{"id":8007,"date":"2026-09-02T17:08:35","date_gmt":"2026-09-02T10:08:35","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/?p=8007"},"modified":"2026-09-02T17:08:35","modified_gmt":"2026-09-02T10:08:35","slug":"ketika-kebenaran-diproduksi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/2026\/09\/ketika-kebenaran-diproduksi\/","title":{"rendered":"Ketika Kebenaran Diproduksi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><strong>Oleh: Cicilia Damayanti<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Belum pernah dalam sejarah manusia informasi semudah sekarang diperoleh. Dalam hitungan detik, mesin pencari, YouTube, media sosial, dan kecerdasan buatan dapat menghadirkan jawaban atas hampir semua pertanyaan. Namun semakin mudah informasi diperoleh, semakin penting pula satu kemampuan yang sering terlupakan: <strong>kemampuan untuk mempertanyakan<\/strong>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Indonesia sedang menghadapi paradoks. Informasi berlimpah, tetapi keberagaman perspektif belum tentu ikut bertambah. Algoritma memilih apa yang muncul di layar. Platform merekomendasikan konten berdasarkan kebiasaan pengguna. Media memiliki kepentingan dan keterbatasan masing-masing. Pemerintah membuat regulasi. Sementara masyarakat sendiri cenderung mencari informasi yang menguatkan apa yang sudah dipercaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam keadaan seperti ini, kita tidak hanya melihat realitas. Kita melihat realitas yang sudah ditenun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Saya menyebutnya <strong>ocular fabric<\/strong>: tenunan realitas yang terbentuk dari algoritma, media, preferensi pribadi, kepentingan, dan teknologi. Dua orang dapat hidup dalam ruang sosial yang sama, tetapi melihat Indonesia yang sangat berbeda karena informasi yang masuk ke dalam &#8220;mata digital&#8221; masing-masing juga berbeda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Masalah menjadi lebih serius ketika narasi tidak hanya dipilih, tetapi mulai diproduksi sebagai kebenaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selama beberapa tahun kita mengenal istilah <em>post-truth<\/em>: keadaan ketika emosi dan keyakinan lebih kuat memengaruhi pandangan publik daripada fakta. Kini kecerdasan buatan membawa persoalan tersebut ke tingkat yang berbeda. Narasi dapat dibuat, diperbanyak, dipersonalisasi, dan disebarkan dalam skala yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Barangkali kita sedang bergerak menuju <strong>manufactured truth<\/strong>: keadaan ketika sesuatu diterima sebagai benar karena terus diproduksi, diulang, diperkuat oleh algoritma, dan akhirnya diamini oleh banyak orang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di media sosial. Politik juga hidup dari produksi narasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Belakangan, publik Indonesia menyaksikan bagaimana bahasa kekuasaan dapat menjadi sangat keras, sementara di sekitar kekuasaan selalu ada orang-orang yang lebih cepat mengamini daripada mempertanyakan. Pada saat yang sama, sejumlah kebijakan pemerintah mengalami perubahan, penyesuaian, atau koreksi setelah mendapat tekanan publik dan pertimbangan ekonomi. Dalam politik sehari-hari, situasi seperti ini sering digambarkan dengan ungkapan sederhana: <strong>sen kanan, belok kiri<\/strong>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ungkapan tersebut sebenarnya menyimpan persoalan yang lebih serius. Bukan semata-mata tentang arah politik yang berubah, tetapi tentang bagaimana masyarakat mengetahui arah yang sebenarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pemerintah tentu berhak mengubah kebijakan ketika kondisi berubah. Bahkan kemampuan mengoreksi kebijakan merupakan bagian dari pemerintahan yang sehat. Persoalannya muncul ketika masyarakat tidak lagi terbiasa bertanya mengapa perubahan terjadi, siapa yang mengambil keputusan, apa buktinya, dan siapa yang akan menanggung akibatnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Lebih berbahaya lagi ketika budaya di sekitar kekuasaan berubah menjadi budaya mengamini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Negara membutuhkan pejabat dan warga yang mampu mengatakan &#8220;tidak&#8221; ketika sebuah kebijakan keliru. Demokrasi membutuhkan kritik, bukan sekadar tepuk tangan. Pemimpin membutuhkan orang-orang yang berani bertanya, bukan hanya orang-orang yang pandai mengatakan bahwa semua keputusan sudah benar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Di sinilah literasi memperoleh makna yang jauh lebih luas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Literasi bukan hanya kemampuan membaca buku. Literasi adalah kemampuan membaca realitas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ketika seorang presiden berbicara, masyarakat perlu mendengar sekaligus berpikir. Ketika sebuah kebijakan diumumkan, masyarakat perlu memahami sekaligus menguji. Ketika media memberitakan sebuah peristiwa, masyarakat perlu membaca sekaligus membandingkan. Ketika kecerdasan buatan memberikan jawaban, masyarakat perlu menerima informasi sekaligus mempertanyakan sumber dan dasar jawabannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pertanyaan sederhana sebenarnya sudah cukup menjadi latihan literasi: <strong>Siapa yang mengatakan? Apa buktinya? Apa yang tidak dikatakan? Apakah ada perspektif lain? Mengapa saya mempercayainya?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kebiasaan mempertanyakan inilah yang perlu menjadi budaya baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kita tidak membutuhkan masyarakat yang selalu curiga. Kita membutuhkan masyarakat yang tidak mudah percaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Perbedaannya penting.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sikap kritis bukan berarti menolak semua informasi. Sikap kritis berarti memberi kesempatan kepada informasi untuk diuji sebelum dipercaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Karena itu, upaya meningkatkan literasi di Indonesia juga perlu bergerak melampaui distribusi buku. Buku tetap penting, tetapi masyarakat hari ini belajar melalui video, podcast, media sosial, dan kecerdasan buatan. Yang perlu dibangun bukan hanya budaya membaca, tetapi <strong>budaya memeriksa, membandingkan, dan mempertanyakan<\/strong>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sebab ancaman terbesar di era <em>manufactured truth<\/em> bukan ketika masyarakat tidak memiliki informasi. Ancaman terbesar muncul ketika masyarakat memiliki begitu banyak informasi, tetapi berhenti bertanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sebuah bangsa tidak akan kehilangan kebenaran hanya karena satu informasi palsu beredar. Bahaya yang lebih besar muncul ketika kebohongan terus diulang, narasi diproduksi, kekuasaan tidak lagi dipertanyakan, dan masyarakat akhirnya menerima sesuatu sebagai benar hanya karena terlalu banyak orang mengatakannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pada akhirnya, literasi adalah keberanian untuk berkata: <strong>&#8220;Tunggu. Saya ingin memeriksanya terlebih dahulu.&#8221;<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Barangkali kalimat sederhana itulah yang paling dibutuhkan Indonesia hari ini.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Cicilia Damayanti Belum pernah dalam sejarah manusia informasi semudah sekarang diperoleh. Dalam hitungan detik, mesin pencari, YouTube, media sosial, dan kecerdasan buatan dapat menghadirkan jawaban atas hampir semua pertanyaan. Namun semakin mudah informasi diperoleh, semakin penting pula satu kemampuan yang sering terlupakan: kemampuan untuk mempertanyakan. Indonesia sedang menghadapi paradoks. Informasi berlimpah, tetapi keberagaman perspektif [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":7334,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[2522,2523,1065],"class_list":["post-8007","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","tag-manufactured-truth","tag-ocular-fabric","tag-post-truth"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8007","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8007"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8007\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8008,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8007\/revisions\/8008"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7334"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8007"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8007"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8007"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}