\/li>\n<li>Dalam sebuah cerita, kita menempatkan diri kita sebagai karyawan yang bekerja di dalam sebuah perusahaan dan bisnis model yang kita miliki dapat kita ajukan untuk menyelesaikan masalah yang ada dalam perusahaan.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong><em>Customer Perspective:<\/em><\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Dalam persepektif seorang customer kita memiliki keunggulan <em>point start<\/em> untuk sebuah cerita.<\/li>\n<li>Kita dapat mengambil peran sebagai seorang <em>customer<\/em> dan menceritakan keluh kesah kita dari <em>point of view <\/em>atau sudut pandang seorang <em>customer<\/em>.<\/li>\n<li>Tantangan terbesar dengan <em>storytelling<\/em> yang mengambil peran sebagai <em>customer<\/em> adalah menjaga <em>tone<\/em> kita untuk tetap rendah dan tidak men<em>judge<\/em>\/menggurui secara cepat.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong><em>The Tangible Storytelling Future<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Cerita dapat menjadi suatu teknik yang indah untuk memisahkan dan memberikan jarak antara fiksi dan kenyataan. Hal ini dikarenakan dalam sebuah cerita kita bisa menempatkan diri kita dimana saja baik sebagai protagonis maupun antagonis, namun tidak lupa untuk tetap memberikan bumbu dari kenyataan itu sendiri sehingga tidak hanya sebuah cerita, melainkan menjadi kenyataan yang tertunda. Dengan itu, cerita memberikan alat yang kuat untuk bisa berdampak pada kejelasan untuk bisa bersaing dan berbeda dimasa yang akan datang. Hal ini juga bisa membantu menantang diri sendiri untuk lebih maju dan bisa mengadopsi sebuah bisnis model yang baru.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Storytelling atau yang disebut sebagai mendongeng adalah sebuah teknik bercerita yang dibawakan oleh seseorang untuk menghibur audience. Storytelling menekankan kemampuan penyajian dalam bentuk cerita dengan gaya, intonasi, serta alat peraga untuk membuat audience tertarik. Storytelling termasuk dalam pelatihan kemampuan berbicara dan mendengarkan atau listening untuk kita sebagai pemilik perusahaan dan para audience\/client. Cerita yang dibawakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":42,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-762","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/762","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/users\/42"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=762"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/762\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":763,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/762\/revisions\/763"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=762"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=762"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=762"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}