{"id":618,"date":"2022-06-21T17:05:51","date_gmt":"2022-06-21T10:05:51","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/?p=618"},"modified":"2025-05-23T10:06:39","modified_gmt":"2025-05-23T03:06:39","slug":"4-jenis-gaya-komunikasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/2022\/06\/21\/4-jenis-gaya-komunikasi\/","title":{"rendered":"4 Jenis Gaya Komunikasi"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-789 aligncenter\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2022\/06\/im-4-gaya-kom-priscilla-du-preez-VTE4SN2I9s0-unsplash-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"713\" height=\"475\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2022\/06\/im-4-gaya-kom-priscilla-du-preez-VTE4SN2I9s0-unsplash-300x200.jpg 300w, https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2022\/06\/im-4-gaya-kom-priscilla-du-preez-VTE4SN2I9s0-unsplash-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2022\/06\/im-4-gaya-kom-priscilla-du-preez-VTE4SN2I9s0-unsplash-768x512.jpg 768w, https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2022\/06\/im-4-gaya-kom-priscilla-du-preez-VTE4SN2I9s0-unsplash-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2022\/06\/im-4-gaya-kom-priscilla-du-preez-VTE4SN2I9s0-unsplash-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2022\/06\/im-4-gaya-kom-priscilla-du-preez-VTE4SN2I9s0-unsplash-480x320.jpg 480w, https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2022\/06\/im-4-gaya-kom-priscilla-du-preez-VTE4SN2I9s0-unsplash-scaled.jpg 1920w\" sizes=\"auto, (max-width: 713px) 100vw, 713px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Setiap individu memiliki gaya komunikasi serta cara berinteraksi dan bertukar informasi dengan individu lainnya secara unik. Pada dasarnya, terdapat empat gaya dalam berkomunikasi, yaitu pasif, agresif, pasif-agresif, dan asertif. Memahami setiap gaya komunikasi ini sangat penting agar kita dapat mengenali karakteristik, frasa standar, serta keunikan masing-masing gaya.<\/span><\/p>\n<h2><strong>1. Gaya Komunikasi Pasif<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Individu yang menggunakan gaya komunikasi pasif cenderung enggan menyatakan kebutuhan atau pendapat mereka dan lebih memilih untuk mengalah pada orang lain. Komunikator pasif sering menghindari konfrontasi, gagal mengungkapkan perasaan atau kebutuhan, serta lebih memilih untuk mengabaikan emosi mereka demi menjaga keharmonisan hubungan. Kurangnya komunikasi terbuka dari komunikator pasif dapat menyebabkan kesalahpahaman, menimbulkan rasa kecewa, atau bahkan memicu amarah yang terpendam. Namun, komunikator pasif sering kali dianggap sebagai sosok yang mudah diajak bicara karena mereka cenderung menghindari konflik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ciri-ciri komunikator pasif:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Kurangnya kontak mata<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Gestur tubuh yang kurang percaya diri<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Kesulitan mengatakan \u201ctidak\u201d<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Mengandalkan isyarat tidak langsung<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Sering merasa bahwa perasaan mereka tidak dipertimbangkan<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Contoh frasa komunikator pasif:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201cHal ini tidaklah penting.\u201d<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201cSebaiknya aku menghindar dari konflik.\u201d<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201cAku hanya ingin hidup damai.\u201d<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h2><strong>2. Gaya Komunikasi Agresif<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Gaya komunikasi agresif ditandai dengan ekspresi diri yang dominan, tegas, dan sering kali merendahkan atau mengintimidasi orang lain. Komunikator agresif cenderung menuntut, berbicara keras, dan mendominasi percakapan tanpa memperhatikan hak, perasaan, atau kebutuhan orang lain. Mereka sering menggunakan bahasa yang kasar, menyerang, mengancam, atau menyalahkan orang lain. Komunikator agresif juga jarang mendengarkan pendapat orang lain dan lebih mengutamakan keinginan sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Meskipun demikian, dalam beberapa situasi, komunikator agresif dapat dianggap sebagai pemimpin dan mendapatkan rasa hormat dari lingkungan sekitar, namun biasanya hal ini didasari oleh rasa takut atau tekanan, bukan penghargaan yang tulus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ciri-ciri komunikator agresif:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Kontak mata yang intens dan menantang<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Gestur tubuh yang dominan<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Menggunakan bahasa yang tidak hormat<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Mendominasi percakapan<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Menyalahkan, mengkritik, atau mengancam orang lain<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Contoh frasa komunikator agresif:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201cAku benar dan kamu salah.\u201d<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201cIni semua salahmu.\u201d<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201cAku akan menjalankan strategi ini apapun yang terjadi.