{"id":8010,"date":"2026-09-08T09:33:45","date_gmt":"2026-09-08T02:33:45","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/?p=8010"},"modified":"2026-09-08T09:33:45","modified_gmt":"2026-09-08T02:33:45","slug":"turning-50","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/2026\/09\/turning-50\/","title":{"rendered":"Turning 50"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><strong>Oleh: Kartika Yulianti, Ph.D<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Yes, I turned 50 last July! Half a century! O em ji, time flies!<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ada perasaan yang berbeda ketika memasuki usia setengah abad ini. Merasa tua? Ya, sedikit. Tetapi, di Barat sana, usia segini masih dianggap muda, Kawan. Masih banyak yang bisa dilakukan. Masih banyak kesempatan untuk berkarya. Masih banyak cara untuk menikmati hidup\u2014meskipun kadang-kadang menikmatinya harus dengan menempelkan koyo di badan. Hahaha.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ketika tinggal di Amerika dan Eropa, saya sering melihat para <em>senior citizens<\/em> atau lansia tetap tampil dan beraktivitas seperti anak muda, terutama di konser-konser musik yang banyak diselenggarakan pada musim panas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Saya masih ingat sebuah konser tiga hari di Landgraaf, Belanda, pada musim panas 2016. Di konser itu, Paul McCartney menjadi salah satu penampil utama dan tampil di penghujung acara, sekitar tengah malam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Di tengah kerumunan penonton, saya melihat seorang nenek yang menarik perhatian saya. Ia mengenakan warna pink dari ujung kepala sampai ujung kaki\u2014topi pink, kaos pink, rok mini pink, stoking pink, bahkan sepatunya pun pink. Hahaha. Yang lebih menarik lagi, ia terlihat sangat bersemangat ikut bernyanyi bersama lagu-lagu The Beatles seperti <em>Hey Jude, Yesterday, Let It Be, Come Together, Here Comes the Sun,<\/em> dan <em>The End.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Melihat nenek itu, saya teringat pada Isabel Allende, seorang penulis berkebangsaan Chile-Amerika. Dalam sebuah TED Talk di Vancouver, Canada sekitar 12 tahun lalu, yang berjudul <em>How to Live Passionately \u2013 No Matter Your Age<\/em>, Isabel menyapa audiensnya yang rata-rata berusia sekitar 40\u201350 tahun dengan sapaan yang sangat menarik:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>\u201cHi, kids!\u201d<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Saya tersenyum ketika mendengarnya. <em>Kids?<\/em> Usia 40\u201350 tahun disebut <em>kids<\/em>?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Mungkin memang begitulah cara kita seharusnya memandang usia. Bertambah usia bukan berarti kita harus berhenti menjadi muda dalam semangat, berhenti berkarya, atau berhenti menikmati hidup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Speaking of Paul McCartney\u2014oh, he is just amazing!<\/em> Tahun ini, Sir Paul McCartney, anggota band legendaris The Beatles yang lahir di Liverpool, Inggris, genap berusia 84 tahun. Dan yang luar biasa, di usia tersebut beliau masih aktif melakukan <em>live performance<\/em>. Lebih luar biasa lagi, pada tahun 2024, Sir Paul bersama band pengiringnya tampil di sebuah stadion di Buenos Aires, Argentina, dan masih sanggup membawakan sekitar 40 lagu dalam waktu dua setengah jam! <strong><em>The world is such a better place with Sir Paul in it, don&#8217;t you think?<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Melihat apa yang dilakukan Sir Paul McCartney di usia 84 tahun, saya jadi semakin percaya bahwa <em>age is not about how old you are. It is about how fully you choose to liv<\/em>e. Yang penting adalah bagaimana kita menjalani dan menikmati setiap fase kehidupan. Dan kalau usia adalah sesuatu yang layak dirayakan, saya jadi penasaran\u2014apa yang kamu lakukan di hari ulang tahunmu? Kamu merayakannya tidak? Saya sendiri mulai merayakan ulang tahun secara lebih spesial ketika memasuki usia 40 tahun. <em>Life begins at 40.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ketika hendak merayakan ulang tahun ke-40, saya meminta izin kepada ibu untuk melakukan <em>skydiving<\/em><em> di sebuah kota di Belanda<\/em> <em>bersama teman-teman PhD <\/em><em>researchers<\/em><em> saya yang berasal dari Amerika Serikat, Belanda, Cina, dan Jerman<\/em>. Namun, ibu tidak mengizinkan. Katanya, \u201cAduh, kamu mau bikin ibu jantungan? Lagipula, kamu di sana sedang mengerjakan penelitian doktoralmu. Ingat tujuanmu ke sana, Nak.