{"id":1193,"date":"2023-06-08T12:50:20","date_gmt":"2023-06-08T05:50:20","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/?p=1193"},"modified":"2023-06-26T12:54:29","modified_gmt":"2023-06-26T05:54:29","slug":"fear-of-missing-out-fomo-di-kalangan-remaja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/2023\/06\/08\/fear-of-missing-out-fomo-di-kalangan-remaja\/","title":{"rendered":"Fear Of Missing Out (FOMO) di Kalangan Remaja"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">Dalam era pertukaran informasi yang cepat seperti sekarang, muncul fenomena yang dikenal sebagai Fear Of Missing Out atau yang lebih sering kita menyebutnya FOMO. FOMO merupakan keinginan pribadi untuk tetap terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain, terutama dalam hal-hal yang sedang menjadi sebuah tren.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pada tahun 2012, penelitian telah dilakukan untuk mengkaji istilah FOMO ini, dan hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa FOMO dapat menimbulkan perasaan gelisah atau takut tertinggal jika seseorang tidak mengalami atau merasakan hal yang lebih baik, sama, atau lebih menyenangkan dibandingkan dengan apa yang mereka miliki saat ini. Biasanya, perasaan FOMO ini muncul ketika seseorang melewatkan tren yang sedang terjadi dalam kehidupan sosial mereka. Bahkan, Australian Psychological Society (APS), sebuah organisasi profesional psikologi di Australia, melaporkan bahwa remaja rata-rata dapat merasakan perasaan FOMO selama 2,7 jam setiap hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Menurut beberapa peneliti yaitu Murayama, Dehann, dan Gladwell serta Przybylski untuk para individu yang mengalami FOMO di dunia sosial media berdampak untuk kepuasan kebutuhan dan juga mood serta kepuasan hidup yang rendah dalam kehidupan nyata. Dengan keadaan berada dalam situasi FOMO tersebut menyebabkan seorang individu bisa berperilaku irasional untuk bisa mengatasi Fomonya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Misalnya saja Seorang remaja bisa terus melakukan pemantauan secara obsesif terhadap media sosial saat belajar di sekolah. Menurut orang yang sedang berada dalam fase FOMO dalam posisi tersebut adalah sesuatu hal yang wajar buat mereka karena kebutuhan dalam diri mereka untuk bisa terus dipuaskan hal terbaru didunia sosial media,\u00a0 sedangkan bagi orang secara rasional menganggap bahwa apa yang dilakukan\u00a0 tersebut menyebabkan kerugian dari diri sendiri.\u00a0 Dengan meningkatnya kasus atau sindrom FOMO ini pada kalangan remaja dikatakan oleh para peneliti menyebabkan rendahnya identitas diri,\u00a0 merasa kesepian,\u00a0 bahkan memandang diri sendiri sebagai hal yang negatif,\u00a0 perasaan terpinggir kan,\u00a0 dan bahkan muncul perasaan iri hati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Media sosial merupakan penyebab salah satu faktor utama yang berperan dalam timbulnya FOMO. Adanya media sosial tersebut, orang dapat mengembangkan perasaan atau emosi negatif karena adanya rasa iri terhadap postingan dan kehidupan orang lain. Media sosial telah menciptakan platform yang mudah diakses dan menjadi pusat bagi orang-orang yang ingin mengetahui apa yang dilakukan orang lain pada saat itu. Peneliti dari dua universitas di Jerman menganalisis data dari Facebook dan menemukan bahwa pengguna media sosial seringkali mengalami perasaan negatif\u00a0 karena mereka melihat kehidupan teman-teman mereka yang terlihat &#8220;sempurna&#8221;. Orang-orang yang mengalami FOMO cenderung lebih sering menggunakan media sosial karena mereka merasa penting untuk tetap &#8220;terhubung&#8221; secara terus-menerus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">FOMO ini sendiri seperti membuat seorang remaja tidak bisa menerima dirinya sendiri. Sehingga memandang bahwa kehidupan yang ideal ini harus sesempurna mungkin seperti apa yang di lihat di sosial media. Contoh kasus yang sering terjadi yaitu, pada umumnya di usia remaja memiliki jerawat adalah sesuatu hal yang wajar dalam dunia biologis, tetapi karena banyaknya marketing mengenai wajah yang putih, bersih, dan tanpa noda membuat para remaja menjadi berlomba-lomba untuk memenuhi stadarisasi hal tersebut. Bahkan banyak remaja yang akhirnya mengasingkan diri ataupun diasingkan oleh lingkungan pertemananan nya karena hal tersebut. Jadi fenomena FOMO ini lebih banyak berdampak negatif\u00a0 kepada remaja, yang menyebabkan para remaja secara emosional lebih tidak stabil dan menilai dirinya rendah. Padahal pada kenyataan nya kehidupan di dunia nyata tidak sesempurna di dunia media sosial. Menurut banyaknya peneliti hal ini lama-lama akan menyebabkan hancurnya mental anak remaja yang berdampak kepada perkembangan remaja menjadi dewasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<h6 style=\"text-align: justify\">Referensi<\/h6>\n<h6 style=\"text-align: justify\">Rizki Setiawan Akbar, Adra A Psari, &amp; Lisda Sofia. (2019). Ketakutan Akan Kehilangan Momen (FoMo) Pada Remaja Kota Samarinda. Psikostudia Jurnal Psikologi.<\/h6>\n<h6 style=\"text-align: justify\">Salma Nadzirah, Wahidah Fitriani, &amp; Putri Yeni. (2022). DAMPAK SINDROM FoMO TERHADAP INTERAKSI SOSIAL. Intelegensia: Jurnal Pendidikan Islam.<\/h6>\n<h6>Photo by <a href=\"https:\/\/unsplash.com\/@etiennegirardet?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText\">Etienne Girardet<\/a> on <a href=\"https:\/\/unsplash.com\/photos\/NJ7_RKmfsXw?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText\">Unsplash<\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam era pertukaran informasi yang cepat seperti sekarang, muncul fenomena yang dikenal sebagai Fear Of Missing Out atau yang lebih sering kita menyebutnya FOMO. FOMO merupakan keinginan pribadi untuk tetap terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain, terutama dalam hal-hal yang sedang menjadi sebuah tren. Pada tahun 2012, penelitian telah dilakukan untuk mengkaji istilah FOMO [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":40,"featured_media":1194,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1193","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1193","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/users\/40"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1193"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1193\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1196,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1193\/revisions\/1196"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1194"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1193"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1193"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/communication\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1193"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}