{"id":2865,"date":"2026-07-02T12:43:47","date_gmt":"2026-07-02T12:43:47","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/?p=2865"},"modified":"2026-10-02T13:32:37","modified_gmt":"2026-10-02T13:32:37","slug":"karya-mahasiswa-dkv-binus-malang-tampil-di-1st-indonesia-international-youth-photo-festival-2026","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/2026\/07\/02\/karya-mahasiswa-dkv-binus-malang-tampil-di-1st-indonesia-international-youth-photo-festival-2026\/","title":{"rendered":"Karya Mahasiswa DKV BINUS @Malang Tampil di 1st Indonesia International Youth Photo Festival 2026"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-2866 size-full\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2026\/10\/IMG_2367.jpg\" alt=\"\" width=\"1512\" height=\"2016\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2026\/10\/IMG_2367.jpg 1512w, https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2026\/10\/IMG_2367-225x300.jpg 225w, https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2026\/10\/IMG_2367-768x1024.jpg 768w, https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2026\/10\/IMG_2367-1152x1536.jpg 1152w, https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2026\/10\/IMG_2367-480x640.jpg 480w, https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2026\/10\/IMG_2367-1024x1365.jpg 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 1512px) 100vw, 1512px\" \/>Yogyakarta, 2026. Menjadi bagian dari sebuah pameran fotografi internasional merupakan pengalaman yang tidak hanya menjadi pencapaian dalam perjalanan berkarya, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas perspektif dan mempertemukan karya dengan beragam cerita dari berbagai latar belakang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Hal tersebut dirasakan oleh Yugie Meidian Benedicto, mahasiswa Visual Communication Design (VCD) BINUS University @Malang, yang berkesempatan berpartisipasi dalam International Photo Exhibition \u201cVisual Symphony\u201d, bagian dari 1st Indonesia International Youth Photo Festival 2026 di Yogyakarta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pameran tersebut diselenggarakan pada 5\u201314 Februari 2026 di RJ Katamsi Gallery dan Pandeng Gallery, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Keikutsertaan Yugie juga dibuktikan melalui Certificate of Participation yang diberikan oleh penyelenggara festival.<br \/>\n<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-2867\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2026\/10\/1776999805671-ezgif.com-resize.gif\" alt=\"\" width=\"100\" height=\"178\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Membawa Karya ke Ruang Pamer Internasional<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Bagi Yugie, kesempatan untuk menampilkan karya dalam pameran tidak berhenti pada pengalaman memajang sebuah foto di ruang galeri. Lebih dari itu, pameran menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana sebuah karya dapat berkomunikasi ketika ditempatkan berdampingan dengan karya-karya dari fotografer dan kreator lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam refleksinya, Yugie menggambarkan pengalaman tersebut sebagai sebuah proses untuk menempatkan perspektif personal di tengah keberagaman cerita dan budaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u201cAn experience that goes beyond showcasing images. It\u2019s about placing a perspective among many, where different cultures and stories meet through one visual language.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana fotografi dapat menjadi bahasa visual yang memungkinkan berbagai perspektif untuk saling berkomunikasi, meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam konteks pameran \u201cVisual Symphony\u201d, karya fotografi tidak hanya dilihat sebagai objek visual, tetapi juga sebagai bagian dari percakapan yang lebih luas mengenai bagaimana seseorang melihat, merasakan, dan menerjemahkan realitas melalui gambar.<br \/>\n<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-2868\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2026\/10\/ezgif.com-resize.gif\" alt=\"\" width=\"192\" height=\"288\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Fotografi sebagai Ruang untuk Bercerita<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Karya yang ditampilkan Yugie memperlihatkan pendekatan fotografi yang menempatkan manusia dan ekspresi emosional sebagai bagian penting dari cerita visual. Salah satu karya yang dipamerkan menampilkan sosok perempuan dalam potret close-up, dengan ekspresi yang kuat dan penuh emosi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Penggunaan latar gelap dan pencahayaan yang terfokus membuat perhatian penonton tertuju pada wajah serta ekspresi subjek. Detail air mata yang terlihat pada wajah menghadirkan kesan intim sekaligus membuka ruang interpretasi bagi penonton.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Alih-alih memberikan satu jawaban mengenai apa yang sedang dialami oleh subjek, fotografi tersebut justru mengajak penonton untuk berhenti sejenak dan membaca ekspresi yang hadir di dalam frame.