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Akhirnya, saya mencoba bernegosiasi dengan ibu. \u201cOK, <em>skydiving<\/em> tidak boleh. Bagaimana kalau berkuda?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ibu menjawab, \u201cKuda di sana kan tinggi dan besar. Kamu tidak takut disepak?\u201d Hahaha.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Lalu saya bilang, \u201cWaktu kami kecil sampai remaja, ayah mewajibkan kami menonton <em>Dunia Dalam Berita<\/em> di TVRI. Di segmen terakhirnya selalu ada berita olahraga internasional dan prakiraan cuaca kota-kota besar di dunia. Saat menonton Olimpiade bersama ayah, aku terpesona melihat olahraga berkuda\u2014bagaimana atlet dan kudanya bergerak begitu indah, seperti terbang. <em>Wow!<\/em> Tetapi karena berkuda adalah olahraga yang sangat mahal, aku cukup tahu diri untuk tidak pernah meminta kepada ibu dan ayah untuk belajar berkuda. Sekarang aku punya kesempatan. Kursus berkuda di sini lebih murah daripada di Indonesia. Jadi, izinkanlah aku belajar berkuda, Bu.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Akhirnya, ibu mengizinkan saya belajar berkuda. Dan ternyata, dari pengalaman belajar berkuda ini saya mendapatkan beberapa pelajaran hidup yang sangat berharga. Tapi itu cerita untuk lain waktu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Bagaimana dengan usia 50 tahun? Bagi kamu yang sudah mencapai atau bahkan sudah melewati usia ini, apa yang kamu lakukan untuk merayakannya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ketika memasuki usia 50 tahun, saya mengunjungi makam kedua orang tua saya. Saya mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah melahirkan, membesarkan, dan mendidik saya dengan cara terbaik yang mereka mampu. Al-Fatihah untuk ibu dan ayah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Lalu, kegiatan spesial apa yang saya lakukan untuk merayakan <em>golden age<\/em> ini?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>You know what, I celebrated 50 years of life by taking a leap\u2014literally\u2014with a tandem paragliding adventure!<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selama sekitar lima menit, saya bersama pilot melayang di atas perkebunan teh di Bukit Santiong, Subang, Jawa Barat. <em>What an adventure!<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Apakah saya takut? Tentu saja. Tetapi, sejak awal, saya sudah bertekad untuk menaklukkan rasa takut itu. <em>Adrenaline rush?<\/em> Sudah pasti! Seperti kata orang, \u201cngeri-ngeri sedap.\u201d Namun, saya memulainya dengan kepasrahan, dengan berserah diri. <em>\u201cBismillah, hidup matiku ada di tangan-Mu, Tuhanku.\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Begitu mendarat, saya langsung mengucap syukur, <em>\u201cAlhamdulillah, terima kasih Tuhan atas semua nikmat dalam hidup ini.\u201d<\/em> Kepada pilot, selain mengucapkan terima kasih karena sudah membantu mewujudkan impian saya, saya juga bercanda, <em>\u201cKita tadi sehidup-semati di angkasa. Lima menit saja ya sehidup-sematinya.\u201d<\/em> Hahaha.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sepulang dari <em>paragliding<\/em>, saya memeluk diri sendiri dan berkata, <em>\u201cWell done, dear me. Let\u2019s celebrate life and all that it has to offer. Let\u2019s embrace more adventures, big and small, and make the most of this beautiful journey.\u201d<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Kartika Yulianti, Ph.D Yes, I turned 50 last July! Half a century! O em ji, time flies! Ada perasaan yang berbeda ketika memasuki usia setengah abad ini. Merasa tua? Ya, sedikit. Tetapi, di Barat sana, usia segini masih dianggap muda, Kawan. Masih banyak yang bisa dilakukan. Masih banyak kesempatan untuk berkarya. Masih banyak cara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":6082,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-8010","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8010","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8010"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8010\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8011,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8010\/revisions\/8011"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6082"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8010"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8010"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8010"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}