Konsep dan Metode Akuntansi Persediaan serta Piutang Usaha dalam Penyusunan Laporan Keuangan

Konsep dan Metode Akuntansi Persediaan serta Piutang Usaha dalam Penyusunan Laporan Keuangan

Penulis: Aisha Rahma Amadea1, R. Aditya Kristamtomo Putra2

Abstrak

Persediaan dan piutang usaha merupakan komponen penting dalam aset lancar yang secara langsung memengaruhi laporan keuangan perusahaan, khususnya laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi. Perlakuan akuntansi yang tepat atas kedua akun tersebut sangat diperlukan agar laporan keuangan dapat menyajikan informasi yang relevan dan andal bagi para pengguna. Esai ini bertujuan untuk menjelaskan konsep serta metode akuntansi yang berkaitan dengan persediaan dan piutang usaha, termasuk pengakuan, pengukuran, dan penyajiannya dalam laporan keuangan. Pembahasan dilakukan secara konseptual sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku, sehingga mendukung pemahaman terhadap penerapan akuntansi persediaan dan piutang usaha dalam praktik bisnis.

Kata kunci: persediaan, piutang usaha, laporan keuangan, metode akuntansi.

  1. Pendahuluan

Laporan keuangan adalah gambaran yang terorganisir mengenai kondisi keuangan dan kinerja keuangan suatu perusahaan serta menunjukkan hasil pertanggungjawaban atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka, menurut PSAK No. 1 paragraf 09. Laporan keuangan merupakan sarana utama bagi perusahaan untuk menyampaikan informasi keuangan kepada pihak internal maupun eksternal, seperti manajemen, investor, kreditur, dan regulator. Peristiwa dan transaksi keuangan dicatat, dikategorikan, dan diringkas dengan tepat dalam satuan moneter sebelum dievaluasi untuk berbagai kegunaan. Perusahaan menyiapkan dan menyajikan laporan keuangan dalam bentuk laporan arus kas, neraca, laporan laba rugi, dan laporan perubahan ekuitas. Data keuangan harus relevan agar memenuhi kebutuhan pengguna selama proses pengambilan keputusan. Oleh karena itu, setiap akun dalam laporan keuangan harus diperlakukan sesuai dengan prinsip dan standar akuntansi yang berlaku. (Syaharman 2021)

Dalam penyusunan laporan keuangan, aset lancar memiliki peran penting karena berkaitan langsung dengan likuiditas dan kelangsungan operasional perusahaan. Dua komponen utama aset lancar adalah persediaan dan piutang usaha. Persediaan mencerminkan sumber daya yang akan dijual atau digunakan dalam proses produksi, sedangkan piutang usaha timbul akibat penjualan kredit yang dilakukan perusahaan kepada pelanggan. Kesalahan dalam pengakuan, pengukuran, atau penilaian kedua akun ini dapat menyebabkan distorsi terhadap laba bersih dan posisi keuangan perusahaan secara keseluruhan.

Persediaan memiliki pengaruh signifikan terhadap harga pokok penjualan dan laba perusahaan. Metode penilaian persediaan yang digunakan akan menentukan besarnya beban yang diakui dalam laporan laba rugi serta nilai aset yang disajikan dalam laporan posisi keuangan. Oleh karena itu, perusahaan harus menerapkan metode penilaian persediaan yang sesuai dengan kondisi operasional dan menerapkannya secara konsisten agar laporan keuangan dapat diperbandingkan antarperiode. (Prayogo et al. 2021)

Di sisi lain, piutang usaha mengandung risiko ketidaktertagihan yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Penjualan kredit yang tidak diimbangi dengan pengelolaan piutang yang baik berpotensi menurunkan kualitas aset dan menyebabkan informasi keuangan menjadi tidak andal. Untuk mengatasi hal tersebut, standar akuntansi mensyaratkan agar piutang usaha disajikan sebesar nilai realisasi bersih melalui pembentukan cadangan kerugian piutang, sehingga mencerminkan jumlah kas yang realistis dapat diterima oleh perusahaan. (Ocktarani et al. 2024)

