{"id":1018,"date":"2024-03-03T06:12:47","date_gmt":"2024-03-03T06:12:47","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/?p=1018"},"modified":"2024-12-03T06:46:58","modified_gmt":"2024-12-03T06:46:58","slug":"street-photography","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/2024\/03\/03\/street-photography\/","title":{"rendered":"Street Photography"},"content":{"rendered":"<p>Street photography, atau fotografi jalanan, adalah genre fotografi yang berfokus pada<br \/>\npengambilan gambar momen sehari-hari di ruang publik, terutama di lingkungan perkotaan.<br \/>\nBerbeda dengan fotografi lainnya, street photography tidak terikat oleh aturan formal dan<br \/>\nlebih mengedepankan spontanitas, kreativitas, dan cerita di balik setiap gambar. Tujuan utama<br \/>\ndari street photography adalah untuk menangkap momen-momen kehidupan sehari-hari yang<br \/>\nsering kali terlewatkan, dengan penekanan pada spontanitas dan keaslian. Fotografi ini tidak<br \/>\nmemerlukan skenario atau pengaturan sebelumnya, sehingga setiap gambar dapat<br \/>\nmerefleksikan realitas yang ada di sekitarnya.<br \/>\nAda beberapa elemen yang membentuk karakteristik street photography yaitu:<br \/>\n1. Spontanitas<br \/>\nSpontanitas dalam street photography sangat penting dimana fotografer harus siap<br \/>\nuntuk menangkap momen tanpa perencanaan sebelumnya. Momen-momen tak<br \/>\nterduga sering kali menghasilkan gambar yang paling menarik dengan sebuah cerita<br \/>\nindah di dalamnya.<br \/>\n2. Komposisi<br \/>\nKomposisi yang baik juga tidak kalah penting untuk menciptakan gambar visual yang<br \/>\nseimbang dan mengandung estetika. Penggunaan garis-garis dan bentuk-betuk visual<br \/>\ndalam latar belakang dapat meningkatkan daya tarik visual<br \/>\n3. Humor<br \/>\nMenangkap momen lucu atau aneh dapat memberikan dimensi tambahan pada sebuah<br \/>\nfoto, membuatnya lebih menarik bagi penikmat karya<br \/>\n4. Keaslian<br \/>\nFoto-foto dalam street photography harus mencerminkan keaslian dalam segala aspek<br \/>\nseperti tingkah laku dan ekspresi subjek<\/p>\n<p>Teknik yang digunakan dalam street photography juga penting agar hasil foto dapat<br \/>\nmaksimal dinikmati oleh penikmat. Beberapa teknik yang digunakan dalam street<br \/>\nphotography antara lain:<br \/>\n1. Fokus cepat: kemampuan untuk mengatur fokus dengan cepat sangat penting karena<br \/>\nperubahan kondisi di lapangan berubah-ubah dengan sangat cepat sehingga kemampuan<br \/>\nmengatur fokus dengan cepat sangat penting dalam mendapatkan momen yang<br \/>\ndiinginkan.<br \/>\n2. Penggunaan cahaya: cahaya yang digunakan dalam street photography adalah Cahaya<br \/>\nalami dan bayangan dapat mmendambah kedalaman dan dramatisasi pada sebuah foto<br \/>\n3. Komposisi yang menarik juga sangat penting sehingga foto yang dihasilkan nyaman<br \/>\ndilihat dan menambah nilai estetika di dalamnya<br \/>\nStreet photography adalah seni yang memungkinkan fotografer untuk menangkap<br \/>\nkeindahan dan kompleksitas kehidupan sehari-hari di ruang publik. Dengan fokus pada<br \/>\nspontanitas, keaslian, dan teknik fotografi yang baik, genre ini menawarkan cara unik untuk<br \/>\nmelihat dunia di sekitar kita. Seiring dengan perkembangan teknologi dan budaya visual saat<br \/>\nini, street photography semakin menjadi salah satu bentuk ekspresi kreatif yang diminati oleh<br \/>\nbanyak orang di seluruh dunia, termasuk Indonesia<\/p>\n<p>by: Abigail Vanya Rudiyanto<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Street photography, atau fotografi jalanan, adalah genre fotografi yang berfokus pada pengambilan gambar momen sehari-hari di ruang publik, terutama di lingkungan perkotaan. Berbeda dengan fotografi lainnya, street photography tidak terikat oleh aturan formal dan lebih mengedepankan spontanitas, kreativitas, dan cerita di balik setiap gambar. Tujuan utama dari street photography adalah untuk menangkap momen-momen kehidupan sehari-hari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":47,"featured_media":1020,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1018","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1018","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/users\/47"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1018"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1018\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1021,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1018\/revisions\/1021"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1020"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1018"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1018"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1018"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}