{"id":2528,"date":"2019-11-07T10:32:33","date_gmt":"2019-11-07T03:32:33","guid":{"rendered":"http:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/?p=2528"},"modified":"2019-11-07T10:32:33","modified_gmt":"2019-11-07T03:32:33","slug":"definisi-usaha-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/2019\/11\/07\/definisi-usaha-sosial\/","title":{"rendered":"DEFINISI USAHA SOSIAL"},"content":{"rendered":"<p>Walaupun sulit diketahui seperti apa bentuk usaha sosial dan lokasinya, diperkirakan usaha sosial telah dimulai sejak akhir tahun 80-an. Namun, hingga sekarang belum ada konsensus dari definisi usaha sosial. Dalam pengertian sederhana, usaha sosial adalah hibrida antara bisnis dengan tujuan profit dan inisiatif yang tidak bertujuan profit. Sisi bisnis dari sebuah usaha sosial bersifat komplementer ketimbang sisi sosial, lingkungan dan dampak ke generasi selanjutnya. Keuntungan finansial cenderung dianggap sebagai cara untuk mempertahankan kelanjutan usaha sosial. Kata kunci kewirausahaan sosial yang sering disebut di banyak literatur, salah satunya adalah \u201cagen perubahan\u201d, \u201cnilai sosial\u201d, \u201cinovasi berkelanjutan\u201d dan<\/p>\n<p>\u201ckeberlanjutan finansial\u201d. Di Australia, terdapat usaha sosial yang mempromosikan pembuatan bir rumahan yang berkelanjutan (sustainable). Usahanya dibiayai melalui\u00a0crowdfunding\u00a0dan keuntungannya didonasikan untuk\u00a0 preservasi Great Barrier Reef \u00a0di Australia. Penyedia\u00a0 jasa pemandu wisata di Praha , Ceko, memberdayakan tuna wisma sebagai pemandu tur. Mereka diajak untuk memperlihatkan Praha kepada turis,<\/p>\n<p>diselingi dengan cerita kehidupan para tuna wisma sehari-hari. Sedangkan di Inggris, terdapat badan \u00a0memberdayakan masyarakat yang memiliki isu kesehatan mental atau keterbatasan<\/p>\n<p>lain. Karakteristik pelaku usaha Sosial Pelaku usaha sosial adalah mereka yang menelurkan ide untuk mengatasi masalah sosial\/lingkungan tertentu, sekaligus memenuhi potensi bisnis yang tersedia. Karakteristik usaha sosial adalah adanya asas partisipatif. Semua pihak di dalam<\/p>\n<p>bisnis dianggap sejajar sebagai agen perubahan. Mulai dari pemilik bisnis, penyumbang dana, karyawan, sukarelawan hingga konsumen atau penerima manfaat, semuanya berkontribusi dalam memperbaiki kondisi sosial. Keterlibatan semua pihak menciptakan rasa kekeluargaan di tiap individu. Dengan begitu, setiap orang punya kesempatan sama menjadi pahlawan, dan berkontribusi membuat perubahan di dunia. Apalagi para penerima manfaat dari usaha sosial, tidak dicitrakan sebagai \u201ctangan di bawah\u201d, yang hanya menunggu bantuan dari<\/p>\n<p>kalangan \u201ctangan di atas\u201d. Para petani penerima dana dari\u00a0crowdfunding, ibu rumah tangga peserta pelatihan kerajinan tangan atau mantan narapidana yang berusaha berbaur di masyarakat, adalah para penerima manfaat yang berperan penting dalam proses perbaikan<\/p>\n<p>berkelanjutan. Para penyumbang dana pun secara tidak langsung menerima manfaat dari usaha sosial. Selain menerima pengembalian finansial, mereka pun memperoleh<\/p>\n<p>kepuasan pribadi karena membawa perubahan pada isu sosial yang dipilih. Pemilik usaha sosial juga mendapatkan kepuasan dari terciptanya lapangan kerja dan keberlanjutan usaha rintisannya.<\/p>\n<p>Sebagai industri yang masih \u201chijau\u201d, belum dapat dipastikan bagaimana perkembangan usaha sosial di masa depan. Bukan hanya disebabkan karena kodrat usaha sosial yang dinamis, tetapi juga bagaimana respon lingkungan sosial, ekonomi dan politik pada<\/p>\n<p>keberadaan usaha sosial itu sendiri. Bagaimanapun juga, hakikat usaha sosial adalah tanggap dengan ketidakpastian. Mereka dilengkapi dengan fleksibilitas untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Tren yang berkembang bisa dilihat sebagai ketertarikan masyarakat pada hal baru. Dapat juga diartikan sebagai bertambahnya kepercayaan publik pada konsep dan pesan usaha sosial.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Walaupun sulit diketahui seperti apa bentuk usaha sosial dan lokasinya, diperkirakan usaha sosial telah dimulai sejak akhir tahun 80-an. Namun, hingga sekarang belum ada konsensus dari definisi usaha sosial. Dalam pengertian sederhana, usaha sosial adalah hibrida antara bisnis dengan tujuan profit dan inisiatif yang tidak bertujuan profit. Sisi bisnis dari sebuah usaha sosial bersifat komplementer [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-2528","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2528","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2528"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2528\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2530,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2528\/revisions\/2530"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2528"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2528"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/entrepreneur\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2528"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}