{"id":839,"date":"2022-11-17T13:08:07","date_gmt":"2022-11-17T06:08:07","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/?p=839"},"modified":"2022-11-17T13:17:25","modified_gmt":"2022-11-17T06:17:25","slug":"belajar-dari-profesor-richard-hazenberg","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/2022\/11\/17\/belajar-dari-profesor-richard-hazenberg\/","title":{"rendered":"Belajar dari Profesor Richard Hazenberg"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">\u201c<em>How many work you have done, But\u2026\u2026\u2026 How does the impact<\/em>?\u201d Begitulah pertanyaan dari Profesor Richard Hazenberg dari University of Northampton UK, dalam mengawali acara International Workshop di Aula Binus @Malang pada tanggal 17 November 2022.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dengan topik Social Impact Measurement for a Sustainale Future, Richard menjelaskan bahwa tidak ada definisi tunggal untuk <em>Social Impact<\/em>. Jauh lebih penting mengetahui tujuan dari <em>measurement<\/em>-nya. Dia menjelaskan bahwa tujuan utama dari social impact measurement (SIM) adalah untuk mengetahui sisi baik dari apa yang kita perbuat kepada masyarakat. \u201cOne of my Professor said, the main purpose of social impact measurement is to Capture the good of what we do\u201d, ujar Profesor yang dulunya berprofesi sebagai polisi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Untuk melakukan SIM, Richard menekankan pemahaman atas theory of change, yaitu apa <strong>input<\/strong> dari masalah yang akan diukur, bagaimana <strong>aktifitas<\/strong> yang akan dilakukan, apa <strong><em>output<\/em><\/strong>nya, bagaimana <strong><em>outcomes<\/em><\/strong>nya dan bagaimana <strong><em>impact<\/em><\/strong> yang timbul di masyarakat. Dengan dasar tersebut, pengukuran dari dampak social bisa lebih opmital. Cara pengukuran pun beragam. Bisa menggunakan wawancara mendalam, metode survei ataupun FGD. Proses mencari data inilah yang merupakan tantangan terberat dalam SIM ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Durasi data pun juga harus ditentukan lebih awal. Richard mengistilahkan hal tersebut dengan <em>Drop-off<\/em>. Beda komunitas, beda <em>drop-off<\/em> datanya, karena <em>measurement<\/em> dilakukan dua kali. Pengukuran dampak social perlu dilakukan diawal, agar kita mendapatkan gambaran utuh dari fenomena yang ingin kita ukur. Setelah itu, dilakukan pengukuran lagi. Nah durasi waktu inilah yang sering kali membuat data kita tidak valid. Prof Richard menjelaskan, bisa jadi hal itu terjadi karena terlalu lama jeda antara pengukuran pertama dan kedua, atau terlalu cepat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Lantas, manfaatnya apa sih dari pengukuran dampak sosial ini? Prof Richard mengatakan tergantung dari <em>set goals<\/em> kita. Bisa untuk mengubah kebijakan publik, bisa pula untuk solusi yang berkelanjutan di masyarakat. Professor Richard memberi contoh konkrit, sebuah workshop tentang Confidence mampu membuat 26 lulusan Universitas untuk bekerja. Dampaknya adalah mereka mendapatkan pendapatan akumulatif, mereka mampu membayar pajak untuk negara, mereka mampu membayar asuransi (dimana perusahaan asuransi juga mempekerjakan banyak orang), mereka tidak menjadi beban negara. Itulah IMPACT yang dimaksud dari aktifitas SIM ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Terima kasih Professor Richard atas ilmunya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cHow many work you have done, But\u2026\u2026\u2026 How does the impact?\u201d Begitulah pertanyaan dari Profesor Richard Hazenberg dari University of Northampton UK, dalam mengawali acara International Workshop di Aula Binus @Malang pada tanggal 17 November 2022. Dengan topik Social Impact Measurement for a Sustainale Future, Richard menjelaskan bahwa tidak ada definisi tunggal untuk Social Impact. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":40,"featured_media":843,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[235,234,236],"class_list":["post-839","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","tag-profesor","tag-richard-hazenberg","tag-social-impact-measurement"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/839","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/users\/40"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=839"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/839\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":848,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/839\/revisions\/848"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/media\/843"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=839"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=839"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=839"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}