Serial Entrepreneurship – Kesuksesan Tergantung Realisasi, Bukan Ide
Serial Entrepreneurship – Kesuksesan Tergantung Realisasi, Bukan Ide
Penulis: Dr. Kukuh Lukiyanto, S.T., M.M., M.T.
Pernahkah Anda mendengar seseorang berkata, “Aduh, ide bisnisku ini biasa saja. Mana bisa saingan dengan produk baru yang inovatif itu?” Atau mungkin Anda sendiri pernah merasa bahwa kesuksesan sebuah bisnis semata-mata bergantung pada kecemerlangan dan kebaruan idenya? Jika iya, mari sejenak kita merenung: benarkah demikian?
Dalam dunia wirausaha hampir semua ide bisnis dari yang paling sederhana hingga yang paling revolusioner, memiliki peluang keberhasilan yang setara. Kita bisa melihat orang berjualan sampah, berjualan makanan, usaha cuci sepatu, sampai bisnis digital yang sepertinya tidak masuk akal, mereka bisa sukses. Rahasianya tidak melulu terletak pada “apa idenya”, tetapi lebih pada “bagaimana” kita mewujudkan ide tersebut. Faktor penentu utamanya ada pada eksekusi, dan di jantung eksekusi ini terletak pilar-pilar strategis seperti pemasaran, segmentasi, target pasar, dan positioning.
Dongeng Dua Kedai Kopi
Bayangkan dua orang, Andi dan Budi, yang memiliki ide yang sama: membuka kedai kopi spesialti di lokasi yang berdekatan. Andi, dengan keyakinan penuh pada rasa kopinya yang premium, langsung membuka usaha. Ia memasang spanduk besar, “Kopi Terbaik di Kota.” Siapa pun yang lewat adalah calon pembelinya.
Budi, sebaliknya, memulai dengan pertanyaan. Siapa sebenarnya yang akan datang ke kedainya? Mahasiswa yang butuh tempat nongkrong sambil mengerjakan tugas? Pekerja kantoran yang ingin kopi berkualitas untuk dibawa pergi? Atau para freelancer yang mencari suasana tenang? Ia memilih fokus pada para pekerja muda dan mahasiswa yang menghargai kenyamanan dan WiFi cepat, tetapi dengan anggatan terbatas.
Hasilnya?
Kedai Andi ramai sesekali, tetapi pelanggannya tidak konsisten. Harganya dianggap terlalu mahal oleh sebagian orang, dan suasana kedainya tidak jelas, terlalu bising untuk yang ingin bekerja, terlalu sepi untuk yang ingin bersosialisasi.
Kedai Budi, meski menjual produk yang hampir sama, justru berkembang. Ia menawarkan menjadi tempat kerja seharian dengan free refill, kursinya nyaman untuk duduk lama, dan musik instrumental lembut mengalun. Promosinya tidak melalui spanduk besar, tetapi lewat Instagram yang menyasar anak muda dan grup-grup komunitas kampus. Pelanggannya merasa kedai Budi dibuat khusus untuk mereka. Mereka bukan sekadar membeli kopi, tetapi menjadi bagian dari sebuah komunitas.
Pembeda diantara mereka bukan ide, tetapi bagaimana merealisasikan ide tersebut. Di sinilah strategi marketing, segmentasi, target market, dan positioning memainkan peran vital.
Salam Sukses – KL