{"id":1947,"date":"2025-03-01T13:22:42","date_gmt":"2025-03-01T06:22:42","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/?p=1947"},"modified":"2025-03-01T13:22:48","modified_gmt":"2025-03-01T06:22:48","slug":"hybrid-entrepreneurship-berpijak-pada-experiential-learning-sebagai-kompas-menuju-entrepreneur-seutuhnya-part-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/hybrid-entrepreneurship-berpijak-pada-experiential-learning-sebagai-kompas-menuju-entrepreneur-seutuhnya-part-2\/","title":{"rendered":"HYBRID ENTREPRENEURSHIP: BERPIJAK PADA EXPERIENTIAL  LEARNING SEBAGAI KOMPAS MENUJU ENTREPRENEUR SEUTUHNYA (PART 2)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><strong>Hybrid Entrepreneurship: Berpijak Pada Experiential Learning Sebagai Kompas Menuju Entrepreneur Seutuhnya (Part 2)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Penulis: Febby Candra Pratama, S.E., M.M.<\/p>\n<p>Perlu difahami, bahwa entrepreneurship merupakan proses iteratif, di mana individu terus<br \/>\nmembangun pengalaman secara natural dari aktivitas bisnis yang dijalankan. Proses ini<br \/>\nmenjelaskan fenomena hybrid entrepreneurship, di mana individu memiliki kemampuan untuk<br \/>\nbertindak secara signifikan dalam membangun bisnis melalui pembelajaran dari pengalaman.<br \/>\nTransformasi individu dari fase wirausaha hibrida menjadi wirausaha penuh waktu, seiring<br \/>\nberjalannya waktu akan ditunjukkan melalui proses pembelajaran utama yang terbentuk saat<br \/>\nfase hibrida.<\/p>\n<p>Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ferreira (2019), menjelaskan hasil bahwa wirausaha<br \/>\nhibrida dan penuh waktu bukan merupakan proses yang linear, namun merupakan sebuah<br \/>\nsiklus. Individu memilih karir menjadi profesional dengan gaji tetap, lalu mendapatkan<br \/>\npengalaman, selanjutnya mencoba menjadi pengusaha sepenuhnya dan ketika menghadapi<br \/>\ntantangan tertentu yang dirasa sulit untuk diselesaikan dapat membuatnya kembali menjadi<br \/>\nprofesional sehingga lebih aman karena memiliki pendapatan pasti. Siklus ini menajamkan<br \/>\nkeilmuan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah bisnis yang akan dijalankan di masa<br \/>\ndepan.<\/p>\n<p><strong>Perjalanan Memantabkan Diri Menjadi Entrepreneur<\/strong><\/p>\n<p>Salah satu perjalanan individu menjadi entrepreneur adalah melalui fase hibrida. Fase ini<br \/>\nmenempatkan individu sebagai wirausaha sekaligus profesional berpenghasilan tetap. Dalam<br \/>\nfase ini, sangat penting untuk mengevaluasi pembelajaran yang ditempuh selama menjadi<br \/>\nwirausaha hibrida, untuk membangun pemahaman secara mendalam tentang perjalanan<br \/>\nmenjadi entrepreneur yang dinamis. Raffie and Feng (2014) menjelaskan bahwa pengusaha<br \/>\nhibrida memiliki karakter menjalankan bisnis dengan peluang bertahan dan sukses yang lebih<br \/>\nbaik. Penelitian oleh Lawrie (2019) menunjukkan bahwa 37% dari karyawan dengan usia 25 \u2013<br \/>\n34 tahun memiliki usaha sampingan dan menyerap tenaga kerja lokal.<\/p>\n<p>Perjalanan menjadi wirausaha seutuhnya melalui wirausaha hibrida setidaknya membantu<br \/>\nmeyakinkan individu untuk mampu melewati empat faktor utama dalam masa transisi, yakni:<\/p>\n<p><strong>Fear of Failure<\/strong> menghambat individu menjadi entrepreneur penuh waktu akibat faktor<br \/>\neksternal seperti norma sosial dan ekonomi yang tidak mendukung. Fase hibrida digunakan<br \/>\nsebagai strategi mitigasi risiko dengan menjaga pendapatan tetap sembari mengevaluasi<br \/>\npotensi bisnis.<\/p>\n<p><strong>Perceived Risk<\/strong> berkaitan dengan ketakutan akan kegagalan dan risiko ekonomi, sosial, dan<br \/>\nwaktu. Melalui fase hibrida, individu dapat mempelajari pasar dan mengurangi persepsi risiko<br \/>\nseiring dengan peningkatan pengalaman dan keterampilan.<\/p>\n<p><strong>Entrepreneurial Competency Development<\/strong> berperan dalam kesiapan transisi. Kompetensi<br \/>\nseperti pengenalan peluang, mitigasi risiko, dan pemanfaatan sumber daya berkembang selama<br \/>\nfase hibrida, meningkatkan kepercayaan diri individu untuk beralih menuju wirausaha<br \/>\nseutuhnya<\/p>\n<p><strong>Self-efficacy<\/strong> mencerminkan keyakinan individu dalam menjalankan bisnis. Pengalaman dalam<br \/>\nkewirausahaan hibrida dapat meningkatkan self-efficacy, sehingga meningkatkan<br \/>\nkemungkinan transisi.<\/p>\n<p>Kesimpulan dari fase ini, kewirausahaan hibrida bukan hanya pilihan sementara dalam proses<br \/>\nmenuju wirausaha seutuhnya, tetapi juga menjadi tahap pembelajaran yang menentukan<br \/>\nkesiapan individu untuk menjadi entrepreneur dengan catatan proses pada fase ini dilakukan<br \/>\nsecara terstruktur, terkontrol, dan disertai minat yang kuat untuk beralih dari fase hibrida<br \/>\nmenjadi entrepreneur seutuhnya.<\/p>\n<p>Jadi, menurut Anda, apakah fase hibrida menjadi tempat pembelajaran yang penting sehingga<br \/>\nindividu dapat menjadi entrepreneur seutuhnya di masa depan? Atau justru dapat menjebak<br \/>\nseseorang dalam zona nyaman sehingga kehilangan potensi dan peluang menjadi entrepreneur<br \/>\nseutuhnya?<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><br \/>\nFerreira, C. C. (2019). Entrepreneurial marketing and hybrid entrepreneurship: The case of JM<br \/>\nReid Bamboo Rods. Journal of Marketing Management, 35(9\u201310).<br \/>\nKolb, D. A. (1984). Experiential learning: Experience as the source of learning and<br \/>\ndevelopment. Prentice Hall.<br \/>\nLawrie, E. (2019). Drag queen or delivery driver: What\u2019s your side hustle? BBC News.<br \/>\nRaffiee, J., &amp; Feng, J. (2014). Should I quit my day job? A hybrid path to entrepreneurship.<br \/>\nAcademy of Management Journal, 57(4), 936\u2013963<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hybrid Entrepreneurship: Berpijak Pada Experiential Learning Sebagai Kompas Menuju Entrepreneur Seutuhnya (Part 2) Penulis: Febby Candra Pratama, S.E., M.M. Perlu difahami, bahwa entrepreneurship merupakan proses iteratif, di mana individu terus membangun pengalaman secara natural dari aktivitas bisnis yang dijalankan. Proses ini menjelaskan fenomena hybrid entrepreneurship, di mana individu memiliki kemampuan untuk bertindak secara signifikan dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":42,"featured_media":1948,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-1947","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1947","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/users\/42"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1947"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1947\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1949,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1947\/revisions\/1949"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1948"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1947"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1947"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/ebc\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1947"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}