{"id":871,"date":"2022-11-02T11:30:12","date_gmt":"2022-11-02T04:30:12","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/?p=871"},"modified":"2022-11-22T11:31:31","modified_gmt":"2022-11-22T04:31:31","slug":"bunda-corla-yang-sederhana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/2022\/11\/02\/bunda-corla-yang-sederhana\/","title":{"rendered":"Bunda Corla yang sederhana?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">\u201cSibuk naik sepeda kencang-kencang, sampai berangin-angin rambutnya kena angin, sampek begini rambutnya kena angin\u2026\u201d ujar Bunda Corla dalam satu video live di Instagramnya. Itulah kegiatan Bunda Corla yang terlihat sederhana, membuat konten sambil ngopi, dengan pakaian ala kadarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Namun jika ditinjau dari perspektif komunikasi, maka kegiatan Bunda Corla tersebut tidaklah sederhana karena beberapa hal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pertama, dia seolah menjadi <em>speaker<\/em> yang\u00a0 mewakili masyarakat. Faktor inilah yang membuat banyak\u00a0 orang <em>relate<\/em> dengan Bunda Corla kata-katanya yang <em>to the point<\/em> dan blak-blakan. Pelontaran kata secara frontal entah itu hujatan maupun opini inilah yang membuat Bunda Corla semakin diperhatikan oleh masyarakat, karena bisa dibilang entah sengaja ataupun tidak, hal yang dilakukan bunda Corla sama saja dengan <strong><em>speak up<\/em><\/strong>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kedua adalah cara pembawaan diri yang dianggap unik dan menyenangkan. Pematahan banyak <em>stereotype<\/em> seperti wanita tidak boleh berbicara dengan frontal ataupun perilaku wanita seperti tidak boleh merokok dipatahkan hanya dalam 1 konten bunda Corla. Dari sinilah mengapa keviralan bunda Corla tidak perlu dipertanyakan, penyuguhan konten yang mengandung banyak info serta hiburan pastinya akan dinikmati masyarakat, terutama masyarakat Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dari sisi lain, dalam perspektif <em>theory of communication<\/em> Bunda Corla merupakan seorang yang <em>low context<\/em>. Menurut Edward T. Hall (1937) orang-orang yang <em>low context<\/em> merupakan orang yang lebih denotatif serta bersifat lebih eksplisit dalam penyampaian pesannya. Inilah mengapa beliau mampu mewakilkan serta menyuarakan banyak pemikiran masyarakat serta pemikirannya sendiri secara blak-blakan di forum publik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Komunikasi verbal dan non verbal juga terjadi dalam konten bunda Corla, gesturenya yang terlihat luwes dan kocak membuat konten yang dibuatnya terasa seperti <em>easy for the eyes, ears and mind<\/em>. Serta trademark yang dikenal netijen Indonesia, yakni <strong><em>\u201cBunda Corla Marah-Marah\u201d<\/em><\/strong>, menjadi kajian verbal dalam kontennya. Kata-kata yang dipilih mungkin kadang kasar dan marah-marah namun anehnya tidak menyinggung perasaan penonton konten tersebut. Cara berkomunikasi bunda inilah yang menjadi faktor utama, seperti <em>gesture<\/em>, verbal, <em>self concept<\/em>, dan bagaimana kita menyajikan konten menjadi hal yang krusial, apabila karakter personal yang dimiliki bunda Corla tidak sedemikian rupa kemungkinan terjadi <em>awkwardness<\/em> akan sangat besar.<\/p>\n<p>Dengan perspektif komunikasi, sesuatu yang terlihat sederhana sejatinya terbangun dari konstruksi yang tidaklah sederhana. Itulah serunya belajar Ilmu Komunikasi Kawan.<\/p>\n<h6><em><a href=\"https:\/\/id.theasianparent.com\/fakta-bunda-corla\">Sumber Foto: theasianparent<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cSibuk naik sepeda kencang-kencang, sampai berangin-angin rambutnya kena angin, sampek begini rambutnya kena angin\u2026\u201d ujar Bunda Corla dalam satu video live di Instagramnya. Itulah kegiatan Bunda Corla yang terlihat sederhana, membuat konten sambil ngopi, dengan pakaian ala kadarnya. Namun jika ditinjau dari perspektif komunikasi, maka kegiatan Bunda Corla tersebut tidaklah sederhana karena beberapa hal. Pertama, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":40,"featured_media":872,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[239,242,243],"class_list":["post-871","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","tag-bunda-corla","tag-komunikasi-verbal","tag-low-context"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/871","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/users\/40"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=871"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/871\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":875,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/871\/revisions\/875"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/media\/872"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=871"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=871"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=871"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}