Metode Helicopter Teaching Pada Pembelajaran, Tepatkah?

Apa anda masih ingat bagaimana Anda belajar di sekolah? Bagaimana kita terbiasa diarahkan oleh orang tua kita, diingatkan orang tua kita, dan menunggu instruksi orang tua kita untuk mengerjakan PR sekolah. Hal tersebut dikenal sebagai helicopter parenting ataau over parenting, adalah dimana orang tua mengontrol anaknya secara penuh dalam mendidik. Orang tua tidak yakin, tanpa memberikan perhatian berlebih, seperti turut campur dalam tugas anak, dapat memberikan hasil yang baik bagi anak mereka.

Umumnya kita takut anak kita menghadapi kegagalan, intinya anak-anak kita harus berhasil. Karena pandangan masyarakat saat ini adalah, semakin bergerlar, semakinĀ  terdidik. Setidaknya definisi kebutuhan saat ini adalah siswa harus lulus. Apabila kita telaah lagi, lulus tidak memberi jaminan bahwa siswa telah paham terhadap pembelajaran. Olehnya, definisi kebutuhan mungkin dapat didefinisikan kembali, seperti, siswa yang lulus adalah mereka yang paham. Mereka yang belum lulus, mereka harus berusaha paham sehingga mereka bisa lulus.

Tidak berbeda jauh dengan helicopter parenting, helicopter teaching adalah kebiasaan pengajar mengarahkan siswa atau melayani siswa secara berlebihan. Perilaku informasional termasuk keterlibatan berlebihan pada tugas siswa, membantu memudahkan materi yang diberikan untuk siswa, dan mengakomodasi permintaan siswa untuk keringanan hukuman. Selain itu hal-hal yang menyangkut helicopter teaching yaitu, bagaimana pengajar memberikan dorongan yang berlebihan kepada siswa.

Umumnya hal ini, terutama di Indonesia, masih terjadi di Tingkat Sekolah bahkan di perkuliahan S1. Pembelajaran yang efektif seharusnya terjadi ketika pengajar maupun siswa, ketika dua entitas menghuni satu ruang yang sama, keduanya harus saling berfungsi. Bersama menyadari tugas dan kepentingannya di dalam kelas. Saat ini pengajarĀ  bertekad membuat siswanya berhasil, tidak jarang secara personal. Contohnya, mengingatkan murid untuk mengumpulkan tugas dan memberikan tenggat waktu pada keterlambatan. Sedangkan, siswa jelas tahu tenggat waktu yang telah diberikan untuk batas pengumpulan tugas, maka dengan perilaku berlebihan yang diberikan dalam mengajar, konsekuensi menjadi hal yang jarang terjadi bagi individual yang malas dan tidak berinisiatif.

Masalahnya adalah, pribadi harus dibentuk. Individual harus dilatih bahwa mereka harus mandiri dan berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu. Terutama pada masa ini, individual satu dan lainnya berkompetitif untuk mendapatkan nilai, pekerjaan, atau pencapaian. Betul bahwa dengan adanya helicopter teaching, siswa merasa diperhatikan, tidak keluar jalur dari materi yang diberikan pengajar, dan dapat membantu siswa mencapai nilai tinggi. Namun sekali lagi, metode tersebut dapat memberikan rasa ketergantungan kepada siswa. Selain itu kreativitas siswa juga tidak berkembang karena terbiasa mengerjakan sesuatu sesuai dengan yang diarahkan. Ketidakberhasilan bukanlah kegagalan, dengan mencoba membiarkan siswa mandiri dan mengasah kreativitasnya dalam pengetahuan, walaupun mereka gagal, setidaknya mereka belajar banyak hal. Belajar bagaimana agar selanjutnya mereka berhasil dan bagaimana agar selanjutnya mereka menjadi lebih paham terhadap materi melalui proses yang mungkin bisa diraih dengan cara lain selain dari pengajar, sehingga dapat meningkatkan tingkat kreativitas siswa.

Tidak jarang akibat dari helicopter teaching yaitu membuat pengajar-pengajar yang bagus terlihat buruk karena kegagalan siswanya dan itu merugikan. Metode ini memang terlihat menolong sesaat, namun cukup mengganggu pertumbuhan individual untuk kedepannya. Pilihannya adalah memberikan arahan secukupnya kepada siswa dan biarkan mereka memahami materi dari berbagai sumber, serta biarkan mereka mandiri, tanpa perlu memberikan perhatian berlebihan. Apabila mereka belum berhasil, biarkan mereka merasakan konsekuensinya dan bangun dari ketidakberhasilannya. Atau mengarahkan sepenuhnya agar mereka tidak gagal dan tidak apa menjadi pengingat mereka dalam tugas dan sejenisnya. Namun, mereka mungkin akan berpotensi belum memahami materi, kurang mandiri, atau bergantung. Pilihan tersebut ada ditangan, anda, saya, atau mereka para pengajar.

————

Referensi:

01.
D. Laura, Diane. Helicopter Teaching: What it is and Why it’s a Problem. Online, Medium (2018).
https://medium.com/@laurad_51517/helicopter-teaching-what-it-is-and-why-its-a-problem-c2a2775d620b

02.
M., Abe. Are Helicopter Teahers A Thing?. Online, Medium (2018).
https://arbay38.medium.com/are-helicopter-teachers-a-thing-34695c0f86ee

03.
Houser, Marian L. Abstract: The road to hel(l)icopter teaching: how do instructors make sense of their helicopter teaching behaviors and student effects?. Online, Taylor&Francis Online (2018).
https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/17459435.2020.1853209

04.
Photo:
Unsplash by NeONBRAND
https://unsplash.com/photos/zFSo6bnZJTw & https://unsplash.com/photos/1-aA2Fadydc

 

Listhari Baenanda