{"id":7898,"date":"2026-07-13T11:05:48","date_gmt":"2026-07-13T04:05:48","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/?p=7898"},"modified":"2026-07-13T11:05:48","modified_gmt":"2026-07-13T04:05:48","slug":"mengapa-mereka-sengaja-disingkirkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/2026\/07\/mengapa-mereka-sengaja-disingkirkan\/","title":{"rendered":"Mengapa Mereka (Sengaja) Disingkirkan?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><strong>Oleh: Markus Kurniawan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Liem Koen Hian, Oey Tiang Tjoei, Oei Tjong Hauw, Tan Eng Hoa, Yap Tjwan Bing kelimanya bukan tokoh dunia persilatan dalam cerita silat imajinatif karya Kho Ping Hoo atau yang dikenal juga dengan Asmaraman Sukowati. Kelimanya nama dari anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia-<em>Dokuritsu Junbi Cosakai<\/em>) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia-<em>Dokuritsu Junbi Inkai<\/em>). Kesamaan mereka berlima antara lain: Mereka keturunan Tionghoa, mereka menghendaki agar orang keturunan Tionghoa diterima sebagai bagian dari bangsa Indonesia, mereka berjuang bagi Indonesia, mereka termasuk sebagai para pendiri bangsa dan mereka sama-sama tidak pernah dihargai oleh negara Republik Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudi Latif dalam peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2018 pernah mengundang keluarga ahli waris Liem Koen Hian, Oey Tiang Tjoei, Oei Tjong Hauw, Tan Eng Hoa untuk menghadiri acara tersebut di Gedung Pancasila Pejambon. Wali kota Solo, Joko Widodo mengabadikan nama Drs.Yap Tjwan Bing sebagai nama salah satu jalan di Solo pada 2008. Tidak ada penghargaan apapun misalnya: Bintang Mahaputera apalagi pahlawan nasional. Bahkan ada upaya sebagian pihak di Indonesia untuk menghapuskan nama mereka dari catatan sejarah Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Seperti sudah disampaikan di atas bahwa ketiganya termasuk para pendiri bangsa. Di dalam rapat-rapat yang diadakan baik dalam BPUPKI maupun PPKI, sebenarnya ada lebih dari satu pandangan untuk berbagai masalah yang dibicarakan. Dua masalah yang penting dan sensitif adalah mengenai agama dan kewarganegaraan. Para keturunan Tionghoa (Anggota BPUPKI 4-PPKI 1 orang), Arab (Anggota BPUPKI-Abdoel Rahman Baswedan) serta Indo Eropa (Anggota BPUPKI-Pieter Frederic Dahler) yang hadir, memberikan perhatian besar pada masalah kewarganegaraan ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kontribusi mereka dalam sidang BPUPKI-PPKI, dapat dilihat dalam catatan resmi negara. Dalam <em>Pejambon 1945. Konsensus Agung Para Peletak Fondasi Bangsa <\/em>(2020), Daradjadi dan Osa Kurniawan Ilham, menguraikan banyak dialog para peserta sidang. Sebenarnya sudah cukup banyak literatur mengenai sumbangsih mereka dalam sejarah Indonesia, baik sebelum dan sesudah sidang tersebut termasuk juga catatan-catatan khusus mengenai mereka. Catatan khusus yang di maksud adalah yang terkait alasan mereka terkesan sengaja di pinggirkan dari sejarah bangsa ini. Saya memberikan tiga contoh saja, Lim Koen Hian, Oei Tjong Hauw dan Drs.Yap Tjwan Bing.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Liem Koen Hian, lahir di Banjarmasin 1896. Sejak mudanya giat mendukung kemerdekaan Indonesia sebagai seorang jurnalis. Ia pernah ditangkap oleh polisi Hindia Belanda karena menganjurkan boikot pertandingan speak bola yang diadakan oleh persatuan sepak bola Hindia Belanda 1932. Ia juga mengalami kekecewaan yang sangat mendalam akibat penangkapannya oleh pemerintahan kabinet Sukirman pada 1951. Pada tahun yang sama juga ia menolak menjadi warganegara Indonesia, padahal selama puluhan tahun ia merupakan orang yang gigih berjuang agar orang-orang keturunan Tionghoa yang lahir di Indonesia secara otomatis menjadi warga negara Indonesia. Pada 5 November 1952, mendapat serangan jantung dan meninggal dalam perjalanannya ke kota Medan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Oei Tjong Hauw (1904-1950), pada