{"id":916,"date":"2022-12-09T13:58:01","date_gmt":"2022-12-09T06:58:01","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/?p=916"},"modified":"2022-12-13T13:59:26","modified_gmt":"2022-12-13T06:59:26","slug":"richeese-factory-dan-citra-merek","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/2022\/12\/09\/richeese-factory-dan-citra-merek\/","title":{"rendered":"Richeese Factory dan Citra Merek"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">Untuk membeli suatu produk, konsumen memiliki alasan tertentu. Namun pula konsumen yang menikmati suatu produk hanya karena rasa penasaran atau bahkan membeli karena spontanitas tanpa ada pertimbangan khusus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Leon G. Schiffman dan Leslie Lazar Kanuk dalam buku Consumer Behavior menjelaskan bahwa konsumen yan\u00a0 tidak\u00a0 memiliki\u00a0 pengalaman\u00a0 dalam\u00a0 memilih\u00a0 suatu\u00a0 produk,\u00a0 akan lebih\u00a0 percaya\u00a0 pada\u00a0 merek\u00a0 yang\u00a0 paling\u00a0 terkenal. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Susan L. Henry menyatakan bahwa pengambilan keputusan konsumen melibatkan identitas diri, aspek kebutuhan, kondisi sosial serta faktor kultural. Alasan tersebut mendorong\u00a0 perusahaan untuk\u00a0 memperkuat\u00a0 posisi\u00a0 merek\u00a0 dalam\u00a0 benak\u00a0 konsumen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Melalui citra merek, konsumen dapat mengenali sebuah produk, mengevaluasi kualitas dan memperoleh pengalaman serta kepuasan dari perbedaan produk tertentu. Secara umum, <em>Brand\u00a0\u00a0 image<\/em> sangat dekat dengan penilaian dari \u00a0konsumen terhadap\u00a0 suatu\u00a0 merek\u00a0 pada\u00a0 produk\u00a0 yang\u00a0 ada\u00a0 di dalam\u00a0 pasar, termasuk industri makanan cepat saji. Dengan meningkatnya perekonomian, makanan cepat saji sangat digemari oleh masyarakat dari berbagai kalangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam waktu singkat, restoran cepat saji berkembang sangat pesat. Salah satunya adalah <em>Richeese Factory<\/em>. Sesuai dengan namanya, restoran ini dikenal sebagai restoran cepat saji yang menyajikan ayam goreng dengan saos keju yang khas berikut level pedasnya. Mendengar nama resto ini, pasti banyak yang mengira bahwa <em>Richeese Factory <\/em>merupakan perusahaan yang berasal dari luar negeri, padahal <em>Richeese Factory <\/em>itu asli Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Merek <em>Richeese <\/em>sudah ada sejak tahun 2007, namun <em>Richeese <\/em>kuliner di Indonesia\u00a0 pertama kali didirikan pada 8 februari 2011 tepatnya berlokasi di Paris Van Java Mall, Bandung, Jawa Barat. <em>Richeese Factory <\/em>terus berkembang dan semakin dikenal oleh masyarakat luas, dengan produk yang semakin beragam, seperti burger, donat, mi goreng instan. Kini <em>outlet<\/em>nya telah berkembang pesat di kota-kota besar. Sejak dipasarkan untuk pertama kalinya, produk <em>Richeese Factory<\/em> dan jaringan restorannya menargetkan market keluarga. Artinya, produk <em>Richeese<\/em> memang diperuntukkan bagi semua usia dan kalangan, tua muda hingga anak-anak. Jaringan gerai <em>Richeese Factory<\/em> lebih banyak dipusatkan di mall, tempat rekreasi, pusat layanan publik, area perkantoran, dimana tingkat intensitas kunjungan masyarakat yang tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Hal tersebut sesuai dengan konsep yang ditawarkan oleh Philip Kotler dan Gary Armstrong. Dalam buku Principles of Marketing, mereka mengatakan bahwa terdapat empat dimensi penting dalam komunikasi pemasaran, yaitu <em>channels, coverage, locations, inventory, transportation, logistics<\/em>. Dengan tempat yang digunakan untuk proses penyampaian barang dan jasa dari produsen ke konsumen untuk mempermudah jarak lokasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Salah satu faktor yang membuat <em>Richeese Factory<\/em> digemari masyarakat adalah <em>brand image<\/em> nya yaitu <em>Richeese Factory<\/em> satu-satunya\u00a0 restoran\u00a0 makanan\u00a0 siap\u00a0 saji\u00a0 yang\u00a0 menyajikan\u00a0 ayam dengan\u00a0 saus\u00a0 pedas\u00a0 berlevel\u00a0 dan\u00a0 saus\u00a0 keju\u00a0 secara\u00a0 bersamaan. Dengan\u00a0 inovasi\u00a0 tersebut, banyak konsumen yang tertarik dan mencoba untuk menikmati produk yang disajikan oleh <em>Richeese\u00a0 Factory. <\/em>selain itu <em>Richeese Factory<\/em> \u00a0juga menggunakan promosi yang dapat menarik konsumen, dengan promosi yang ditawarkan memengaruhi keputusan pembelian, dengan cara-cara pemasaran yang dilakukan menarik setiap konsumen yang ada dengan melakukan strategi pemasaran yang baik yaitu dengan melakukan promo-promo tertentu seperti gratis item makanan atau CD, gratis mainan khusus menu untuk anak-anak yang tidak lain lagi untuk menarik perhatian pelanggan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<h6 style=\"text-align: justify\"><em>Referensi:<\/em><\/h6>\n<h6 style=\"text-align: justify\"><em>G. Schiffman and L. L. Kanuk, \u201cConsumer Behavior,\u201d 9th Edition, Prantice-Hall, Upper Saddle River, 2007.<\/em><\/h6>\n<h6 style=\"text-align: justify\"><em>Henry, S.L. Consumers, commodities, and choices: A general model of consumer behavior. Hist Arch 25, 3\u201314 (1991). <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1007\/BF03373511\">https:\/\/doi.org\/10.1007\/BF03373511<\/a><\/em><\/h6>\n<h6 style=\"text-align: justify\"><em><a href=\"https:\/\/www.richeesefactory.com\/id\">Sumber Foto<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Untuk membeli suatu produk, konsumen memiliki alasan tertentu. Namun pula konsumen yang menikmati suatu produk hanya karena rasa penasaran atau bahkan membeli karena spontanitas tanpa ada pertimbangan khusus. Leon G. Schiffman dan Leslie Lazar Kanuk dalam buku Consumer Behavior menjelaskan bahwa konsumen yan\u00a0 tidak\u00a0 memiliki\u00a0 pengalaman\u00a0 dalam\u00a0 memilih\u00a0 suatu\u00a0 produk,\u00a0 akan lebih\u00a0 percaya\u00a0 pada\u00a0 merek\u00a0 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":40,"featured_media":917,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[249,248,250],"class_list":["post-916","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","tag-citra","tag-komunikasi-pemasaran","tag-richeese"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/916","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/users\/40"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=916"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/916\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":920,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/916\/revisions\/920"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/media\/917"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=916"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=916"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=916"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}