{"id":3883,"date":"2022-12-08T18:06:59","date_gmt":"2022-12-08T11:06:59","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/?p=3883"},"modified":"2022-12-08T18:06:59","modified_gmt":"2022-12-08T11:06:59","slug":"mengembangkan-empati-dan-memanusiakan-karyawan-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/2022\/12\/08\/mengembangkan-empati-dan-memanusiakan-karyawan-1\/","title":{"rendered":"Mengembangkan Empati dan Memanusiakan Karyawan (1)"},"content":{"rendered":"<p><span id=\"page5R_mcid19\" class=\"markedContent\"><span dir=\"ltr\" role=\"presentation\">by Isanawikrama<\/span><\/span><span id=\"page5R_mcid26\" class=\"markedContent\"><span dir=\"ltr\" role=\"presentation\"><br \/>\n<\/span><\/span><span id=\"page5R_mcid27\" class=\"markedContent\"><\/span><\/p>\n<p>Sulit dimungkiri, banyak pengusaha sukses yang lahir dari keterbatasan. Kesulitan dan kepahitan hidup menempa mereka menjadi lebih\u00a0<em>struggle<\/em>,\u00a0<em>ngotot<\/em>, dan pantang menyerah. Dan, itulah sikap yang dibutuhkan untuk meraih keberhasilan.<\/p>\n<p>Ali Muharam,\u00a0<em>Founder<\/em>\u00a0dan CEO Makaroni Ngehe (tengah berbaju putih) bersama karyawan.<\/p>\n<p>Kisah Ali Muharam, pengusaha muda yang sukses mengorbitkan Makaroni Ngehe, jajanan\u00a0<em>ngehits<\/em>\u00a0kaum milenial, adalah contohnya. Sosok\u00a0<em>Founder<\/em>\u00a0dan CEO Makaroni Ngehe yang berhasil mengembangkan bisnisnya yang didirikan pada Maret 2013 hingga menjadi 32 cabang \u2e3atersebar di wilayah Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur\u2e3a serta memiliki sekitar 500 karyawan ini juga datang dari keluarga sangat sederhana.<\/p>\n<p>Mulanya, Ali tidak lebih dari seorang anak muda lulusan SMA yang tengah mencari jati diri. Tidak memiliki bekal keterampilan dan bahkan tidak punya modal bisnis, ia hanya ingin mengubah nasib. Cita-citanya sederhana: keluar dari lingkaran setan, setelah melalui kepahitan demi kepahitan dalam perjalanan hidupnya.<\/p>\n<p>\u201cSaya pernah mencoba jadi penulis, tapi waktu itu karier saya sebagai penulis sangat anjlok. Hal ini menjadi mata rantai kesulitan hidup saya terus berulang,\u201d ungkapnya mengenang masa-masa berat dalam hidupnya.<\/p>\n<p>Ketika di tengah kebimbangan mencari sumber penghasilan, sang ibu menawarkan berjualan makaroni \u2e3ajenis makanan yang selalu disuguhkan ketika Lebaran dan menjadi cirikhas menu keluarga di kampungnya (Tasikmalaya). \u201cTernyata setelah diperkenalkan, banyak orang yang mengekor ikut berjualan,\u201d ungkap Ali. Tahun 2008, ia pun memutuskan serius menggeluti bisnis makanan makaroni.<\/p>\n<p>Seperti lazimnya bisnis baru, Ali juga menghadapi masa-masa\u00a0<em>struggle<\/em>\u00a0yang cukup menantang. Dengan dibantu oleh sang ibu yang tak hentinya memberi semangat, ia antusias memulai bisnis makanan.<\/p>\n<p>Sayangnya, tak lama kemudian ibunda tercinta kembali kepada Sang Khalik karena sakit. \u201cPadahal, saat itu posisi saya masih merangkak, jualan dengan gerobak, belum seperti sekarang,\u201d kata Ali yang mengaku saat itu sedih dan putus asa, kehilangan semangat hidup. Baginya, sang ibunda adalah sumber inspirasi sekaligus penyemangat hidupnya.