Berdasarkan pentingnya peran persediaan dan piutang usaha dalam laporan keuangan, pemahaman terhadap konsep dan metode akuntansi yang berkaitan dengan kedua akun tersebut menjadi sangat krusial, khususnya bagi mahasiswa akuntansi. Pemahaman ini sejalan dengan Learning Outcome 2 (C2 – Comprehension), yaitu kemampuan untuk menjelaskan konsep dan metode yang digunakan dalam akuntansi persediaan dan piutang usaha. Oleh karena itu, esai ini bertujuan untuk membahas secara konseptual mengenai pengakuan, pengukuran, serta metode penilaian persediaan dan piutang usaha dalam penyususan laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.

  1. Konsep Akuntansi Persediaan

Persediaan adalah aset perusahaan saat ini dalam bentuk barang atau persediaan yang tersedia. Kieso et al. (2018: 408) mendefinisikan persediaan sebagai aset yang dimiliki oleh suatu bisnis dan dapat dijual, digunakan untuk keperluan bisnis atau digunakan untuk membuat lebih banyaj barang yang kemudian dapat dijual. Dalam akuntansi, persediaan diakui sebagai aset karena memiliki manfaat ekonomi di masa depan dan berada dalam pengendalian perusahaan.

Menurut PSAK No. 14 tentang persediaan, untuk mencatat transaksi-transaksi dapat dilakukan menjadi dua metode, yaitu:

  • Metode Perpetual

Setiap persediaan yang masuk dan keluar dari sistem didokumentasikan di buku akuntansi di bawah sistem perpetual, yang biasa dikenal sebagai metode buku. Ketika pembelian dilakukan di bawah sistem perpetual, perusahaan akan mendebit persediaan. Sementara itu, perusahaan membuat dua entri saat menyelesaikan transaksi penjualan: pertama, perusahaan mengkredit penjualan untuk harga jual produk dan mendebit kas atau piutang. Kedua, perusahaan mengkredit akun persediaan dan mendebit akun harga pokok penjualan (HPP).

  • Metode Periodik

Persediaan dihitung untuk tujuan pembukuan pada akhir setiap periode dalam sistem periodik. Akun persediaan dalam sistem ini tidak dikreditkan saat terjadinya penjualan, dan juga tidak dikurangi saat pencatatan pembelian. Kas atau piutang dikurangkan selama transaksi penjualan, dan akun penjualan dikreditkan. Pembelian dicatat sebagai debit dan kas atau hutang dikreditkan selama transaksi pembelian. Dalam metode periodik atau fisik, kenaikan atau penurunan tidak dicatat di akun persediaan saat terjadi transaksi pembelian atau penjualan. Penghitungan fisik persediaan di gudang dapat memberikan informasi tentang persediaan fisik pada saat tertentu. (Verren et al. 2022)

Menurut standar akuntansi, persediaan harus diukur sebesar biaya perolehan atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah. Prinsip ini mencerminkan sikap kehati-hatian agar aset tidak disajikan melebihi nilai yang dapat direalisasikan. Biaya perolehan persediaan meliputi biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain yang timbul hingga persediaan berada dalam kondisi siap untuk dijual. (Munthe 2020)

  1. Metode Penilaian Persediaan

Persediaan merupakan aset yang dimiliki perusahaan untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, dalam proses produksi untuk kemudian dijual, atau dalam bentuk bahan atau perlengkapan yang akan digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa. Dalam laporan keuangan, persediaan harus diukur dan disajikan berdasarkan biaya perolehan atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah. Ketentuan ini bertujuan untuk mencegah pengakuan laba yang belum direalisasi serta menerapkan prinsip kehati-hatian dalam akuntansi.

Penilaian persediaan merupakan perhitungan nilai persediaan yang ditampilkan di neraca pada tanggal tertentu. Agar jumlah yang tercantum di neraca benar-benar mencerminkan kondisi persediaan perusahaan pada tanggal tertentu, penilaian persediaan yang akurat juga sangat penting.

