{"id":2095,"date":"2025-07-11T14:25:27","date_gmt":"2025-07-11T07:25:27","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/?p=2095"},"modified":"2025-07-11T14:25:27","modified_gmt":"2025-07-11T07:25:27","slug":"kapabilitas-kunci-untuk-merevolusi-perusahaan-di-era-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/kapabilitas-kunci-untuk-merevolusi-perusahaan-di-era-digital\/","title":{"rendered":"Kapabilitas Kunci untuk Merevolusi Perusahaan di Era Digital"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><strong>Kapabilitas Kunci untuk Merevolusi Perusahaan di Era Digital<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Penulis: Riefky Prabowo, SE., MBA.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"279\" data-end=\"811\">Transformasi digital tidak hanya menuntut perusahaan mengubah produk atau layanan mereka, tetapi juga menuntut perubahan mendasar dalam cara kerja internal dan kapabilitas organisasi. Dalam bab\u00a0<em data-start=\"473\" data-end=\"541\">\u201cDo You Have the Crucial Capabilities to Reinvent the Enterprise?\u201d<\/em>, Weill dan Woerner menekankan bahwa perusahaan harus memiliki fondasi organisasi yang kokoh agar dapat beradaptasi dan berkembang di tengah tekanan digital. Tanpa kapabilitas kunci yang mendukung, strategi digital secanggih apa pun akan gagal dieksekusi dengan optimal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"279\" data-end=\"811\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-large wp-image-499\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/malang\/minor-program\/wp-content\/uploads\/sites\/8\/2025\/07\/Screenshot-2025-07-08-at-11.30.29%E2%80%AFAM-1024x574.png\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"574\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"813\" data-end=\"1444\">Penulis mengidentifikasi\u00a0<strong data-start=\"838\" data-end=\"878\">delapan kapabilitas organisasi utama<\/strong>\u00a0yang harus dikembangkan untuk menciptakan\u00a0<em data-start=\"921\" data-end=\"949\">next-generation enterprise<\/em>. Kapabilitas tersebut mencakup antara lain: memahami kebutuhan dan tujuan pelanggan, menjadikan suara pelanggan sebagai pusat pengambilan keputusan, menciptakan budaya berbasis data (<em data-start=\"1133\" data-end=\"1149\">evidence-based<\/em>), menyediakan pengalaman pelanggan multiproduk dan multikanal, membangun kemitraan yang strategis, serta memodularisasi layanan melalui API (Application Programming Interfaces). Tak kalah penting adalah kemampuan untuk menyeimbangkan efisiensi, keamanan, dan kepatuhan di seluruh proses bisnis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"1446\" data-end=\"1968\">Perusahaan seperti Aetna dan BBVA menjadi contoh sukses dalam membangun kapabilitas ini secara strategis. Aetna, misalnya, mengalihkan fokusnya dari sekadar penyedia asuransi menjadi organisasi yang membantu pelanggan mencapai kesehatan yang lebih baik melalui data dan layanan digital. BBVA juga mereformasi struktur internal dan budaya organisasinya agar lebih lincah dalam merespons kebutuhan digital pelanggan. Transformasi ini tidak hanya soal teknologi, tetapi tentang kemampuan manusia dan proses yang mendasarinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"1970\" data-end=\"2530\">Weill dan Woerner juga memperkenalkan konsep organisasi ambidextrous\u2014yakni perusahaan yang mampu secara bersamaan berinovasi sambil menjaga efisiensi. Untuk mencapainya, perusahaan harus berani melakukan \u201coperasi besar-besaran\u201d dalam struktur dan pola pikir organisasi. Hal ini bisa meliputi pembentukan tim lintas fungsi, mengadopsi pendekatan agile, serta berinvestasi dalam pelatihan digital bagi karyawan dari berbagai level. Kapabilitas digital bukanlah proyek sekali jalan, melainkan hasil dari upaya berkelanjutan yang terintegrasi dengan tujuan bisnis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"2532\" data-end=\"2943\">Bab ini memberikan wawasan bahwa membangun kapabilitas organisasi adalah prasyarat untuk bertahan dan unggul dalam persaingan digital. Perusahaan yang mampu mengidentifikasi kelemahannya dan secara aktif mengembangkan delapan kapabilitas tersebut akan lebih siap untuk melakukan reinvensi secara menyeluruh. Transformasi bukan hanya soal memiliki visi, tetapi juga tentang kesiapan sistemik untuk mewujudkannya.<\/p>\n<p data-start=\"2950\" data-end=\"2964\"><strong data-start=\"2950\" data-end=\"2964\">Referensi:<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"2966\" data-end=\"3141\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Weill, P. and Woerner, S.L., 2018.\u00a0<em data-start=\"3001\" data-end=\"3101\">What\u2019s Your Digital Business Model? Six Questions to Help You Build the Next-Generation Enterprise<\/em>. Boston: Harvard Business Review Press.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kapabilitas Kunci untuk Merevolusi Perusahaan di Era Digital Penulis: Riefky Prabowo, SE., MBA. Transformasi digital tidak hanya menuntut perusahaan mengubah produk atau layanan mereka, tetapi juga menuntut perubahan mendasar dalam cara kerja internal dan kapabilitas organisasi. Dalam bab\u00a0\u201cDo You Have the Crucial Capabilities to Reinvent the Enterprise?\u201d, Weill dan Woerner menekankan bahwa perusahaan harus memiliki [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":42,"featured_media":2096,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-2095","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2095","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/users\/42"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2095"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2095\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2097,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2095\/revisions\/2097"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2096"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2095"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2095"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2095"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}