<\/p>\n<p>Beruntung, kepedihan itu tidak berlarut-larut. Ketika dalam kepedihan mendalam, Ali bertemu seseorang yang membutuhkan bantuan. \u201cSaya memberikan uang ke orang tersebut dan orang itu terlihat sangat berterima kasih dan terus-menerus mendoakan saya. Hati saya membuncah senang. Dari situ saya berpikir bahwa esensi kebahagiaan yang sebenarnya adalah jika kita bisa membuat orang lain bahagia, kita akan merasa lebih bahagia,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Ali sampai pada satu kesimpulan, bahwa untuk merasa bahagia itu bukan berusaha membahagiakan diri sendiri, melainkan harus membahagiakan orang lain. Pelajaran hidup ini dibawanya dalam melanjutkan pengembangan bisnis dan dalam mengasah sifat kepemimpinannya.<\/p>\n<p>\u201cSaya harus memberi contoh sebelum menyuruh. Ketika menyuruh karyawan melakukan sesuatu, saya juga harus memahami tugas yang didelegasikan tersebut.\u201d<\/p>\n<p><em>Ali Muharam,\u00a0Founder\u00a0dan CEO Makaroni Ngehe.<\/em><\/p>\n<p>Berbekal semangat baru, Ali memutuskan membuka gerai di Jakarta dari modal pinjaman sebesar Rp 20 juta. Mengapa membuka gerai? Karena, ia ingin mempekerjakan orang lain. Ia ingin membagi kebahagiaan bersama yang lain.<\/p>\n<p>Namun, karena modal terbatas, banyak hal yang ia kerjakan sendiri, mulai dari belanja di Tasikmalaya, memanggul barang-barang belanjaan sendiri, memasak, hingga menunggui dagangan dengan tidur di gerai sendiri. \u201cTidak mengapa, karena waktunya lama,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Gerainya pun mulai ramai. \u201cDari awalnya hanya mendapat keuntungan puluhan ribu rupiah per hari, kemudian berkembang ratusan ribu per hari, hingga akhirnya mencapai jutaan per hari,\u201d katanya senang.<\/p>\n<p>Setahun kemudian, ketika membuka cabang ke-6, Ali mulai mengajak teman-temannya untuk membantu mengelola keuangan, operasional, gudang, belanja, dsb. Meskipun masih relatif tradisional, ia sudah mulai mencoba membuka kantor dan menyusun struktur organisasi perusahaan. \u201cSekarang\u00a0<em>sih<\/em>\u00a0sudah mulai tertata secara profesional,\u201d ungkapnya bangga.<\/p>\n<div class=\"page\" role=\"region\" data-page-number=\"1\" aria-label=\"Page 1\" data-loaded=\"true\">\n<div class=\"annotationEditorLayer\" data-main-rotation=\"0\"><\/div>\n<\/div>\n<div class=\"page\" role=\"region\" data-page-number=\"2\" aria-label=\"Page 2\" data-loaded=\"true\">\n<div class=\"canvasWrapper\"><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>by Isanawikrama Sulit dimungkiri, banyak pengusaha sukses yang lahir dari keterbatasan. Kesulitan dan kepahitan hidup menempa mereka menjadi lebih\u00a0struggle,\u00a0ngotot, dan pantang menyerah. Dan, itulah sikap yang dibutuhkan untuk meraih keberhasilan. Ali Muharam,\u00a0Founder\u00a0dan CEO Makaroni Ngehe (tengah berbaju putih) bersama karyawan. Kisah Ali Muharam, pengusaha muda yang sukses mengorbitkan Makaroni Ngehe, jajanan\u00a0ngehits\u00a0kaum milenial, adalah contohnya. Sosok\u00a0Founder\u00a0dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":10,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-3883","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3883","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3883"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3883\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3884,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3883\/revisions\/3884"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3883"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3883"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3883"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}