Dalam praktik akuntansi, terdapat beberapa metode penilaian persediaan yang umum digunakan, antara lain metode First In First Out (FIFO) dan rata-rata tertimbang (weighted average).

Metode FIFO mengasumsikan bahwa persediaan yang pertama kali diperoleh adalah persediaan yang pertama kali dijual. Dalam kondisi harga yang cenderung meningkat, metode FIFO menghasilkan nilai persediaan akhir yang lebih tinggi dan harga pokok penjualan yang lebih rendah, sehingga laba yang dilaporkan relatif lebih besar.

Metode lain yang banyak digunakan adalah metode rata-rata tertimbang (weighted average method). Dalam metode ini, biaya per unit persediaan dihitung berdasarkan rata-rata biaya dari seluruh unit yang tersedia untuk dijual selama periode tertentu. Metode rata-rata tertimbang dapat mengurangi fluktuasi laba yang disebabkan oleh perubahan harga pembelian, sehingga menghasilkan laporan keuangan yang lebih stabil.

Dalam konteks standar akuntansi yang berlaku di Indonesia, metode Last In First Out (LIFO) tidak diperkenankan karena tidak mencerminkan aliran persediaan yang wajar dan dapat menghasilkan nilai persediaan yang tidak relevan dalam laporan posisi keuangan. Oleh karena itu, perusahaan hanya diperbolehkan menggunakan metode FIFO, rata-rata tertimbang sesuai dengan karakteristik usahanya.

Pemilihan metode persediaan akan memengaruhi harga pokok penjualan, laba bersih, dan nilai persediaan yang disajikan dalam laporan posisi keuangan. Dengan demikian, pemilihan dan penerapan metode penilaian persediaan yang tepat akan meningkatkan kualitas informasi keuangan dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat. Pembahasan ini mencerminkan ketercapaian Learning Outcome 2 (C2 – Comprehension), yaitu kemampuan untuk menjelaskan konsep dan metode akuntansi persediaan dalam penyusunan laporan keuangan. (Islami Islami et al. 2023)

  1. Konsep Akuntansi Piutang Usaha

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2019: 160), “Piutang adalah aset keuangan yang mencerminkan hak kontraktual untuk menerima sejumlah kas di masa depan, dikombinasikan dengan kewajiban terkait pihak lain untuk membayar, yang terdiri dari piutang dagang, wesel tagih, pinjaman yang diberikan, dan piutang obligasi”.

Penjualan kredit menghasilkan piutang pelanggan yang akan menjadi arus kas masuk saat jatuh tempo, bukan menghasilkan kas pada saat transaksi. Aset lancar yang dikategorikan sebagai likuid dan ditampilkan dalam laporan posisi keuangan dikenal sebagai piutang usaha. Namun, sering terjadi bahwa piutang usaha tidak dibayar tepat waktu seperti yang direncanakan, yang bahkan dapat menempatkan akun pada risiko menjadi tak tertagih. Sementara itu, setiap perusahaan membutuhkan cukup uang untuk mendukung operaional hariannya.

Dari berbagai definisi piutang yang diberikan di atas, dapat dilihat bahwa piutang adalah hak untuk menagih pembayaran yang dilakukan oleh individu sebagai imbalan atas penyediaan produk atau layanan secara kredit dengan jumlah tertentu pada tanggal yang akan datang. Piutang dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk menjual produk atau layanan secara kredit, dan melakukan pembayaran tunai tambahan kepada pihak ketiga.

Menurut Kieso, Waygandt, dan Warfield (2011), ada 2 cara pengakuan jumlah piutang:

  • Metode Kotor (Bruto)

Menentukan jumlah piutang pada nilai penjualan tanpa memperhitungkan diskon yang berlaku. Jika debitur menerima diskon, hal itu dicatat sebagai penurunan penjualan, bukan sebagai penurunan jumlah yang terutang.