\u201d<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h2><strong>3. Gaya Komunikasi Pasif-Agresif<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Gaya komunikasi pasif-agresif adalah campuran antara gaya pasif dan agresif. Komunikator pasif-agresif tampak pasif di permukaan, namun secara internal merasa tidak berdaya atau terjebak, sehingga membangun kebencian dan menyampaikan pesan secara tidak langsung. Mereka sulit mengakui kemarahan, menggunakan ekspresi wajah yang tidak sesuai dengan perasaan, dan sering menyangkal adanya masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Komunikator pasif-agresif biasanya berkomunikasi dengan bahasa tubuh yang tidak terbuka, menunda tugas, merajuk, menggunakan sarkasme, atau menyampaikan keluhan secara tidak langsung. Mereka juga cenderung menghindari konfrontasi langsung dan melakukan sabotase secara diam-diam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ciri-ciri komunikator pasif-agresif:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Bahasa tubuh atau ekspresi wajah yang tidak jujur<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Sering menunda-nunda<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Merajuk atau menjauh secara emosional<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Menggunakan sarkasme<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Menyampaikan keluhan secara tidak langsung<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Menghindari konfrontasi<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Melakukan sabotase secara diam-diam<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Contoh frasa komunikator pasif-agresif:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201cTidak apa-apa, namun jangan kaget ketika aku marah.\u201d<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201cTentu kami dapat melakukan hal-hal dengan cara yang Anda lakukan.\u201d <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">(sembari bergumam pada diri sendiri bahwa cara itu tidak mungkin)<\/span><\/i><\/li>\n<\/ul>\n<h2><strong>4. Gaya Komunikasi Asertif<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Gaya komunikasi asertif dianggap sebagai bentuk komunikasi yang paling efektif. Komunikator asertif menampilkan hubungan komunikasi yang terbuka, tegas, dan jelas, tanpa merugikan hak atau perasaan orang lain. Mereka mampu mengekspresikan kebutuhan, keinginan, ide, dan perasaan dengan jujur dan langsung, sekaligus mempertimbangkan kebutuhan orang lain. Tujuan dari komunikasi asertif adalah menciptakan keseimbangan antara hak diri sendiri dan hak orang lain, sehingga kedua belah pihak merasa dihargai dan dipahami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ciri-ciri komunikator asertif:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Menggunakan pernyataan \u201cSaya\u201d<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Suara yang jelas dan santai<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Kontak mata yang terbuka<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Mampu menolak atau menerima permintaan secara langsung<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Menghargai pendapat dan perasaan orang lain<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Contoh frasa komunikator asertif:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201cSaya merasa frustasi ketika Anda terlambat.\u201d<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201cSaya tidak suka harus menjelaskan hal ini secara berulang-ulang.\u201d<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201cSaya kesulitan dengan tugas ini, apakah kita bisa mendiskusikan cara yang lebih baik?\u201d<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Memahami keempat gaya komunikasi\u2014pasif, agresif, pasif-agresif, dan asertif\u2014sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan pekerjaan, keluarga, maupun pertemanan. Gaya komunikasi asertif dianggap yang paling sehat dan efektif karena mampu menciptakan hubungan yang saling menghormati, terbuka, dan seimbang. Dengan mengenali dan melatih gaya komunikasi asertif, kita dapat mengurangi konflik, meningkatkan kepercayaan diri, serta membangun hubungan interpersonal yang lebih harmonis<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap individu memiliki gaya komunikasi serta cara berinteraksi dan bertukar informasi dengan individu lainnya secara unik. Pada dasarnya, terdapat empat gaya dalam berkomunikasi, yaitu pasif, agresif, pasif-agresif, dan asertif. Memahami setiap gaya komunikasi ini sangat penting agar kita dapat mengenali karakteristik, frasa standar, serta keunikan masing-masing gaya. 1. Gaya Komunikasi Pasif Individu yang menggunakan gaya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":40,"featured_media":789,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[16,213,212,210,20],"class_list":["post-618","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","tag-communication","tag-communications","tag-gayakomunikasi","tag-ilmukomunikasi","tag-komunikasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/618","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/users\/40"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=618"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/618\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1790,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/618\/revisions\/1790"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/media\/789"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=618"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=618"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=618"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}