{"id":3801,"date":"2021-12-07T17:00:57","date_gmt":"2021-12-07T10:00:57","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/?p=3801"},"modified":"2021-12-07T17:00:57","modified_gmt":"2021-12-07T10:00:57","slug":"penggunaan-teknologi-digital-dalam-ternak-ayam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/2021\/12\/07\/penggunaan-teknologi-digital-dalam-ternak-ayam\/","title":{"rendered":"PENGGUNAAN TEKNOLOGI DIGITAL DALAM TERNAK AYAM"},"content":{"rendered":"<p>PENGGUNAAN TEKNOLOGI DIGITAL DALAM TERNAK AYAM<br \/>\nPenulis : Secuandra Elania (D6567)<br \/>\nAyam dan telur adalah salah satu sumber protein hewani utama di Indonesia selain sapi dan<br \/>\nkambing. Meskipun populasi ayam pedaging di Indonesia telah mencapai 2 juta ekor di tahun 2018<br \/>\n(Tabel Populasi Ayam Pedaging Directorate General of Livestock and Animal Health Resources),<br \/>\nkonsumsi daging ayam 15kg perkapita masih lebih rendah dibandingkan negara ASEAN lainnya.<br \/>\nContohnya Malaysia tingkat konsumsi daging ayamnya sekitar 40kg per kapita. Konsumsi daging<br \/>\nperkapita yang rendah menunjukkan produktivitas peternakan ayam pedaging (broiler) di<br \/>\nIndonesia masih perlu ditingkatkan baik dalam kuantitas maupun kualitas.<br \/>\nImprovement kualitas dan kuantitas dalam peternakan ungas menghadapi issue kompleks mulai<br \/>\ndari tingginya biaya produksi, rendahnya daya beli masyarakat terutama pada kondisi pandemic<br \/>\ndan pasca pandemic, issue antibiotic residue pada daging ayam yang berdampak pada antiobiotic<br \/>\nresistance manusia serta pengendalian penyakit unggas. Belum lagi ketidakseimbangan antara<br \/>\nsupply-demand dari hulu sampai hilir dalam industri peternakan ayam.<br \/>\nPemakaian Teknologi digital dalam setiap rantai nilai industri peternakan ayam membantu<br \/>\nmengatasi issue diatas serta memberikan berbagai nilai tambah dan peningkatan produktivitas.<br \/>\nBeberapa pemakaian teknologi digital dan manfaat yang akan diperoleh sebagai berikut:<br \/>\n1. Pemakaian AI baik itu big data dan cloud computing system dalam membuat Smart Closed<br \/>\nHouse Chicken Farm. AI ini akan membantu Farm Manager dan dokter hewan<br \/>\nmemperoleh prediksi pola perubahan cuaca, kecepatan dan arah angin, humidity, historical<br \/>\ndisease infection dan parameter biosecurity dan produksi lainnya sehingga dapat mengelola<br \/>\nprogram produksi, pemberian vaksinasi, vitamin, cleaning &amp; disinfection program untuk<br \/>\npencegahan penyakit, memacu pertumbuhan ayam (penggemukan) dan peningkatan<br \/>\ntingkat hidup ayam (survivalibity rate). Dampak atau manfaat yang diperoleh adalah<br \/>\nperbaikan volume produksi, minimalisir penyakit dan efisiensi biaya pakan dan energi serta<br \/>\nobat obatan.<br \/>\n2. Pemakaian teknologi digital untuk memonitoring residue antibiotic dalam daging ayam dan<br \/>\ntelur sehingga meningkatkan kualitas daging ayam dan telur yang berdampak pada<br \/>\npeningkatan food safety bagi konsumennya. Zero residue antibiotic dan bebas penyakit<br \/>\ndapat membuka peluang bisnis untuk ekspor ke Singapore.<br \/>\n3. Pemakaian teknologi digital pada perternakan ayam terintegrasi akan dapat memperbaiki<br \/>\nakurasi forecast sehingga kondisi supply demand dapat lebih stabil.<br \/>\nPenerapan Teknologi digital dalam peternakan saat ini mulai dikembangkan di fakultas peternakan<br \/>\nUGM dengan nama BROILERX. Diharapkan kedepannya akan semakin banyak tersedia system<br \/>\nSmart Closed House Chicken Farm dan dapat digunakan oleh peternak<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PENGGUNAAN TEKNOLOGI DIGITAL DALAM TERNAK AYAM Penulis : Secuandra Elania (D6567) Ayam dan telur adalah salah satu sumber protein hewani utama di Indonesia selain sapi dan kambing. Meskipun populasi ayam pedaging di Indonesia telah mencapai 2 juta ekor di tahun 2018 (Tabel Populasi Ayam Pedaging Directorate General of Livestock and Animal Health Resources), konsumsi daging [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":10,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-3801","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3801","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3801"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3801\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3802,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3801\/revisions\/3802"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3801"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3801"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3801"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}