Apakah Entrepreneur Harus Selalu Berani Ambil Risiko?!

Penulis: Febby Candra Pratama, S.E., M.M.

Banyak orang percaya bahwa untuk menjadi entrepreneur maka kita harus berani mengambil risiko besar. Gambaran klasiknya adalah seseorang yang meninggalkan pekerjaan tetap, menginvestasikan semua tabungan, dan siap menghadapi kemungkinan gagal. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu. Menjadi entrepreneur ternyata tidak selalu bergantung pada seberapa berani seseorang mengambil risiko.

Sebuah penelitian besar yang menganalisis lebih dari 577.000 individu dari 90 negara mencoba menjawab pertanyaan penting: Apakah orang harus benar-benar risk-taker untuk menjadi entrepreneur? Hasilnya menunjukkan bahwa faktor yang lebih penting bukan hanya keberanian mengambil risiko, tetapi posisi awal seseorang dalam hidup atau yang disebut sebagai reference point.

 Risiko dalam Dunia Entrepreneurship

Memulai bisnis memang penuh ketidakpastian. Seorang entrepreneur harus menghadapi banyak hal yang tidak dapat diprediksi, seperti perubahan selera konsumen, munculnya kompetitor baru, atau perubahan regulasi. Karena itu, banyak teori sebelumnya berpendapat bahwa entrepreneur memiliki toleransi risiko yang lebih tinggi dibandingkan orang lain.

Namun sebuah penelitian menemukan fakta baru bahwa hubungan antara keberanian mengambil risiko dan keputusan menjadi entrepreneur tidak sama untuk semua orang.

Peran “Reference Point”

Konsep baru yang menentukan seseorang menjadi entrepreneur disebut dengan reference point, yaitu kondisi awal seseorang ketika memutuskan untuk memulai bisnis. Ada dua faktor utama yang menentukan reference point tersebut:

  1. Human Capital (Modal Pengetahuan dan Pengalaman): Orang yang pernah memiliki pengalaman berbisnis sebelumnya biasanya lebih memahami pasar, pelanggan, dan proses bisnis. Karena pengalaman ini membuat mereka lebih mampu mengelola risiko, mereka tidak perlu terlalu berani mengambil risiko untuk memulai bisnis lagi.
  2. Opportunity Cost (Apa yang Harus Dikorbankan): Sebaliknya, orang yang memiliki pekerjaan stabil atau pendidikan tinggi memiliki lebih banyak hal yang harus dikorbankan jika memulai bisnis. Mereka meninggalkan gaji tetap, karier yang jelas, dan keamanan finansial. Karena itu, bagi kelompok ini, keputusan menjadi entrepreneur membutuhkan toleransi risiko yang jauh lebih tinggi.

Jadi, Siapa yang Lebih Mudah Menjadi Entrepreneur?

Menariknya, berdarakan data yang ada, justru menunjukkan bahwa orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap atau memiliki pilihan karier terbatas justru lebih mungkin memulai bisnis, bahkan tanpa harus memiliki toleransi risiko yang tinggi. Dalam situasi ini, entrepreneurship sering menjadi pilihan karena tidak banyak alternatif lain.

Menjadi entrepreneur bukan hanya soal keberanian mengambil risiko, tetapi juga tentang bagaimana posisi awal Anda dalam hidup. Pengetahuan, pengalaman, jaringan, dan kondisi karier sangat memengaruhi cara seseorang memandang risiko.

Artinya, sebelum memulai bisnis, penting untuk membangun human capital: belajar, mencoba proyek kecil, mencari pengalaman, dan memperluas jaringan. Dengan begitu, risiko yang terlihat besar bisa terasa jauh lebih terkendali.

Referensi

Fuentelsaz, L., Maicas, J. P., & Montero, J. (2020). Do you need to be risk-tolerant to become an entrepreneur? The importance of the reference point. Entrepreneurship Research Journal. https://doi.org/10.1515/erj-2019-0292