{"id":464,"date":"2022-03-17T16:29:03","date_gmt":"2022-03-17T09:29:03","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/?p=464"},"modified":"2023-08-10T16:55:06","modified_gmt":"2023-08-10T09:55:06","slug":"konsep-co-living-dalam-masyarakat-urban","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/konsep-co-living-dalam-masyarakat-urban\/","title":{"rendered":"Konsep Co Living dalam Masyarakat Urban"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">Ada fenomena baru dibidang hospitality yang muncul diera industry 4.0 saat ini yaitu <em>Community<\/em> <em>Living <\/em>atau bias akita kenal dengan sebutan <em>CoLiving<\/em>. Konsep hunian komunal (<a href=\"https:\/\/www.beritasatu.com\/tag\/co-living\"><em>co-living<\/em><\/a>) semakin diminati masyarakat urban. Konsep ini memungkinkan penghuni mendapatkan hunian dengan fasilitas lengkap, berlokasi strategis, dengan harga terjangkau . Riset Colliers International menyebutkan,\u00a0<a href=\"https:\/\/www.beritasatu.com\/tag\/co-living\"><em>co-living<\/em><\/a>\u00a0mirip seperti kos-kosan dengan fasilitas umum yang dapat dipakai bersama. Kebutuhan orang untuk sewa hunian terjangkau dan lokasi strategis masih sangat besar, tetapi minim pasokan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kondisi tersebut dibuktikan dengan lonjakan pekerja kelas menengah di pusat kota. Namun, lonjakan tersebut tidak diimbangi dengan fasilitas hunian sesuai harapan pekerja. Sales Manager Rukita Sabrina menjelaskan, masyarakat yang menginginkan hunian dengan konsep\u00a0<em>co-living<\/em>\u00a0sangat besar. Pemilik properti yang memiliki\u00a0<a href=\"https:\/\/www.beritasatu.com\/tag\/apartemen-sewa\">apartemen<\/a>\u00a0dapat mengubahnya menjadi hunian berbentuk\u00a0<em>co-living<\/em>\u00a0dengan harga mendekati kos-kosan. Selain itu, pemilik rumah juga dapat mengubahnya menjadi hunian\u00a0<em>co-living<\/em> agar lebih laku dibandingkan kos-kosan biasa. &#8220;Hunian\u00a0<em>co-living<\/em>\u00a0akan lebih bonafide serta dapat lebih laku dibandingkan kos-kosan. Investor juga dapat masuk segmen bisnis ini karena potensi sangat besar dengan belum banyak pemain,\u201d kata Sabrina.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">CoLiving sendiri sebenarnya lahir dari filosofi atau gaya hidup masyrakat urban yang mengiginkan gaya hidup baru dengan pendekat sosialis. Hal ini dilihat dari bisnis model Co Living yang menyasar kaum milinelas dengan menawarkan tempat tinggal beserta <em>share<\/em> <em>facility<\/em> yang bisa menghasilakn relasi dan koneksi baru bagi customer. Co Living akan menggandeng dan memfasilitasi beberapa komunitas dalam penyediaan <em>working<\/em> <em>place<\/em> , <em>meeting<\/em> <em>room<\/em> dan juga <em>hall<\/em> untuk melakukan aktivitas Bersama seperti <em>workshop<\/em> , diskusi dan juga pelatihan pelatihan. Dari ketersediaan <em>sharing<\/em> <em>room<\/em> , <em>communitylife<\/em> dan <em>event<\/em> ersebut nantinya akan membuat orang untuk tertarik menyewa tempat tinggal dengan suasana baru yang ditawarkan oleh <em>Coliving<\/em>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada fenomena baru dibidang hospitality yang muncul diera industry 4.0 saat ini yaitu Community Living atau bias akita kenal dengan sebutan CoLiving. Konsep hunian komunal (co-living) semakin diminati masyarakat urban. Konsep ini memungkinkan penghuni mendapatkan hunian dengan fasilitas lengkap, berlokasi strategis, dengan harga terjangkau . Riset Colliers International menyebutkan,\u00a0co-living\u00a0mirip seperti kos-kosan dengan fasilitas umum yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":42,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-464","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/464","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/users\/42"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=464"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/464\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":465,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/464\/revisions\/465"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=464"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=464"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=464"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}