sidang BPUPKI kedua (10-17 Juli 1945) dengan tegas menyatakan bahwa ia memilih sebagai warganegara Tiongkok namun tetap setia dan bersedia berjuang dan bekerja keras bagi republik Indonesia. Pada pidatonya dalam sidang BPUPKI, ia mengatakan,<em>\u201d\u2026Jadi meskipun kami memilih kerakyatan Tiongkok, kita orang bersedia 100%\u00a0 untuk membantu rakyat Indonesia dalam mendirikan negara merdeka, menurut kepandaian kita. Kita tidak akan menghalang-halangi bahkan akan membantu rakyat Indonesia dengan sepenuh tenaga buat mendirikan negara merdeka\u201d,<\/em>(Daradjadi-Osa Kurniawan Ilham, <em>Pejambon 1945. Konsensus Agung Para Peletak Fondasi Bangsa<\/em>; 2020; h 245)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Drs. Yap Tjwan Bing, orang yang sepanjang hidupnya mencintai dan berjuang bagi Indonesia namun pada 10 Mei 1963 menjadi korban aksi kerusuhan rasial di Bandung yang dilakukan oleh para mahasiswa dan pemuda. Mobil yang baru di beli dibakar massa, serta bungalow yang dimilikinya dirusak oleh para pemuda. Peristiwa tersebut menimbulkan kekecewaan dan trauma pada diri sang istri. Apalagi Yap memiliki seorang anak yang menderita lumpuh akibat penyakit polio yang diderita sejak kecil. Dengan berat hati Yap melepas kewarganegaraannya dan menjadi warga negara Amerika Serikat, demi keluarga yang dicintainya. Dalam otobiografinya: <em>Meretas Jalan Kemerdekaan<\/em> (1988) semua pergulatan tersebut ditulis dengan jelas (h 79-80).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kesamaan ketiganya adalah bahwa mereka &#8211; entah karena pilihan sadar ataupun karena keterpaksaan- pada akhirnya melepas ataupun menolak kewarganegaraan Indonesia. Yang perlu diperhatikan adalah Liem Koen Hian dan YapTjwan Bing melepas kewarganegaraannya setelah kemerdekaan Indonesia. Mungkin itu yang menyebabkan mereka disingkirkan dari sejarah negara republik Indonesia ini. Tapi bagaimana dengan Tan Eng Hoa (1907-1949), ia seorang pengacara dan nasionalis sejati? Tidak ada catatan yang menyatakan bahwa ia melepas kewarganegaraannya. Yang banyak dicatat adalah sumbangsihnya yang sampai hari ini dirasakan oleh bangsa ini, yaitu terkait hak-hak sebagai warganegara yang secara tegas dicantumkan dalam konstitusi negara, yaitu kebebasan berkumpul, berserikat dan menyatakan pendapat. Mengapa juga namanya di singkirkan dalam sejarah bangsa? Apakah karena melepas kewarganegaraannya lantas mereka tidak berhak mendapatkan pengakuan dalam bentuk tanda jasa? Di negara ini mantan napi koruptor diberikan tanda jasa Bintang Mahaputera Adipradana, sedangkan pejuang bangsa justru diabaikan. Para pejuang dianggap penjahat sedangkan penjahat dipuja sebagai pahlawan, sungguh ironis.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Markus Kurniawan Liem Koen Hian, Oey Tiang Tjoei, Oei Tjong Hauw, Tan Eng Hoa, Yap Tjwan Bing kelimanya bukan tokoh dunia persilatan dalam cerita silat imajinatif karya Kho Ping Hoo atau yang dikenal juga dengan Asmaraman Sukowati. Kelimanya nama dari anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia-Dokuritsu Junbi Cosakai) dan PPKI (Panitia Persiapan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":7224,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[2440,2438,2441,2439],"class_list":["post-7898","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","tag-drs-yap-tjwan-bing","tag-liem-koen-hian","tag-oei-tjong-hauw","tag-pejuang-bangsa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7898","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7898"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7898\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7899,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7898\/revisions\/7899"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7224"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7898"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7898"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7898"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}