{"id":8020,"date":"2026-09-14T07:41:02","date_gmt":"2026-09-14T00:41:02","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/?p=8020"},"modified":"2026-09-14T07:41:02","modified_gmt":"2026-09-14T00:41:02","slug":"dekonstruksi-relasi-kuasa-dalam-makna-makan-bergizi-dan-gratis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/2026\/09\/dekonstruksi-relasi-kuasa-dalam-makna-makan-bergizi-dan-gratis\/","title":{"rendered":"Dekonstruksi Relasi Kuasa dalam Makna Makan, Bergizi dan Gratis"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><strong>Oleh: Agung Setiawan, S.Hum, M.Hum<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sudah menjadi rahasia umum dan memunculkan ragam polemik di ranah publik, baik yang sifatnya terang-terangan maupun yang masih potensial terkait eksistensi program andalan pemerintah bernama MBG. Namun ada hal yang paling fundamental yang mungkin bisa diterima baik dari masyarakat maupun pemerintah yang sensitif terhadap kritik, bahwa secara sosio-historis kita semua bersepakat dalam setiap kata \u201cgratis\u201d selalu menyimpan biaya dan kekuasaan tersembunyi. Dari setiap manfaat selalu memiliki biaya, meskipun biaya tersebut tidak selalu terlihat. Dalam konteks ini, biaya tersembunyi tersebut dapat muncul dalam bentuk beban fiskal, biaya logistik, pemborosan makanan, kerusakan ekologis, penyeragaman pangan, risiko kesehatan jangka panjang, hingga ketergantungan sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Negara memang memiliki tanggung jawab untuk memastikan anak-anak memperoleh pangan yang layak dan bergizi. Namun, kebijakan tersebut seharusnya tidak hanya menghasilkan tubuh yang kenyang dan produktif, tetapi juga pendidikan terhadap makanan, alam, tubuh, dan komunitasnya. Oleh karena itu, program-program SDGS sebagai komitmen global termasuk di Indonesia seperti <em>Zero Hunger<\/em> dan <em>Good Health and Well Being<\/em> bisa seragam dengan <em>Quality Education<\/em> yang dalam beberapa tahun terakhir luput diberikan porsi yang selayaknya. Pendidikan awal yang perlu diseragamkan adalah pengetahuan terhadap narasi makan, bergizi dan gratis yang berkembang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Misalnya saja narasi makan merupakan sebuah kontinuitas episteme modern yang dibawa oleh kolonialisme dan industrialisasi dengan sawah, padi, dan beras dipromosikan sebagai simbol keteraturan dan kemajuan. Bersamaan dengan itu lahir mitos-mitos konsumsi modern: manusia harus makan tiga kali sehari, harus minum susu agar sehat dan kuat, dan harus mengonsumsi pangan seragam agar produktif. Makan tiga kali sehari memudahkan pengaturan jam kerja. Persoalan tersebut menjadi semakin menarik ketika kita melihat sejarah pangan terutama masyarakat nusantara dengan kebiasaan awal mengonsumsi rebus-rebusan tanpa nasi putih berlebihan, tanpa gula rafinasi, tanpa makanan ultra-proses, metabolisme bekerja secara alami. Penyakit degeneratif jarang dikenal bukan karena teknologi medis belum ada, tetapi karena tubuh belum dipaksa hidup di luar kodrat biologisnya. Mitos kolonial-industrial tersebut kemudian dilembagakan melalui berbagai pengetahuan dan kebijakan pangan, termasuk 4 Sehat 5 Sempurna. Susu ditempatkan sebagai puncak kesempurnaan, seolah tubuh semua manusia membutuhkannya, sementara keragaman pengalaman pangan masyarakat Nusantara menjadi kurang terlihat. Gizi direduksi menjadi skema, bukan pengalaman hidup. Ilusi serupa juga sedang beroperasi dalam mistifikasi MBG.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Oleh karena itu, kekuasaan negara bekerja dengan mengelola kehidupan: kesehatan, tubuh, populasi, kebiasaan, dan perilaku. Ketika negara menentukan apa yang disebut makanan bergizi, berapa jumlahnya, kapan anak makan, serta pola makan seperti apa yang dianggap sehat, dengan sendirinya tubuh menjadi objek kebijakan. Anak tidak hanya diberi makanan; ia juga secara perlahan diperkenalkan kepada sebuah standar mengenai keteraturan rezim kebenaran. Seolah masalah kesehatan dapat diselesaikan dengan satu piring makanan, tanpa meninjau ulang paradigma konsumsi yang telah lama tertanam. Pertanyaan ini bukan untuk menolak ilmu gizi, melainkan untuk menyadari bahwa pengetahuan tentang tubuh juga memiliki sejarah dan dapat menjadi dasar bagi terbentuknya rezim kebenaran. \u00a0Sehat tidak selalu berarti tiga kali sehari. Bahwa susu bukan kebutuhan universal. Jika kita ingin membangun masa depan pangan yang benar-benar sehat, maka yang perlu direbut kembali bukan hanya kebijakan, tetapi ingatan\u2014tentang tubuh, tentang alam, dan pendidikan terhadap hidup sehat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Salah satu ruang interpretasi dalam dekonstruksi narasi MBG ini adalah model dapur mandiri berbasis sekolah. Rantai distribusi yang lebih pendek dapat mengurangi pemborosan dan biaya logistik. Bahan pangan lokal dan musiman dapat mengurangi ketergantungan pada sistem produksi pangan yang seragam dan ekstraktif. Dapur sekolah juga dapat menjadi ruang pendidikan gizi: anak melihat bahwa makanan tidak tiba-tiba hadir sebagai sesuatu yang \u201cgratis\u201d, tetapi merupakan hasil kerja manusia, alam, pengetahuan, dan keputusan bersama. Keterlibatan orang tua, koperasi sekolah, dan petani lokal sekaligus memungkinkan biaya ekonomi MBG berputar kembali menjadi nilai bagi komunitas. Pada skala yang lebih dekat, kualitas makanan dan penggunaan anggaran juga relatif lebih mudah diawasi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Agung Setiawan, S.Hum, M.Hum Sudah menjadi rahasia umum dan memunculkan ragam polemik di ranah publik, baik yang sifatnya terang-terangan maupun yang masih potensial terkait eksistensi program andalan pemerintah bernama MBG. Namun ada hal yang paling fundamental yang mungkin bisa diterima baik dari masyarakat maupun pemerintah yang sensitif terhadap kritik, bahwa secara sosio-historis kita semua [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":7184,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[2527,1880,946,1703],"class_list":["post-8020","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","tag-dekonstruksi-kekuasaan","tag-kekuasaan","tag-kolonialisme","tag-mbg"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8020","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8020"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8020\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8021,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8020\/revisions\/8021"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7184"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8020"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8020"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8020"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}