BENCANA ALAM: KRISIS ATAU PELUANG BAGI ENTREPRENEUR?
BENCANA ALAM: KRISIS ATAU PELUANG BAGI ENTREPRENEUR?
Penulis: Febby Candra Pratama, S.E., M.M.
Ketika kita mendengar kata bencana alam, yang terbayang biasanya adalah kerusakan, korban jiwa, dan kerugian ekonomi. Banjir, gempa bumi, atau badai sering kali menghancurkan rumah, bisnis, dan infrastruktur. Tidak heran jika banyak penelitian menyatakan bahwa bencana alam dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan aktivitas bisnis.
Namun sebuah penelitian terbaru menemukan sesuatu yang menarik: bencana alam juga bisa mendorong munculnya social entrepreneur, di mana merupakan orang yang membangun usaha dengan tujuan utama menyelesaikan masalah sosial.
Bencana Alam: Tidak Hanya Kerugian
Dalam dua dekade terakhir, lebih dari 11.000 bencana alam terjadi di berbagai negara di dunia, menyebabkan kerugian ekonomi sekitar 2,56 triliun dolar dan ratusan ribu korban jiwa.
Bencana alam sering menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur, seperti jalan, listrik, air bersih, dan sistem komunikasi. Selain itu, masyarakat yang terdampak juga sering mengalami masalah psikologis, kehilangan pekerjaan, dan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Dalam situasi seperti ini, pemerintah dan organisasi bantuan sering kali tidak mampu menangani semua masalah yang muncul. Di sinilah muncul peluang bagi social entrepreneurship.
Ketika Krisis Membuka Peluang Sosial
Social entrepreneur adalah individu yang membangun bisnis atau organisasi dengan tujuan utama menyelesaikan masalah sosial atau lingkungan.
Sebuah penelitian dilakukan menggunakan dari 107.000 individu di 30 negara untuk melihat apakah bencana alam memengaruhi keputusan seseorang untuk menjadi social entrepreneur. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa
“Semakin tinggi intensitas bencana alam, semakin besar kemungkinan seseorang terlibat dalam social entrepreneurship.”
Peneliti menjelaskan bahwa melalui konsep attention-based view, yaitu teori yang menjelaskan bahwa keputusan manusia sangat dipengaruhi oleh apa yang mereka perhatikan dalam lingkungan sekitar.
Sehingga ketika bencana alam terjadi, perhatian masyarakat langsung tertuju pada berbagai masalah sosial: kemiskinan, kehilangan rumah, keterbatasan makanan, dan kebutuhan bantuan. Situasi ini membuat sebagian orang terdorong untuk menciptakan solusi melalui kegiatan kewirausahaan sosial.
Siapa yang Paling Terdorong Menjadi Social Entrepreneur?
Lebih dalam lagi, faktanya efek bencana alam tidak sama untuk semua orang. Ada tiga kelompok yang paling terdorong untuk terlibat dalam social entrepreneurship:
1. Laki-laki
Menariknya, pengaruh bencana terhadap keputusan menjadi social entrepreneur lebih kuat pada laki-laki dibandingkan perempuan. Salah satu alasannya adalah perempuan sering memiliki tanggung jawab keluarga yang lebih besar sehingga perhatian mereka terbagi.
2. Individu dengan human capital yang lebih rendah
Orang dengan pendidikan lebih rendah justru lebih terdorong untuk terlibat dalam social entrepreneurship setelah bencana. Bencana menjadi “pemicu” yang membuat mereka lebih sadar akan masalah sosial di sekitar mereka.
3. Orang yang takut gagal
Secara umum, rasa takut gagal biasanya menghambat seseorang menjadi entrepreneur. Namun dalam konteks bencana, penderitaan yang terjadi sering memunculkan empati dan solidaritas, sehingga rasa takut gagal menjadi berkurang.
Dari fenomena tersebut, dapat dipelajari bahwa entrepreneurship tidak selalu muncul dari kondisi yang nyaman. Kadang justru masalah besar di masyarakat menjadi pemicu munculnya ide bisnis yang berdampak sosial.
Dengan kata lain, entrepreneur tidak hanya berperan menciptakan keuntungan, tetapi juga dapat menjadi agen perubahan sosial, terutama ketika masyarakat menghadapi krisis besar seperti bencana alam.
Referensi
Wei, S., Boudreaux, C. J., Su, Z., & Wu, Z. (2023). Natural disasters and social entrepreneurship: An attention-based view. Small Business Economics. https://doi.org/10.1007/s11187-023-00822-x
Comments :