  • Metode Bersih (Netto)

Setelah mengurangi diskon penjualan, tentukan jumlah total piutang. Pembayaran tambahan dari jumlah piutang dicatat sebagai pendapatan lain jika debitur tidak menggunakan diskon penjualan. (Larasati and Wiratna 2020)

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi jumlah piutang, di antaranya sebagai berikut:

  • Volume Penjualan Kredit

Jumlah uang yang diinvestasikan dalam piutang juga akan bergantung pada volume penjualan kredit yang dilakukan kepada klien. Jumlah penjualan kredit akan meningkat seiring dengan investasi dalam piutang.

  • Syarat Pembayaran Penjualan Kredit

Tanggal jatuh tempo piutang dan diskon yang berlaku selalu ditentukan dalam penjualan kredit.

  • Tentang Pembatasan Kredit

Dalam sistem penjualan kredit, setiap pelanggan akan memiliki batas kredit maksimum, yang kadang-kadang disebut sebagai plafon kredit. Plafon kredit setiap pelanggan bervariasi berdasarkan ukuran usaha mereka.

  • Kebiasaan Membayar Pelanggan

Praktik pembayaran berkorelasi dengan penggunaan periode diskon oleh konsumen; artinya, semakin banyak pelanggan memanfaatkan periode diskon, semakin sedikit uang yang diinvestasikan dalam piutang.

  • Kebijakan dalam Pengumpulan Piutang

Ada dua alternatif yang tersedia bagi perusahaan yang menetapkan aturan dalam penagihan piutang: ketat atau longgar. Jika kebijakan yang sangat ketat diterapkan, kredit tidak akan diberikan hingga piutang diselesaikan. Namun, ada juga perusahaan yang terus memberikan kredit bahkan dalam kasus di mana pembayaran tidak diterima tepat waktu. (Yuko, Hartono, and Dithisari 2024)

  1. Metode Penilaian Piutang Usaha

Piutang usaha merupakan aset lancar yang timbul akibat penjualan barang atau jasa secara kredit. Dalam penyusunan laporan keuangan, piutang usaha harus dinilai dan disajikan sebesar nilai realisasi bersih (net realizable value), yaitu jumlah kas yang diharapkan dapat diterima oleh perusahaan setelah memperhitungkan risiko piutang tidak tertagih. Oleh karena itu, perusahaan wajib menerapkan metode penilaian piutang yang tepat untuk mencerminkan kondisi keuangan yang wajar dan andal.

Salah satu metode yang umum digunakan dalam penilaian piutang usaha adalah metode persentase penjualan kredit (percentage of credit sales method). Metode ini mengestimasi jumlah piutang tak tertagih berdasarkan persentase tertentu dari total penjualan kredit selama satu periode akuntansi. Persentase tersebut ditentukan berdasarkan pengalaman historis perusahaan terkait tingkat ketidaktertagihan piutang. Metode ini berfokus pada pencocokan biaya dengan pendapatan (matching principle), karena beban kerugian piutang diakui pada periode yang sama dengan pendapatan penjualan yang terkait. Dengan demikian, metode ini cocok digunakan untuk tujuan pelaporan laba rugi.

Metode lain yang sering diterapkan adalah metode analisis umur piutang (aging of accounts receivable method). Dalam metode ini, piutang usaha dikelompokkan berdasarkan lamanya waktu piutang tersebut belum tertagih, misalnya belum jatuh tempo, 1-30 hari, 31-60 hari, dan lebih dari 60 hari. Setiap kelompok umur piutang kemudian dikalikan dengan persentase estimasi tidak tertagih yang berbeda-beda, di mana semakin lama umur piutang, semakin besar risiko ketidaktertagihannya. Metode ini berorientasi pada penilaian neraca, karena tujuan utamanya adalah menentukan saldo akhir cadangan kerugian piutang agar piutang disajikan secara wajar pada laporan posisi keuangan.

Selain itu, dalam praktik akuntansi dikenal pula metode penghapusan langsung (direct write-off method), yaitu metoode di mana kerugian piutang baru diakui pada saat piutang benar-benar tidak dapat ditagih. Meskipun metode ini sederhana, penggunaannya tidak dianjurkan dalam pelaporan keuangan berbasis standar akuntansi karena tidak memenuhi prinsip akrual dan prinsip kehati-hatian. Metode ini umumnya hanya diperkenankan untuk perusahaan kecil atau ketika jumlah piutang tak tertagih tidak material.

