Gaya konsumsi Generasi Alpha: dinamika, faktor pendorong, dan implikasi pasar (Part 1)

Penulis: Satria Fadil Persada, S.Kom., MBA., Ph.D

Generasi Alpha, yang tumbuh dalam laju digital yang sangat cepat, menunjukkan pola konsumsi yang dipengaruhi oleh kenyamanan teknologi, paparan media sosial sejak usia dini, serta akses yang meluas ke perangkat pintar dan platform e-commerce. Penelitian-penelitian terkait generasi berikutnya menunjukan bahwa akumulasi pengalaman digital sejak masa kanak-kanak membentuk preferensi terhadap kecepatan, kemudahan, dan personalisasi dalam berbelanja serta penggunaan layanan fintech (Violetta et al., 2018; Moehadi et al., 2023). Hal ini konsisten dengan temuan bahwa literasi keuangan muda dan pemahaman terhadap utilitas teknologi mempengaruhi perilaku belanja online pada Gen Z dan milenial, yang menjadi fondasi bagi pola konsumsi generasi berikutnya (Generasi Alpha) yang cenderung mengadopsi gaya hidup digital sebagai norma sehari-hari (Moehadi et al., 2023; Widiastuti et al., 2023). Seiring munculnya e-wallet dan pembayaran mobile, generasi muda menunjukkan kecenderungan perilaku konsumtif yang dipengaruhi persepsi kegunaan, kemudahan penggunaan, dan tingkat kepercayaan terhadap platform digital (Moehadi et al., 2023; Tirtayani & Aghivirwiati, 2024). Peran media sosial sebagai alat pembentuk preferensi merek serta pembelajaran nilai-nilai konsumen juga menjadi konteks penting bagi Gen Alpha saat ia memasuki pasar konsumen secara mandiri (Siregar & Kurniawati, 2023; Hasdiansa et al., 2023).

Dari sisi faktor psikologis, pola hedonistik dan kebutuhan akan pengalaman belanja yang memesona tampak relevan untuk Generasi Alpha dalam konteks konsumsi impulsif maupun pembelian yang direncanakan. Penelitian mengenai Gen Z dan Gen milenial menunjukkan adanya hubungan signifikan antara gaya hidup hedonis dan niat pembelian, terutama ketika didorong oleh promosi, pengalaman belanja yang mulus, serta identitas merek yang kuat melalui media sosial (Humairoh et al., 2023; Widiastuti et al., 2023; Sulistyo, 2020). Meski demikian, beberapa studi menunjukkan bahwa religiositas atau norma-norma budaya dapat menahan impulsif buying di lingkungan online bagi kelompok tertentu, sehingga nuansa budaya lokal tetap relevan saat memetakan pola Gen Alpha di masa mendatang (Subagio et al., 2023; Hasbi, 2024). Oleh karena itu, bisa diasumsikan bahwa Gen Alpha akan menanggapi rangsangan digital secara lebih selektif seiring bertambahnya literasi keuangan serta pengalaman berbelanja yang lebih terkontrol melalui alat peringatan pengeluaran dan rekomendasi belanja berbasis AI (Moehadi et al., 2023; Widiastuti et al., 2023).

Teknologi finansial dan ekosistem marketplace telah membentuk infrastruktur belanja Gen Alpha melalui kemudahan pembayaran, personalisasi rekomendasi, dan integrasi media sosial dengan membeli produk secara lintas platform. Penelitian tentang perilaku konsumtif Gen Z dan milenial menunjukkan bahwa persepsi kegunaan, kemudahan penggunaan, serta kepercayaan terhadap platform digital berperan penting dalam membentuk niat pembelian dan repurchase, terutama ketika adanya integrasi antara TikTok Shop dengan platform e-commerce besar maupun penggunaan e-wallet dalam transaksi belanja online (Moehadi et al., 2023; Siregar & Kurniawati, 2023; Muchlis et al., 2021). Generasi Alpha kemungkinan besar akan terpengaruh oleh harapan akan pengalaman berbelanja yang cepat, aman, dan “plug-and-play” dengan perangkat yang sudah mereka kenal sejak kecil, sehingga platform yang menyediakan checkout yang mulus, keamanan data, serta kualitas layanan akan menjadi pendorong utama adopsi belanja berkelanjutan (Moehadi et al., 2023; Subagio et al., 2023).