{"id":2653,"date":"2026-06-20T11:23:01","date_gmt":"2026-06-20T04:23:01","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/?p=2653"},"modified":"2026-06-20T11:23:01","modified_gmt":"2026-06-20T04:23:01","slug":"strategi-adaptasi-di-era-disrupsi-digital-pembelajaran-dari-digital-entrepreneurship","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/strategi-adaptasi-di-era-disrupsi-digital-pembelajaran-dari-digital-entrepreneurship\/","title":{"rendered":"Strategi Adaptasi di Era Disrupsi Digital: Pembelajaran dari Digital Entrepreneurship"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>Strategi Adaptasi di Era Disrupsi Digital: Pembelajaran dari Digital Entrepreneurship<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Penulis: Dr. Riesta Devi Kumalasari, S.E., M.M<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Disrupsi digital telah menjadi keniscayaan yang mengubah lanskap bisnis secara fundamental. Teknologi seperti kecerdasan buatan, platform digital, dan otomatisasi tidak lagi sekadar alat bantu\u2014mereka telah menjadi kekuatan yang mendefinisikan ulang cara perusahaan menciptakan nilai, menjangkau pelanggan, dan bersaing. Namun, di tengah gegap gempita transformasi digital, pertanyaan kritis yang sering terabaikan adalah: bagaimana sebenarnya perusahaan\u2014khususnya startup digital\u2014berhasil menavigasi implementasi teknologi ini? Dan lebih penting lagi, apa yang membedakan mereka yang berhasil bertahan dari mereka yang tergusur?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Disrupsi digital bukan sekadar tentang mengadopsi teknologi baru. Ia adalah perubahan paradigma dalam cara berpikir, beroperasi, dan berinteraksi dengan ekosistem bisnis. Perusahaan-perusahaan tradisional yang gagal beradaptasi menghadapi risiko kehilangan relevansi, sementara startup digital yang lahir di era ini justru memiliki keunggulan karena tidak terbebani oleh legacy system dan budaya organisasi yang kaku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, penelitian menunjukkan bahwa memiliki teknologi canggih saja tidak cukup. Studi oleh Berman, Schallmo, dan Kraus (2024) yang terbit di European Journal of Innovation Management mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan digital entrepreneurship terletak pada bagaimana perusahaan mengimplementasikan artefak digital mereka\u2014sebuah proses yang mereka sebut digital implementation (DI). Temuan ini penting karena selama ini sebagian besar studi hanya berfokus pada tantangan yang dihadapi perusahaan mapan, sementara sisi startup digital yang justru menjadi motor disruptor masih kurang dieksplorasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penelitian Berman dkk. (2024) mengidentifikasi dua temuan utama yang menjadi fondasi strategi adaptasi di era disrupsi. Pertama, sepanjang perjalanan mereka, startup digital memanfaatkan dynamic capabilities (DC)\u2014baik yang baru diciptakan maupun yang disempurnakan\u2014untuk berhasil mengimplementasikan artefak digital mereka. Dynamic capabilities mengacu pada kemampuan perusahaan untuk mengintegrasikan, membangun, dan mengkonfigurasi ulang kompetensi internal guna merespons perubahan lingkungan dengan cepat. Ini bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan kapasitas organisasional untuk belajar, beradaptasi, dan bertransformasi secara berkelanjutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang menarik, hubungan ini bersifat timbal balik. Keberhasilan implementasi digital justru memungkinkan startup untuk menciptakan dynamic capabilities baru atau mempertahankan dan mengembangkan kapabilitas yang sudah ada. Dengan kata lain, adaptasi digital dan pengembangan kapabilitas organisasi adalah dua sisi dari koin yang sama\u2014saling memperkuat dalam siklus yang berkelanjutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kedua, penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa startup digital yang sukses menggunakan continuous learning dengan menggabungkan logika causation dan effectuation sepanjang perjalanan implementasi digital mereka. Logika causation adalah pendekatan perencanaan berbasis tujuan yang sudah ditetapkan, sementara effectuation adalah pendekatan yang lebih fleksibel\u2014memulai dengan sumber daya yang tersedia dan menyesuaikan tujuan seiring dengan pembelajaran yang berjalan. Kemampuan untuk berpindah secara dinamis antara kedua logika ini menjadi ciri khas entrepreneur digital yang adaptif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan temuan-temuan tersebut, ada beberapa strategi adaptasi yang dapat diadopsi oleh pelaku bisnis. Pertama, investasi dalam dynamic capabilities harus menjadi prioritas, bukan sekadar investasi teknologi. Perusahaan perlu membangun budaya belajar yang berkelanjutan, sistem yang mendukung eksperimen cepat, dan kepemimpinan yang mendorong fleksibilitas kognitif. Kedua, pendekatan implementasi digital harus bersifat iteratif\u2014menggabungkan perencanaan matang (causation) dengan eksperimen adaptif (effectuation) secara seimbang. Ketiga, kolaborasi dengan ekosistem digital\u2014termasuk startup, akademisi, dan policymaker\u2014menjadi semakin krusial untuk mengakses pengetahuan dan sumber daya yang diperlukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Referensi<br \/>\nBerman, T., Schallmo, D., &amp; Kraus, S. (2024). Strategies for digital entrepreneurship success: The role of digital implementation and dynamic capabilities. European Journal of Innovation Management, 27(9), 198-222.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Strategi Adaptasi di Era Disrupsi Digital: Pembelajaran dari Digital Entrepreneurship Penulis: Dr. Riesta Devi Kumalasari, S.E., M.M Disrupsi digital telah menjadi keniscayaan yang mengubah lanskap bisnis secara fundamental. Teknologi seperti kecerdasan buatan, platform digital, dan otomatisasi tidak lagi sekadar alat bantu\u2014mereka telah menjadi kekuatan yang mendefinisikan ulang cara perusahaan menciptakan nilai, menjangkau pelanggan, dan bersaing. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2654,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-2653","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2653","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2653"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2653\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2655,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2653\/revisions\/2655"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2654"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2653"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2653"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2653"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}