Secara keseluruhan, penerapan metode penilaian piutang usaha yang tepat sangat penting untuk menghasilkan laporan keuangan yang andal dan relevan. Metode persentase penjualan kredit dan analisis umur piutang membantu perusahaan dalam mengestimasi risiko kerugian piutang secara rasional, sehingga nilai piutang usaha yang disajikan mencerminkan kemampuan perusahaan dalam merealisasikan kas dari pelanggan. Pemahaman terhadap metode-metode ini menunjukkan ketercapaian Learning Outcone 2, yairu kemampuan menjelaskan konsep dan metode akuntansi yang berkaitan dengan piutang usaha secara komprehensif.

  1. Kesimpulan

Persediaan dan piutang usaha merupakan elemen penting dalam laporan keuangan yang memerlukan perlakuan akuntansi yang tepat. Pemahaman terhadap konsep dan metode akuntansi persediaan serta piutang usaha sangat diperlukan agar laporan keuangan dapat menyajikan informasi yang relevan, andal, dan tidak menyesatkan. Dengan menerapkan metode penilaian yang sesuai dan konsisten, perusahaan dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan serta mendukung pengambilan keputusan ekonomi yang lebih baik.

  1. Lampiran

 https://docs.google.com/document/d/1kWMuxt0eFAY1SQ6JWB10eNEau1s-x5jl/edit?usp=drivesdk&ouid=103531477557998190433&rtpof=true&sd=true (Link Turnitin)

 

Daftar Pustaka

Ikatan Akuntan Indonesia. (2022). Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: IAI.

Islami Islami, Sutini Sutini, Diana Zuhroh, Wiratna Wiratna, Tjandra Wasesa, and Heri Toni Hendro P. 2023. “Penerapan Metode Penilaian Persediaan Barang Dagang Pada PT. Chemical Di Surabaya.” Jurnal Mahasiswa Manajemen dan Akuntansi 2(2): 168–84. doi:10.30640/jumma45.v2i2.1551.

Larasati, Astri, and Wiratna. 2020. “Perlakuan Akuntansi Piutang Dan Piutang Tak Tertagih Pada CV. Kani Goro Indonesia Di Surabaya.” Akuntansi 45 1(1): 18–27.

Munthe, H. 2020. “Pengaruh Manajemen Piutang Dan Persediaan Terhadap Profitabilitas Pada PT. Sinarmas Multifinance Cabang Medan.” Jurnal Visi Ekonomi Akuntansi Dan Manajemen.

Ocktarani, Prasetiyo Yudhi, Vivi Kumalasari Subroto, Dewi Ratnasari Astuti, Fransiska Sirait, Pebisitona Mesajaya Purba, Etik Ipda Riyani, et al. 2024. Eureka Media Aksara, Desember 2024 Pengantar Akuntansi, Konsep Dasar.

Prayogo, Imam, Fipiariny S, Debi Eka Putri, Daniel Kartika Adhi, Hasnidar, Widhy Setyowati, Putri Awalina, et al. 2021. 32 Akuntansi Keuangan Menengah.

Syaharman. 2021. “Analisis Laporan Keuangan Sebagai Dasar Untuk Menilai Kinerja Perusahaan Pada Pt. Narasindo Mitra Perdana.” Juripol 4(2): 283–95.

Verren, V, Hendrik Gamaliel, Lady Latjandu, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Sam Ratulangi, and Jl Kampus Bahu. 2022. “Analisis Perlakuan Akuntansi Persediaan Barang Jadi Pada PT . Sinergi Beton Utama Analysis of Accounting Treatment of Finished Goods Inventory At PT . Sinergi Beton Utama Jakarta .” 5(2): 933–40.

Yuko, Ayumi, Audyfa Nandhita Putri Hartono, and Indri Dithisari. 2024. “ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI PIUTANG USAHA PADA PT INDONESIA ASAHAN ALUMINIUM.” : 281–90.