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pendekatan semacam ini menjadi salah satu kekuatan fotografi sebagai media komunikasi visual. Sebuah foto dapat menyampaikan emosi tanpa harus menjelaskan seluruh konteks melalui kata-kata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Dari Kampus ke Ruang Kreatif yang Lebih Luas<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pengalaman Yugie di 1st Indonesia International Youth Photo Festival 2026 juga menunjukkan bagaimana proses pembelajaran di bidang desain komunikasi visual dapat berkembang melalui pengalaman berkarya di luar lingkungan akademik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Bagi mahasiswa DKV, fotografi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis seperti komposisi, pencahayaan, kamera, atau proses editing. Fotografi juga menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan mengamati, membangun konsep, menyampaikan pesan, serta menemukan perspektif personal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kesempatan untuk mengikuti pameran memberikan pengalaman tambahan bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana sebuah karya dipresentasikan kepada publik dan bagaimana karya tersebut dapat berdialog dengan karya-karya lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari proses membangun portofolio sekaligus memperluas jejaring kreatif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Bertemu dengan Perspektif dari Berbagai Negara<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Salah satu hal yang membuat pengalaman ini semakin berkesan bagi Yugie adalah kesempatan untuk berada dalam sebuah ekosistem fotografi yang mempertemukan kreator dari berbagai latar belakang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam narasinya, Yugie menyebut bahwa pameran tersebut menghadirkan kreator dari 13 negara, sehingga ruang pamer menjadi tempat bertemunya beragam perspektif, pengalaman, budaya, dan cara melihat dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Keberagaman tersebut memberikan pemahaman bahwa fotografi memiliki bahasa yang relatif universal. Sebuah gambar dapat melampaui batas bahasa dan budaya karena manusia dapat merespons elemen-elemen visual seperti ekspresi, gestur, cahaya, warna, dan suasana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Bagi seorang mahasiswa yang sedang membangun identitas kreatif, pengalaman seperti ini menjadi kesempatan untuk melihat bahwa karya personal dapat menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Terus Berkarya dan Menemukan Perspektif<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Keikutsertaan Yugie dalam pameran \u201cVisual Symphony\u201d menjadi salah satu pengalaman yang memperkaya perjalanan akademik dan kreatifnya sebagai mahasiswa DKV BINUS @Malang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pengalaman tersebut juga menjadi pengingat bahwa proses menjadi seorang kreator tidak berhenti ketika sebuah karya selesai dibuat. Perjalanan berlanjut ketika karya tersebut bertemu dengan audiens, mendapatkan interpretasi baru, dan menjadi bagian dari ruang dialog bersama karya lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Seperti yang disampaikan Yugie:<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u201cGrateful for the opportunity to grow, connect, and keep telling stories that matter.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Melalui pengalaman ini, Yugie tidak hanya membawa sebuah karya ke ruang pamer, tetapi juga membawa perspektif, cerita, dan proses pembelajaran yang diperolehnya selama menjadi bagian dari lingkungan kreatif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Bagi mahasiswa DKV BINUS @Malang lainnya, pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa proses belajar di kampus dapat menjadi titik awal untuk terus mengeksplorasi karya, mengikuti berbagai kesempatan kreatif, dan membawa perspektif personal ke ruang yang lebih luas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Karena pada akhirnya, fotografi bukan hanya tentang membuat gambar, tetapi tentang menemukan sesuatu yang layak untuk dilihat, dirasakan, dan diceritakan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yogyakarta, 2026. Menjadi bagian dari sebuah pameran fotografi internasional merupakan pengalaman yang tidak hanya menjadi pencapaian dalam perjalanan berkarya, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas perspektif dan mempertemukan karya dengan beragam cerita dari berbagai latar belakang. Hal tersebut dirasakan oleh Yugie Meidian Benedicto, mahasiswa Visual Communication Design (VCD) BINUS University @Malang, yang berkesempatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":47,"featured_media":2868,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-2865","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2865","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/users\/47"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2865"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2865\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2870,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2865\/revisions\/2870"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2868"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2865"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2865"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2865"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}