{"id":3313,"date":"2019-04-22T19:00:03","date_gmt":"2019-04-22T12:00:03","guid":{"rendered":"http:\/\/binus.ac.id\/knowledge\/?p=3313"},"modified":"2019-05-06T11:02:11","modified_gmt":"2019-05-06T04:02:11","slug":"menyiapkan-konten-pembelajaran-digital-dengan-model-scorm-1-2-bagian-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/knowledge\/2019\/04\/menyiapkan-konten-pembelajaran-digital-dengan-model-scorm-1-2-bagian-1\/","title":{"rendered":"Menyiapkan Konten Pembelajaran Digital dengan Model SCORM 1.2 &#8211; Bagian ke-1"},"content":{"rendered":"\n<p>SCORM, sebagian besar yang berkecimpung pada bidang <em>e-learning<\/em> tentu telah cukup sering mendengar kata ini. SCORM yang memiliki kepanjangan <em>Sharable Content Object Reference Model<\/em> telah lama digunakan  sebagai model <em>e-learning content delivery<\/em> pada <em>Learning Management Systems <\/em>(LMS). Dikembangkan sejak tahun 2001 oleh <em>Advance Distributed Learning<\/em>, dan diadopsi oleh banyak organisasi <em>e-learning<\/em>, bahkan sampai saat ini (walaupun saat ini sudah ada <em>successor<\/em>-nya yaitu xAPI dan cmi5).<\/p>\n\n\n\n<p>SCO (<em>Sharable Content Object<\/em>) pada istilah SCORM merupakan sebuah satuan konten yang sangat terfokus pada sebuah topik, sehingga sangat independen dan dapat dipergunakan kembali. LMS dapat melakukan <em>tracking<\/em> kepada sebuah SCO baik itu berupa <em>bookmarking<\/em>(kemampuan melanjutkan dari lokasi tertentu pada sesi pembelajaran), skor, dan status.<\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan dua uraian paragraf di atas, untuk dapat menjalankan fungsionalitas dari SCORM maka LMS dan Konten (SCO) harus SCORM <em>compliant<\/em>. <\/p>\n\n\n\n<p>Pada artikel ini saya akan berbagi bagaimana membuat konten pembelajaran yang telah dibuat menjadi SCORM 1.2 <em>compliant<\/em> <em>package<\/em>. Pasti pembaca bertanya-tanya, kenapa SCORM 1.2? jawaban singkatnya adalah SCORM 1.2 adalah model yang paling banyak digunakan sampai saat ini dan paling mudah dibuat.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sebagai catatan<\/strong>, ketika SCORM dibuat dan dikembangkan, aktivitas <em>e-learning<\/em> ditargetkan untuk berjalan pada lingkungan internet menggunakan <em>web browser<\/em>. Maka konten harus merupakan laman HTML tetapi kontennya dapat berupa <em>hypermedia<\/em> seperti grafik, audio, video, atau <em>ActiveX-object<\/em> (seperti SWF) yang dapat didukung oleh <em>web-browser<\/em>. Dokumen PDF atau <em>Office<\/em> tidak dapat digunakan karena akan ter-<em>download<\/em> otomatis oleh <em>web-browser<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk membuat laman HTML, memang diperlukan kemampuan untuk dapat mengerti sintaks-sintaksnya. Pada artikel ini saya akan membuat dalam bentuk <strong>sesederhana<\/strong> mungkin menggunakan 3 laman HTML dengan konten <em>hypermedia<\/em> sederhana, dengan nama dokumen sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>index.html <\/li><li>konten.html<\/li><li>penutup.html<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Tiga laman HTML ini diberi nama sesuai dengan isinya (tentu pada realitanya bisa lebih kompleks). Laman HTML dengan nama index.html merupakan halaman pertama yang akan dibuka ketika sesi pembelajaran <em>online<\/em> dimulai.<\/p>\n\n\n\n<p>Langkah berikutnya adalah mengunduh <em>source code Javascript<\/em> untuk menggunakan fungsi dari SCORM pada tautan berikut <a href=\"https:\/\/raw.githubusercontent.com\/pipwerks\/scorm-api-wrapper\/master\/src\/JavaScript\/SCORM_API_wrapper.js\">https:\/\/raw.githubusercontent.com\/pipwerks\/scorm-api-wrapper\/master\/src\/JavaScript\/SCORM_API_wrapper.js<\/a>. Simpan dokumen js tersebut pada folder\/direktori yang sama dengan 3 laman HTML. <\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/knowledge\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/Screen-Shot-2019-04-23-at-10.12.14.png\" alt=\"Tampilan struktur dokumen\" class=\"wp-image-3341\" width=\"406\" height=\"132\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/knowledge\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/Screen-Shot-2019-04-23-at-10.12.14.png 668w, https:\/\/binus.ac.id\/knowledge\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/Screen-Shot-2019-04-23-at-10.12.14-480x157.png 480w\" sizes=\"auto, (max-width: 406px) 100vw, 406px\" \/><figcaption>Tampilan struktur dokumen<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Demikian untuk bagian pertama, saya akan mulai membahas teknis pengisian 3 laman HTML pada artikel berikutnya. Terima kasih telah membaca dan mengikuti artikel ini, semoga bermanfaat.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>REFERENSI: <\/strong><br><a href=\"https:\/\/scorm.com\/scorm-explained\">https:\/\/scorm.com\/scorm-explained<\/a> <br><a href=\"https:\/\/github.com\/pipwerks\/scorm-api-wrapper\">https:\/\/github.com\/pipwerks\/scorm-api-wrapper<\/a> <br><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SCORM, sebagian besar yang berkecimpung pada bidang e-learning tentu telah cukup sering mendengar kata ini. SCORM yang memiliki kepanjangan Sharable Content Object Reference Model telah lama digunakan sebagai model e-learning content delivery pada Learning Management Systems (LMS). Dikembangkan sejak tahun 2001 oleh Advance Distributed Learning, dan diadopsi oleh banyak organisasi e-learning, bahkan sampai saat ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":3328,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[83],"tags":[193],"class_list":["post-3313","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","tag-scorm"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/knowledge\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3313","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/knowledge\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/knowledge\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/knowledge\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/knowledge\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3313"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/knowledge\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3313\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3803,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/knowledge\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3313\/revisions\/3803"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/knowledge\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3328"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/knowledge\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3313"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/knowledge\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3313"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/knowledge\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3313"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}